Penggunaan Pupuk Organik Selamatkan Lingkungan dari Kerusakan

Editor: Koko Triarko

SEMARANG – Penggunaan pupuk kimia dan pestisida sintetis secara berlebihan, dapat merusak tanah dan menimbulkan pencemaran lingkungan. Terlebih, masih banyak petani, termasuk di Kota Semarang, yang hanya mengandalkan naluri dan pengalaman dalam menggunakan pupuk.

“Masih banyak yang beranggapan, bahwa makin banyak pupuk yang diberikan, akan makin baik pula efeknya terhadap hasil pertanian. Padahal, ini keliru. Pola pikir ini yang harus diubah,” papar Kepala Dinas Pertanian Kota Semarang, Hernowo Budi Luhur, saat ditemui di Semarang, Rabu (30/9/2020).

Dipaparkan, penggunaan pupuk yang berlebihan, khususnya penggunaan pupuk kimia, dapat mengakibatkan kerusakan tekstur tanah. Sisa-sisa pupuk kimia tersebut akan terus menerus terendap, sehingga menghambat unsur hara yang ada. Bahkan jika teralirkan ke sungai, dapat menimbulkan pencemaran air.

Kepala Dinas Pertanian Kota Semarang, Hernowo Budi Luhur, saat ditemui di Semarang, Rabu (30/9/2020). –Foto: Arixc Ardana

“Itu sebabnya, kita mendorong agar petani memanfaatkan pupuk organik, termasuk menggunakan pestisida nabati dalam menjaga lingkungan. Termasuk dapat meningkatkan nilai jual produk yang dihasilkan, karena berasal dari pertanian organik,” jelasnya.

Hernowo menjelaskan, untuk membuat pupuk organik atau pestisida nabati, relatif mudah dan bisa diterapkan di berbagai jenis tanaman dan lahan pertanian. Termasuk dengan memanfaatkan gulma tanaman, yang selama ini hanya dibuang.

Misalnya, Plant Growth-Promoting Rhizobacteria (PGPR) sebagai perangsang pertumbuhan tanaman dan meningkatkan ketahanan terhadap jamur dan patogen.

Untuk membuatnya, dibutuhkan akar bambu, putri malu, serta akar rumput gajah. Bahan tersebut kemudian direndam dalam air selama kurang lebih 24 jam. Untuk memperbanyak, diperlukan bekatul, terasi, kapur sirih, gula jawa serta air bersih. Semua bahan tersebut kemudian difermentasi.

“Penggunaannya bervariasi, sesuai kebutuhan, di antaranya dengan mencampur 1 liter PGPR ke dalam 1 tangki dan disemprotkan ke lahan yang belum ditanami, dan diulangi penyemprotan setiap 20 hari sekali,” jelasnya.

PGPR ini dapat digunakan pada berbagai tanaman, baik tanaman padi, kedelai, sayuran, buah-buahan maupun tanaman hias.

Contoh lainnya, pembuatan trichoderma sebagai pupuk alami atau agen hayati pengganti pupuk kimia, untuk mengatasi patogen jamur dengan memanfaatkan jenis jamur lainnya.

Lebih jauh, Hernowo menjelaskan, pembuatan pupuk organik bisa disesuaikan dengan kebutuhan tanaman. Termasuk juga dengan penggunaan pestisida nabati, jauh lebih ramah lingkungan dibanding pestisida sintetis.

“Terlebih pada saat ini, dengan kelangkaan pupuk bersubsidi, bisa menjadi momen bagi para petani kita untuk beralih pada pupuk organik. Sejauh ini, sudah banyak kelompok tani di Kota Semarang yang berhasil menerapkan pertanian organik. Termasuk untuk tanaman padi hingga beras merah. Salah satunya di gapoktan Purwosari Mijen,” ungkapnya.

Sementara, salah satu petani organik di Kota Semarang, Yohanes Jehamui, mengakui jika selama ini masih ada kekhawatiran jika pupuk organik atau pun pestisida nabati, tidak seefektif pupuk kimia atau pestisida sintesis.

“Anggapan tersebut tidak benar. Justru dengan penggunaan pupuk organik dan pestisida nabati, hasilnya tetap berlimpah. Harga jual produk justru makin naik, karena tidak memakai bahan kimia. Selain itu, kelestarian alam juga terjaga dari bahaya penggunaan bahan kimia yang berlebihan,” tandasnya.

Dirinya mencontohkan, menggunakan sampah organik rumah tangga sebagai pupuk tanaman. Mulai dari sisa sayur, kulit buah, nasi basi serta sampah organik lainnya, dengan syarat tidak bercampur dengan minyak goreng. Termasuk juga bahan-bahan seperti batang pisang, lidah buaya, sabut kelapa, daun lamtoro, dan daun kaliandra.

“Semuanya dicacah hingga kecil-kecil, setelah itu direndam dengan air bekas cucian beras. Proses fermentasi ini selama 21 hari, jika sudah jadi, ditandai dengan bau yang menyengat, pupuk organik ini bisa digunakan. Penggunaan pupuk organik ini cocok untuk beragam sayur mayur atau tanaman lainnya, agar tumbuh subur,” pungkasnya.

Lihat juga...