Persepsi Kecantikan Dorong Penggunaan Bahan Merkuri pada Perawatan Kulit

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

Dokter Mayagustina Andarini, Apt, Msc saat talkshow kecantikan, Kamis (17/9/2020) - Foto Ranny Supusepa

JAKARTA — Kecenderungan menggunakan bahan perawatan atau kosmetika yang mengandung merkuri, mayoritas didorong oleh persepsi masyarakat tentang apa itu kecantikan. Tanpa memperdulikan efek negatif pada tubuhnya.

Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional Suplemen Kesehatan dan Kosmetik BPOM dr. Mayagustina Andarini, Apt, Msc menjelaskan, ada bahan kosmetik yang berbahaya bagi penggunanya. Yaitu yang mengandung merkuri atau Hydragyrum.

“Merkuri ini berbentuk cairan logam atau perak dalam keadaan alami dan suhu kamar. Zat ini tidak berbau, mengkilap dan menguap pada suhu 37 derajat Celcius. Zat ini sering ditemukan pada produk kosmetik dan perawatan kulit karena mampu memutihkan kulit penggunanya dalam waktu relatif singkat,” kata Mayagustina saat talkshow kecantikan, Kamis (17/9/2020).

Penggunaan zat merkuri ini, menurutnya, didorong oleh persepsi masyarakat yang memberikan standar kecantikan adalah seseorang atau wanita dalam hal ini, adalah yang berkulit putih.

“Ini yang mendorong, wanita Asia yang cenderung memiliki warna kulit coklat mengupayakan untuk menjadi putih. Padahal orang Eropa yang notabene kulitnya putih, seringkali berjemur untuk mendapatkan kulit yang berwarna coklat, karena mereka pikir itu eksotis. Nah, di Indonesia malah tidak mau terkena sinar matahari karena takut kulitnya menjadi coklat atau hitam,” urainya.

Persepsi ini akhirnya mendorong market perawatan tubuh dan kosmetika yang mengandung zat pemutih, hingga tercatat pada tahun 2018 penjualan produk dengan zat pemutih ini mencapai Rp283 triliun di Asia.

“Memang ada yang aman. Tapi, mostly itu mengandung merkuri. Padahal kosmetik itu sendiri adalah alat bantu untuk membersihkan, mewangikan, mengubah penampilan, memperbaiki bau badan, melindungi dan memelihara tubuh pada kondisi baik. Merkuri ini dilarang dalam produk kosmetik karena bisa menyebabkan kondisi yang tidak baik. Jadi jika ada yang mengandung merkuri, itu artinya illegal,” ujarnya.

Artis terkenal Dhini Aminarti menyatakan sebagai seorang public figure, dirinya memang sering ditawarkan untuk mengendorse produk. Salah satunya adalah kosmetika.

“Tapi saya itu orangnya sangat selektif sekali. Sehingga jika ditemui pada komposisinya, ada zat yang dianggap tidak aman bagi dirinya, maka dirinya biasanya menghindari untuk menjadi endorse-nya. Biasanya memang saya akan searching dahulu terkait produk yang ditawarkan kepada saya,” ujarnya.

Ia menyatakan sebagai perempuan, harus pintar memilih produk yang tepat bagi tubuh. Dalam artian tidak membahayakan diri pengguna.

“Kalau kita menggunakan barang berbahaya, misalnya merkuri yang bisa menyebabkan kanker, artinya kita tidak memikirkan keluarga, orang yang disayangi. Karena jika terkena kanker, maka akan sibuk untuk mengurusi diri sendiri, bukannya mengurus keluarga. Jadi harus dipikirkan tentang keluarga,” ujarnya.

Ia menekankan, seharusnya bukan putih yang menjadi tujuan para wanita tapi adalah kulit yang cerah.

“Harus dilihat trigger-nya apa. Mengapa mereka ingin putih. Biasanya, mereka ingin putih karena melihat orang yang mereka idolakan, yang mungkin kulitnya putih. Sehingga mereka ingin juga, bahkan hingga mengeluarkan biaya besar dan menggunakan obat apa saja. Disini pentingnya kepintaran sebagai perempuan, yang menimbang produk terbaik bagi diri sendiri,” tandasnya.

Lihat juga...