Pengamat: Vape tak Lebih Aman dari Rokok

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Makin berkembangnya anggapan, bahwa vape atau rokok elektrik sebagai gaya merokok yang aman, dinyatakan oleh para peneliti sebagai anggapan yang salah. Karena, pada asap vape tetap dapat mengandung nikotin, logam berat, partikulat ultra-fine maupun bahan rentan lainnya.

Pengamat Kesehatan, Dr. Maya Trisiswati, MKM., menyatakan bahwa tidak benar jika vape dianggap lebih aman dari rokok konvensional.

“Tidak benar vape lebih aman dari rokok konvensional. Bahkan dengan vape nikotin, bisa diatur dosis atau banyak nikotin oleh si perokok. Sementara, kalau untuk rokok konvensional sudah tetap,” kata Maya, saat dihubungi, Minggu (20/9/2020).

Selain itu, lanjutnya, vape juga memiliki potensi terbakar dan meledak.

Pengamat Kesehatan, Dr. Maya Trisiswati, MKM., Minggu (20/9/2020). –Foto: Ranny Supusepa

“Penelitian di Indonesia masih sangat sedikit dan saya belum tahu hasil penelitian. Yang jelas, penelitian di LN yang sudah ada, memang masih pro dan kontra,” ujarnya.

Jika alasannya menggunakan vape adalah untuk menghentikan kebiasaan merokok konvensional, lagi-lagi Maya mengungkapkan ketidaksetujuannya.

“Jika vape dianggap sebagai salah satu cara untuk berhenti merokok, saya lebih cenderung untuk  menyarankan sebaiknya mengikuti konseling berhenti merokok. Karena jika dengan vape, mungkin bisa saja berhenti merokok, tapi nantinya berpotensi ketagihan vape,” ucapnya tegas.

Walaupun tidak mengandung tembakau, menurut data vape tetap mengandung nikotin yang berpotensi mengakibatkan kecanduan. Juga mengandung propilen gilikon yang dalam bentuk uap akan berpotensi menimbulkan iritasi, terutama pada pengidap asma, asetaldehida, formalin, akrolein, timbal dan timah yang berbahaya jika dipanaskan.

Harum asap yang dihembuskan oleh pengguna vape, mengandung diasetil, yang jika terhirup berpotensi menyebabkan paru obstruktif kronis.

Maya menyebutkan, bahwa regulasi untuk rokok elektrik atau vape ini belum ada di Indonesia.

“Selama belum ada, seharusnya edukasi vape bisa diintegrasikan edukasi merokok konvensional. Tapi, rasanya tidak semua mau melaksanakan hal tersebut,” pungkasnya.

Lihat juga...