Penggemukan Sapi Lokal di Jember Bernilai Ekonomi Tinggi

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JEMBER – Sapi seringkali dianggap rojo koyo (simbol kekayaan) bagi petani di desa. Jika dijual hasilnya dianggap mampu mewujudkan kebutuhan yang lebih besar, sering pula dijadikan alternatif pemenuhan dana yang mendesak bagi pemeliharanya. Sayangnya dalam metode pemeliharaan sapi sebagai hewan ternak yang mempunyai nilai ekonomi tinggi, sebagian besar peternak di pedesaan masih mengelola secara tradisional.

Kondisi tersebut membuat Basuki Rahmat, seorang warga Dusun Karanganyar, Desa Balung Lor, Kecamatan Balung, Kabupaten Jember, melakukan metode yang sangat cepat dan otodidak dalam penggemukan sapi lokal.

“Saya hanya punya pikiran, proses penggemukan yang terjadi pada ayam potong sebanyak 100% bahan pakannya beli. Tapi bisa cepat dalam waktu tidak sampai dua bulan. Ini yang coba saya terapkan pada sapi dengan keunggulan bahan pakan masih bisa disubtitusi oleh alam, sehingga beban biaya pakan bisa ditekan hingga 50%, jika dibandingkan dengan beternak ayam potong,” papar Basuki Rahmat yang biasa dipanggil Cak Abas kepada Cendana News, Senin (21/9/2020).

Dengan memanfaatkan pekarangan di belakang rumah yang dijadikan kandang ternak sapi dengan kapasitatas 10 ekor sapi, Cak Abas memulai beternak sapi lokal (sapi pedesaan campuran jenis limousin dan metal) yang digeluti sejak 2019 awal dengan cara membeli sapi jantan yang kondisinya siap secara usia, meskipun postur tubuhnya kurus.

“Selain harganya sangat murah, sapi yang posturnya bagus tapi kurus itu, sebenanya sudah siap dijagal (disembelih untuk dijual dagingnya). Namun karena kondisinya kelihatan kerempeng, penjual daging (jagal sapi) enggan membeli,” ungkap Cak Abas.

Dengan menjalani kehidupan di desa, Cak Abas yang berasal dari Kota Jember tersebut sangat mudah mendapatkan sapi siap jadi. Untuk digemukkan dari warga sekitar Kecamatan Balung yang rata-rata memiliki rojo koyo sapi selama 1,5 tahun berjalan.

“Rata-rata petani di sini banyak yang punya sapi, kalau pas momennya mereka juga menawarkan ternak sapinya ke saya untuk dijual,” imbuhnya.

Metode penggemukan yang ditempuh Cak Abas relatif singkat dan prosesnya otodidak. Hewan ternak sapi yang dijadikan bahan berupa sapi jantan rata-rata berusia 1-2 tahun. Dalam waktu dua bulan masa penggemukan sudah siap dijual kembali.

“Kalau prosesnya masih tergolong umum, cuma saya sangat menekankan keseimbangan nutrisi dengan kombinasi rumput gajah, dedak, dan ampas tahu. Kalau perlu kita godok juga kedelai untuk mempercepat penggemukan,” ulasnya.

Dengan membeli sendiri sapi yang kurus, Cak Abas juga membuka peluang kepada beberapa temannya yang tertarik untuk ikut patungan dengan metode bagi hasil.

“Maksimal harga yang kita beli untuk digemukkan berkisar Rp 13 juta paling mahal, dengan patokan biaya perawatan dan tenaganya maksimal Rp 2 juta per bulan,” rincinya.

Dalam penjualan hewan ternak sapi yang telah digemukkan, Cak Abas menempuh dua momentum. Pertama momentum hari raya kurban dan momentum Idulfitri. Dengan sistem harga hewan kurban dan sistem harga jagal sapi.

“Kalau pas momen kurban harga kisarannya antara 25 sampai 28 juta, beda dengan harga jagal yang kisaran harganya menyesuaikan harga daging. Tapi jualnya jangan ke makelar pasti harganya sangat jauh,” tambahnya.

Cak Abas juga mengakui, dalam proses penggemukan dirinya hanya melakukan rentang waktu maksimal dua bulan lamanya. Jika lebih dari itu akan terjadi pembengkakan biaya operasional.

“Tahun kemarin, saya jual tiga ekor sapi ke jagal laku 85 juta, dengan masa penggemukan 2 bulan dan harga awal sapi kisaran 13 juta. Serta biaya operasional 2 juta per bulan. Jadi dalam satu bulan, saya bisa mendapat keuntungan 6 juta untuk satu ekor yang saya gemukkan secara otodidak,” pungkasnya.

Lihat juga...