Pemkot Semarang Imbau Warung Terapkan Layanan Bungkus

Editor: Koko Triarko

SEMARANG – Cegah kluster warung makan terulang kembali, Pemkot Semarang mengimbau agar pengelola warung makan lebih mendorong penerapan layanan bungkus dibanding makan di tempat atau prasmanan.

“Makanan yang dibungkus, relatif lebih aman dibanding makan secara prasmanan. Ini karena sewaktu makan dilakukan secara terpisah, misalnya di rumah masing-masing tanpa membuat kerumunan dengan orang lain yang belum diketahui kesehatannya,” papar Wakil Wali Kota Semarang, Heviarita, di Semarang, Minggu (13/9/2020).

Selain itu, dengan cara dibungkus dan kemudian dimakan di rumah, relatif dapat menghindarkan risiko penularan Covid-19, khususnya lewat permukaan alat makan, yang mungkin terkontaminasi, setelah digunakan secara bergantian.

Lurah Krobokan Semarang, Sarno, di Semarang, Minggu (13/9/2020). -Foto: Arixc Ardana

Di lain sisi, pihaknya juga akan lebih mendorong kedisiplinan dalam protokol kesehatan di warung makan atau pedagang kali lima.

“Berbeda dengan tempat wisata, hotel, restoran dan tempat hiburan, sudah tertata di protokol kesehatannya. Penerapan di warung-warung kecil ini rupanya terlewatkan, maka kami perintahkan untuk melakukan antisipasi ke titik-titik tersebut,” tandasnya.

Sementara, Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Abdul Hakam, menjelaskan penularan Covid-19, salah satunya melalui droplet, sehingga pelaku usaha harus hati-hati dalam memberikan pelayanan kepada pembeli atau pun sebaliknya.

“Penerapan protokol kesehatan secara displin harus terus dilakukan. Hal tersebut penting, karena penularan Covid-19 bisa dari mana saja. Sejauh ini, dari pengecekan di lapangan, penerapan prokes di warung makan memang relatif lebih longgar. Pembeli yang akan masuk juga tidak dicek suhu,” terangnya.

Di satu sisi, pihaknya juga mengimbau jika ada pekerja rumah makan yang sedang tidak sehat, baik pemilik atau pegawai, yang berinteraksi langsung dengan pembeli,  lebih baik beristirahat dan memeriksakan diri.

“Jangan dipaksakan untuk bekerja, karena bila ternyata positif Covid-19, penyebarannya bisa sangat luas, sebab dipengaruhi juga dari mobilitas pembeli,” tandasnya.

Terpisah, Lurah Krobokan, Sarno, menjelaskan warung makan Ikan Manyung Bu Fat yang menjadi kluster baru Covid-19 di wilayah Krobokan, Semarang, diakuinya meski sudah menyediakan tempat cuci tangan hingga kewajiban memakai masker, namun belum sepenuhnya disiplin.

“Warungnya selalu ramai, karena memang sudah terkenal. Banyak yang makan di tempat, kalau makan tentu masker dibuka. Sementara, tempat penuh pembeli, jadi kurang bisa menjaga jarak. Ini yang menjadi perhatian kita,” terangnya.

Terlebih setelah dilakukan swab test, ada dua orang lagi yang dinyatakan positif. Akibatnya, warung tersebut ditutup hingga 18 September 2020, dari seharusnya sudah buka kembali pada 12 September 2020.

“Saya juga mengimbau kepada masyarakat, silakan beli makanan di warung atau rumah makan, pembeli senang bisa makan makanan yang diinginkan, pengusaha atau pemilik warung juga senang bisa mendapat uang, perekonomian berjalan, namun sebaiknya jangan makan di tempat. Dibungkus saja, ini sebagai upaya pencegahan Covid-19,” tegasnya.

Sarno mengaku, di lingkungan wilayah Kelurahan Krobokan juga ada banyak warung makan lain yang cukup dikenal, sehingga selalu ramai pembeli.

“Berangkat dari kasus ini, kita juga sudah lakukan imbauan kepada para pemilik warung untuk memberikan layanan bungkus saja, dibanding makan di tempat,” pungkasnya.

Lihat juga...