Penerima Banpres PUM di Lamsel Terkendala Pencairan Uang

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG — Vina, salah satu penerima Bantuan Presiden atau Banpres Produktif Usaha Mikro (BPUM) mengaku belum bisa mencairkan uang di rekeningnya. Sejak 20 Agustus 2020 lalu, ia mengaku mendapat notifikasi melalui pesan singkat di telepon selulernya. SMS banking dari bank BRI tertulis BANPRES PUM Rp2.400.000.  Namun uang tersebut masih diblokir.

Ia selanjutnya mendatangi bank unit BRI di Penengahan, Lampung Selatan. Oleh petugas, warga Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan itu dianjurkan membawa buku tabungan, KTP, kartu ATM. Meski telah menandatangani surat pernyataan ia masih menunggu uang BPUM bisa dicairkan. Meski demikian ia berharap bantuan itu bisa lekas cair.

Uang bantuan sebesar Rp2,4 juta yang telah masuk rekening juga dialami oleh Antoro. Ia menerima sms banking di rekening BRI miliknya dengan kode SPAN senilai Rp2.400.000. Menerima sms tanggal 15 Agustus 2020 tiga hari kemudian ia melakukan konfirmasi dan menandatangani pernyataan penerima BPUM.

“Teller bank memastikan uang yang sudah dipindahbukukan dalam rekening namun pencairan harus menunggu, kalau sudah diverifikasi maka rekening yang diblokir bisa dibuka oleh bank sehingga uang bantuan usaha mikro bisa digunakan,” terang Antoro saat ditemui Cendana News, Selasa (1/9/2020).

Modal usaha tersebut menurutnya akan digunakan untuk pengembangan usaha. Sebelumnya ia memiliki usaha mikro pembesaran ikan dengan modal kurang dari Rp5 juta. Sebagai pemilik rekening BRI ia juga memastikan saldo setiap bulan di buku tabungan kurang dari Rp2juta. Sejumlah syarat menurutnya telah dipenuhi diantaranya KTP, NIK dan tidak pernah meminjam uang di bank.

Sebagai pelaku usaha pembesaran ikan ia menyebut butuh modal tambahan. Kerap memasok ke sejumlah usaha kuliner pecel lele ia kembali bisa menambah bibit dan pakan. Dalam kondisi yang tidak mudah imbas Covid-19 bantuan produktif sangat diperlukan olehnya. Meski belum cair ia kerap rutin mengecek di warung jasa penarikan uang tunai.

“Sejak menandatangani pernyataan penerima Banpres PUM saya rutin cek saldo namun belum bertambah di ATM,” terangnya.

Jony Effendi (kanan), salah satu pemilik usaha jasa penarikan dan penyetoran uang tunai menggunakan mesin EDC di Desa Banjarmasin, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, Selasa (1/9/2020). -Foto Henk Widi

Jony Effendi, salah satu pemilik jasa penarikan dan penyetoran uang tunai menyebut kerap didatangi warga. Semenjak bantuan Covid-19 dalam bentuk bantuan langsung tunai via ATM ia rutin kedatangan warga yang akan menarik uang tunai. Besaran uang tunai yang ditarik sebesar Rp600.000. Selain penarikan bantuan ia juga melayani warga yang akan mengambil uang.

“Bantuan produktif ikut berdampak pada usaha jasa penarikan uang tunai meski per transaksi hanya Rp5ribu namun sehari bisa mencapai puluhan orang,” cetus warga Desa Banjarmasin, Kecamatan Penengahan.

Penyedia jasa tarik tunai bernama Indah Wahyuni di Desa Bangunrejo, Ketapang ikut mendapat berkah. Selama masa pandemi Covid-19 sebagian warga menarik uang tabungan. Sebagian mendapat transferan dari keluarga yang bekerja di luar negeri. Usaha penyediaan EDC tersebut jadi rujukan warga penerima bantuan tanpa harus pergi ke bank.

Sejumlah warga yang menarik uang tunai didominasi untuk kebutuhan konsumsi dan modal. Sejumlah pedagang gorengan, jajanan pasar yang mengambil uang darinya dominan dipakai untuk tambahan modal. Sehari transaksi penarikan uang tunai berbagai keperluan memberinya keuntungan bagi usaha yang ditekuninya.

“Usaha ATM mini telah berjalan selama dua tahun,semakin banyak bantuan pemerintah menguntungkan usaha saya,” cetusnya.

Meski sejumlah warga menunggu Banpres PUM melalui Kementerian Koperasi dan UMKM, Veronica Sundari tidak memperolehnya. Pemilik usaha pembuatan kuliner tradisional itu mengaku tetap produktif dengan modal mandiri. Ia menyebut telah mendapat informasi Banpres PUM bisa didaftarkan ke Dinas Koperasi dan UMKM.

“Informas dari dinas tidak menjangkau pemilik usaha kecil yang saya tekuni dan tidak ada sms Banpres PUM seperti warga lain,” bebernya.

Meski tidak mendapat bantuan PUM yang sebagian belum bisa dicairkan usahanya tetap produktif. Pasokan bahan baku dan modal yang berputar menjadi kunci usahanya tetap berjalan. Namun ia memastikan volume produksi keripik dan berbagai jenis kue dikurangi. Sebab permintaan dari toko kue berkurang selama masa pandemi.

Lihat juga...