Pemuda Burangkeng Ubah Lahan Kering Jadi Produktif

Editor: Makmun Hidayat

BEKASI — Sekelompok pemuda menamakan diri Persatuan Pemuda dan Remaja Desa Burangkeng Peduli Lingkungan (PRABU-PL) mengubah lahan kering menjadi lokasi tanaman produktif di Desa Burangkeng, Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

Lokasi lahan yang diubah produktif tersebut tepat berlokasi di pinggir Jalan Kiai Salim RT 002 RW 02 Kampung Cinyosog, Desa Burangkeng, bersebelahan dengan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Burangekeng. Selain dijadikan tempat pembibitan aneka cabai juga ada budidaya tanaman hias.

Selama ini, lahan tersebut terbiarkan, banyak pepohonan mengering. Tapi oleh pemuda setempat saat ini menjadi produktif  disulap menjadi lokasi pembibitan aneka jenis tanam meliputi cabai, terong tomat, bunga dan pepohonan keras sekaligus menjadi taman edukasi bernilai ekonomi.

Desa Burangkeng, berbatasan langsung dengan Bantargebang, Kota Bekasi. Di kawasan ini, sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai petani, menggarap sawah atau berkebun.

“Luas areal yang dimanfaatkan ada sekira 800 meter persegi, milik salah satu tokoh desa. Saat ini kami manfaatkan untuk pengelolaan pembibitan seperti cabai, terong, tomat, dan lainnya,” ungkap Carsa Hamdani, pemuda Desa Burangkeng sekaligus inisiator kepada Cendana News, Senin (7/9/2020).

Carsa Hamdani, inisiator dan ketua Pabu-PL, Senin (7/9/2020). -Foto: M. Amin

Carsa, mengaku motivasi awal karena kepedulian terhadap lingkungan yang berbatas langsung dengan TPA Burangkeng yang sampah datang setiap hari dari berbagai penjuru kabupaten membuat aroma tak sedap kian tajam karena rerindangan pohon di sekitar banyak habis atau hilang.

Menurutnya dipilihnya lahan yang dijadikan produktif karena masih ada sisa sedikit pohon rindang. Sehingga dibuat pos khusus dan dijadikan lahan pembibitan untuk dijual dan uangnya selain memberi benih juga untuk merapikan lahan.

“Tujuannya tak lain untuk memotivasi dan mengedukasi pemuda, remaja Desa Burangkeng agar mengenal tentang pohon, dan mengenalkan pentingnya bercocok tanam,” ungkap Carsa.

Sampai saat ini, lahan yang dikelola tersebut dibangun secara swadaya, pemuda setempat. Sampai saat ini jelasnya, belum ada campur tangan pemerintah desa ataupun daerah.  Pemerintah desa setempat diibaratkan Carsa baru sebatas melirik. Tapi tidak memudarkan semangat untuk terus memberi motivasi bagi pemuda terkait pentingnya bertani, bercocok tanam.

“Kami tetap kompak bercocok tanam dengan budidaya pembibitan aneka cabai, tomat dan terong. Kami mulai secara bertahap dari nol,” tukasnya.

Carsa, mengaku awalnya memanfaatkan lahan tersebut hanya berdua. Tapi setelah banyak yang  melihat akhirnya para pemuda turun untuk membantu. Karena manfaatnya untuk desa sendiri. Karena dari tanaman tersebut selain bermanfaat bagi lingkungan juga memberi pemasukan bernilai ekonomi.

Meski baru dua bulanan dikembangkan, Carsa, mengaku sudah ada mahasiswa yang kebetulan tengah praktik kerja nyata (KKN) datang untuk membantu pengembangan. Para mahasiswa tersebut memberi edukasi kepada anak lingkungan Desa Burangkeng, baik pendidikan maupun cara bercocok tanam.

Lihat juga...