Petani Kopi Kelimutu-Ende Berharap Harga Jual Lebih Baik

Editor: Koko Triarko

ENDE –  Sejak zaman dahulu, warga Desa Niowula, Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur, sudah menanam kopi di wilayah sekitar Taman Nasional Kelimutu, yang berbatasan dengan Danau Kelimutu.

Kopi Arabika yang yang biasa dikenal dengan sebutan Kopi Kelimutu ini, perlu dikembangkan dan dikemas menjadi sebuah produk yang bernilai jual, sehingga bisa mendatangkan pendapatan bagi masyarakat.

“Kopi arabika di Niowula perlu dikembangkan menjadi sebuah kemasan, agar bisa memberikan pendapatan bagi masyarakat di desa,” kata Hironimus Minggu,warga Desa Niowula, Sabtu (5/9/2020).

Nimus mengakui, sejak zaman dahulu warga Dusun Wolomoni, telah menanam kopi di dalam lahan di sekitar Taman Nasional Kelimutu yang merupakan tanah ulayat warga di desanya.

Warga Desa Niowula,Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende, NTT, Hironimus Minggu, saat ditemui di kantor Yayasan Tananua Flores, Sabtu (5/9/2020). -Foto: Ebed de Rosary

Ia mengaku, kopi hasil panen saat ini ada yang berasal dari pohon yang sudah berusia puluhan tahun, dan ada juga masyarakat yang mulai menanam kembali untuk peremajaan.

“Kopi dari petani biasanya dijual ke pedagang pengumpul di Kota Ende. Di desa kami juga banyak terdapat durian yang rasanya juga enak, karena dekat dengan wilayah gunung berapi,” ungkapnya.

Hubertus Pango, ketua kelompok swadaya masyarakat desa Niowula menyebutkan, kelompok petani kopi di desanya sebanyak 37 orang yang menggarap lahan di sekitar Taman Nasional Kelimutu.

Menurut Hubertus, pihaknya pun sudah mendapatkan persetujuan dari pihak pengelola Taman Nasional Kelimutu untuk menanam kopi di lahan yang masuk kawasan Taman Nasional Kelimutu yang dulu merupakan tanah masyarakat.

“Setelah ada kesepakatan, kami diperbolehkan menggarap lahan di kawasan Taman Nasional Kelimutu yang sudah sejak dahulu digarap leluhur kami.Total lahan yang diizinkan seluas 19.6 hektare,” jelasnya.

Hubertus mengakui, para petani menanam kopi secara besar-besaran sejak 1994 dengan jenis arabika, dan hasil panennya dijual petani ke pembeli di Kota Ende. Namun, harga jualnya masih sangat redah.

Dirinya berharap, agar hasil produksi kopi dari petani bisa dijual ke luar Kabupaten Ende dengan harga yang lebih mahal, agar para petani bisa mendapatkan penghasilan yang lebih besar.

“Jarak kebun kopi dengan perkampungan bisa mencapai 3 kilometer, sehingga warga sulit membawa kopi hasil panen dalam jumlah banyak. Tidak ada jalan, sehingga tidak bisa menggunakan kendaraan bermotor,” tuturnya.

Lihat juga...