Pemanfaatan Teknologi Picu Anak Muda di NTT Jadi Petani

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

MAUMERE — Saat ini hampir semua wilayah di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) banyak anak muda berumur di bawah 40 tahun yang belum terjun menjadi petani dan meraih sukses.

Alumnus Politeknik Pertanian Negeri (Politani) Kupang,Yance Maring saat ditemui di kebunnya di Kelurahan Wailiti, Kota Maumere, Kabupaten Sikka, NTT, Senin (28/9/2020). Foto : Ebed de Rosary

Kekhawatiran ini membuat seorang anak muda di Kabupaten Sikka, Provinsi NTT berusaha mengembangkan pertanian berbasis teknologi agar bisa memicu atau memberi motivasi kepada generasi muda untuk terjun menjadi petani.

“Saya menciptakan sistem penyiraman dan pemupukan tanaman menggunakan aplikasi pesan pendek atau SMS dan koneksi internet untuk memudahkan penyiraman tanaman,” kata Yance Maring, petani muda di Kabupaten Sikka, NTT, Senin (28/9/2020).

Yance katakan, lahan pertanian di NTT masih luas dan banyak yang belum digarap sehingga diharapkan dengan penggunaan teknologi sistem pertanian irigasi tetes dan aplikasi di telepon genggam android memudahkan aktifitas bertani.

Ia menyebutkan, dengan penggunaan sistem penyiraman tanaman dan pemupukan berbasis pesan pendek dan internet maka untuk lahan yang luas tidak membutuhkan banyak tenaga kerja dan tenaga.

“Kalau anak-anak muda dan sarjana pertanian tidak mau terjun menjadi petani dan hanya mau bekerja di kantor saja maka dalam waktu 10 atau 20 tahun ke depan kita kesulitan mencari petani,” ungkapnya.

Yance menyebutkan, selama ini anak-anak muda berpikir menjadi petani itu harus kotor dan pendapatannya kecil, padahal dirinya mengaku hanya butuh waktu 3 bulan saja sudah bisa kembali modal.

“Saya dan beberapa teman merupakan sarjana pertanian dan kita bisa sukses menjadi petani. Dalam setahun bisa memperoleh pendapatan ratusan juta rupiah,” ujarnya.

Sementara itu Dosen Politeknik Pertanian Negeri (Politani) Kupang, Dr. Bernadeta Barek Koten, SPt, MP mengaku pihaknya selalu mendidik dan memotivasi para mahasiswa di lembaga pendidikannya agar setelah tamat kuliah bisa terjun menjadi petani.

Bernadeta menyebutkan, potensi pertanian di NTT masih terbuka lebar dan sangat berpeluang memberikan pendapatan yang menggiurkan bila dikelola dengan baik termasuk penggunaan teknologi pertanian.

“Banyak anak-anak muda yang suskes menjadi petani hortikultura karena memang pasarnya masih terbuka lebar. Selama ini banyak produk pertanian di NTT yang masih didatangkan dari luar daerah,” ucapnya.

Lihat juga...