Petani di Padang Kesulitan Jual Gabah dan Beras

Editor: Koko Triarko

PADANG – Meski telah memperoleh hasil panen yang cukup bagus, petani di Kota Padang, Sumatra Barat, tidak bisa menjual gabah kering dalam jumlah besar.

Zainal, petani di Padang, mengatakan, tahun ini hasil produksi panen masyarakat terbilang sangat bagus. Bahkan, persoalan hama yang melanda tanaman padi pada tahun lalu tidak lagi terjadi di 2020 ini.

“Tahun lalu itu persoalannya ada panen merugi karena hama. Kalau sekarang panennya bagus, cuma untuk menjual hasil panen ini yang sulit. Jika pun ada, seperti dibatasi,” katanya, Senin (7/9/2020).

Kepala Bulog Wilayah Sumatra Barat, Tommy Despalingga, di kantornya beberapa waktu yang lalu/ Foto: M. Noli Hendra

Sementara untuk menjual hasil panen dalam bentuk beras, nilai jualnya dalam kondisi Covid-19 ini cukup murah. Harga tertinggi hanya Rp10.000 per kilogram, dan itu sudah termasuk beras kelas medium.

“Saya melihat memang permintaan beras di pasaran sekarang yang lagi turun,” sebut dia.

Sementarai itu, Badan Urusan Logistik (Bulog) Wilayah Sumatra Barat, menyatakan total serapan beras lokal komersil yang dilakukan pihaknya sejak Januari hingga Agustus 2020 masih berada di angka 2.000 ton.

Kepala Bulog Wilayah Sumatra Barat, Tommy Despalingga, mengatakan ada kemungkinan angka serapan itu tidak banyak berubah sampai akhir tahun mendatang. Hal itu disebabkan landainya serapan beras lokal, dipengaruhi permintaan beras di pasaran yang mengalami penurunan.

“Beras komersil yang kita beli dari petani lokal, sampai saat ini masih jalan. Tapi, serapannya tidak banyak. Kami juga menyesuaikan dengan permintaan pasar. Kalau kami beli dalam jumlah banyak, sedangkan permintaan di pasar lesu, tentu perputaran uang kami yang nanti terganggu,” katanya.

Menurut Tommy, hal tersebut juga erat kaitannya dengan kebijakan pemberian bantuan sembako pada masyarakat di masa pandemi, sehingga tidak banyak warga yang membeli beras di pasaran.

“Target kami tahun ini mampu menyerap 14 ribu ton beras komersil. Tapi rasanya target itu belum bisa dicapai, karena kondisi pandemi juga mempengaruhi,” jelasnya.

Tommy menyebutkan, beras lokal yang diserap untuk dijual secara komersil oleh Bulog Sumatra Barat, rata-rata dibeli dari petani di daerah Solok, Bukittinggi, dan Pesisir Selatan.

“Harga beli ke petani bermacam-macam, tergantung kualitas berasnya juga. Kisarannya di harga Rp10 ribu sampai Rp12 ribu, bebernya.

Lihat juga...