Pokmaswas Pedan Wutun Flotim Kembali Lepas Tukik

LARANTUKA – Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Pedan Wutun di Kelurahan Ritaebang, Kecamatan Solor Barat, Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur, kembali melepas ratusan ekor tukik yang menetas.

Tukik-tukik tersebut diambil dari lokasi penangkaran milik Pokmaswas ini di pesisir pantai berpasir putih Ritaebang, di mana telur-telur penyu yang ditetaskan hampir semuanya menjadi tukik.

“Kemarin akhir Agustus kami dua kali melepas ratusan ekor tukik lagi ke laut lepas di Pantai Ritaebang, di lokasi penangkaran,” kata Kristoforus Werang, Ketua Pokmaswas Pedan Wutun, Rabu (2/9/2020).

Kristo, sapaannya, mengatakan, tanggal 27 Agustus 2020 pukul 16.30 WITA pihaknya telah melepas 165 tukik, sementara keesokan harinya tanggal 28 Agustus 2020 kembali dilepas 63 tukik.

Ketua Pokmaswas Pedan Wutun, Kelurahan Ritaebang, Kecamatan Solor Barat, Kabupaten Flores Timur, NTT, Kristoforus Werang, Rabu (2/9/2020). -Foto: Ebed de Rosary

Ia menjelaskan, kebanyakan tukik yang dilepas merupakan jenis penyu hijau, di mana telur-telur penyu tersebut diambil di beberapa lokasi penyu bertelur di sepanjang Pantai Ritaebang saat malam hari.

“Kami sejak 2016 selalu melakukan aktivitas pencarian telur penyu saat musim penyu bertelur sekitar bulan April. Setiap malam kami berkeliling di sepanjang pantai mencari sarang telur penyu,” ungkapnya.

Kristo menjelaskan, untuk wilayah Pulau Solor selain kelompok mereka, ada sebuah Pokmaswas Jalur Gaza di kecamatan Solor Selatan yang juga melakukan penetasan telur penyu dan pelepasan tukik.

Ia berharap, segenap anggota yang memiliki beragam profesi bisa mendapatkan bantuan dari pemerintah untuk menunjang usaha mereka, mengingat aktivitas konservasi penyu dilakukan secara sukarela.

“Selama ini, memang kami belum banyak mendapatkan bantuan dari pemerintah, baik aktivitas konservasi penyu maupun terkait dengan bantuan buat usaha. Tapi kami tetap bekerja melakukan konservasi penyu,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Kantor Misool Baseftin Flores Timur, Evi Ojan, yang aktif mendampingi berbagai Pokmaswas di Flores Timur mengaku pihaknya pun tidak memiliki banyak dana untuk membantu Pokmawas.

Evi menyebutkan, pihaknya hanya memberikan bantuan telepon genggam kepada Pokmaswas, agar bisa membuat laporan terkait pengawasan laut di wilayahnya dari aktivitas destructive fishing, dan hewan laut yang terdampar, mati atau terkena jaring nelayan.

“Adanya Pokmaswas yang aktif membuat aktivitas pengeboman ikan mulai tidak ditemukan. Selain itu, mereka juga sangat membantu memberikan laporan adanya ikan dan mamalia laut yang terdampar atau terkena jaring nelayan,” ungkapnya.

Lihat juga...