Penerapan PSBB, Pendapatan Juru Parkir Turun Drastis

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) jilid II di wilayah Provinsi DKI Jakarta sudah mulai berangsung hari ini, Senin (14/9/2020). Terpantau, volume kendaraan di sejumlah ruas jalan mengalami penurunan.

Jalan Raya Pasar Minggu misalnya, sebelum PSBB berlaku, ruas jalan yang menghubungkan Jakarta Selatan dan Kota Depok ini hampir tidak pernah renggang, namun di masa PSBB jilid II, arus kendaraan terpantau lancar.

Situasi tersebut dirasakan dampaknya oleh para juru parkir di putaran Asrama Brimob Pasar Minggu. Menurut mereka, sejak tadi pagi, kendaraan yang melintas menurun drastis, walhasil pendapatan mereka pun berkurang.

“Dari pagi sampai siang di sini sudah lancar. Biasanya selalu macet. Tapi sekarang lancar. Pendapatan kami tukang parkir juga berkurang,” kata Bahru (27), salah seorang juru parkir di tempat itu, Senin (14/9/2020).

Bahru, Juru Parkir di putaran Asrama Brimob Pasar Minggu saat sedang bertugas mengatur lalu lintas, Senin (14/9/2020) di Jakarta. Foto: Amar Faizal Haidar

Menurut Bahru, pendapatan Juru Parkir di putaran Asrama Brimob Pasar Minggu biasanya minimal Rp200 ribu per orang dalam sehari. Namun hingga siang ini, pendapatan yang mereka terima dari hasil parkir berada di kisaran Rp20 ribu per jam.

“Itu juga untung-untungan. Jadi sehari Rp100 ribu saja udah bagus. Kita pakai sistemnya shift, satu jam ganti. Biasanya kita tugas 8 orang. Sekarang ini, 5 orang saja kebanyakan,” tukas Bahru.

Selain itu, berdasarkan pantauan Cendana News juga, sejumlah rumah makan di wilayah Pejaten, Jakarta Selatan sudah mulai mengikuti aturan PSBB. Mereka tidak membuka layanan makan di tempat, dengan kata lain, hanya bisa dibawa pulang (take away).

“Mulai hari ini manajemen kami ikut aturan pemprov DKI. Semua harus take away. Kursi dan meja sudah kami amankan,” ujar Dewi (21), penjaga Circle K Pejaten.

Suasana di Circle K Pejaten, tidak ada yang makan di tempat, Senin (14/9/2020). Foto: Amar Faizal Haidar

Sekadar informasi tambahan, Pemprov DKI Jakarta telah menerbitkan 17 aturan selama masa PSBB, seperti berikut:

1. Sistem ganjil genap ditiadakan.

2. Mobil hanya diperbolehkan mengangkut maksimal dua orang per baris, kecuali berdomisili di alamat yang sama.

3. Kapasitas transportasi umum dan taksi maksimal 50 persen, waktu operasional transportasi umum dibatasi.

4. Ojek online diperbolehkan beroperasi.

5. SIKM tidak diberlakukan.

6. Hari bebas kendaraan bermotor (HBKB) atau CFD ditiadakan.

7. Sebanyak 11 sektor usaha, kantor perwakilan negara asing, organisasi internasional, BUMN/BUMD yang turut serta dalam penanganan Covid-19, dan organisasi kemasyarakatan yang bergerak di bidang bencana diperbolehkan beroperasi dengan membatasi jumlah karyawan maksimal 50 persen.

8. Kantor atau instansi pemerintah pusat dan daerah membatasi jumlah karyawan maksimal 25 persen.

9. Pasar dan mal boleh beroperasi dengan kapasitas pengunjung maksimal 50 persen.

10. Operasional tempat hiburan, tempat rekreasi, taman kota, dan RPTRA ditutup.

11. Resepsi pernikahan, pernikahan hanya digelar di KUA atau kantor catatan sipil.

12. Fasilitas olahraga umum ditutup, olahraga hanya diperbolehkan dilakukan mandiri di rumah.

13. Sekolah ditutup, kegiatan belajar mengajar dilakukan secara online.

14. Tempat ibadah di zona merah ditutup, hanya tempat ibadah di permukiman yang boleh dibuka dengan kapasitas pengunjung maksimal 50 persen.

15. Seluruh fasilitas umum ditutup.

16. Isolasi mandiri dihapuskan, pasien Covid-19 yang menolak diisolasi mandiri di tempat-tempat yang telah ditetapkan akan dijemput paksa.

17. Restoran dan kafe hanya boleh melayani pesan antar, tidak boleh melayani dine-in.

Lihat juga...