Profesor ini Ajarkan Pendidikan Konservasi lewat Tembang

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

SEMARANG- Ada banyak cara yang bisa dipilih dalam menyampaikan materi pembelajaran. Salah satunya dengan penggunaan lagu. Hal tersebut dilakukan guru besar Undip Profesor Sriyana untuk mengajarkan pendidikan konservasi kepada mahasiswa dan masyarakat.

“Harus kita akui, bahwa kesadaran masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan ini relatif menurun. Untuk itu perlu kita ingatkan kembali, sekaligus mengajak mereka untuk menjaga lingkungan sekitar dalam pendidikan konservasi,” paparnya, saat ditemui di kampus Undip Tembalang, Semarang, Kamis (17/9/2020).

Di satu sisi, jika ajakan tersebut hanya disampaikan secara formal, seperti penyebaran pamflet atau spanduk, dirinya menilai kurang mengena sebab mereka tidak terlibat langsung.

“Untuk itu, saya coba mengajak masyarakat, termasuk para mahasiswa Undip, untuk menjaga kelestarian lingkungan, lewat tembang atau lagu. Ada setidaknya empat lagu, yang saya ciptakan dan berisi sebagai ajakan sekaligus edukasi  tentang pelestarian lingkungan,” tambah guru besar Fakultas Teknik Undip tersebut.

Dicontohkan dalam lagu karyanya berjudul Waduk Diponegoro- Waduk Pendidikan dirinya mengajak masyarakat untuk menjaga hulu bendungan dengan menanam pohon. Kemudian membuat biopori agar bendungan tersebut terjaga.

Selain itu, Prof. Sriyana juga mengajak untuk jangan membuang sampah sembarangan, hingga membuat sumur resapan. Pesan-pesan tersebut, kesemuanya masuk dalam lirik lagu tersebut.

Selain lagu Waduk Diponegoro- Waduk Pendidikan, dirinya juga menggunakan lagu lain, yang juga hasil ciptaannya, untuk menyampaikan edukasi konservasi.

“Ada empat lagu lainnya, seperti Menanam Susu atau sak wong selawe uwit (satu orang 25 pohon). Jadi selama hidup orang itu kita minta untuk menanam 25 pohon. Kemudian ada lagi judulnya Sari, atau sak meter loro biopori (satu meter dua lubang biopori), serta Sopan, sak omah siji sumur resapan (satu rumah satu sumur resapan),” lanjutnya.

Dijelaskan, lewat lagu-lagu tersebut, dirinya berharap kesadaran masyarakat tentang pendidikan konservasi bisa terus meningkat. “Ketika lagunya didengar, kemudian dinyanyikan, dimengerti pesan yang dimaksudkan, harapannya mereka ini akan melakukan pesan yang ada di dalam lagu tersebut,” tandasnya.

Prof. Sriyana menambahkan berbagai lagu konservasi tersebut, juga bisa diunduh atau didengarkan lewat akun youtube miliknya, Das Uripku.

Tidak hanya itu, dirinya juga mengajak masyarakat untuk melakukan gerakan Siluri Berhutang, atau modifikasi lubang biopori berbasis rumah tangga.

“Saat ini, banyak lubang biopori yang tidak dikelola dengan baik, asal sudah dibuat ya sudah. Padahal fungsinya penting, selain untuk menyerap air agar tidak banjir, juga bisa untuk pengelolaan sampah organik,” terangnya.

Lewat gerakan tersebut, dirinya mengajak untuk melakukan modifikasi dalam pembuatan lubang biopori. Setelah tanah dilubangi dan paralon ditutup, juga ditambahkan lubang di tengah atau paralon di tengah, untuk mempercepat penyerapan air ke dalam tanah.

“Diameternya minimal 3/4 inch, jika tidak diberi tambahan lubang di tengah penyerapan air ke dalam tanah cukup lama. Selain itu, kenapa saya ajak rumah tangga, sebab banyak sampah yang dihasilkan dari sektor rumah tangga. Harapannya, mereka ini nantinya bisa mengelola sampah yang dihasilkan,” tandasnya.

Harapan senada juga disampaikan Dekan Fakultas Teknik Undip, Prof. Agung Wibowo. Menurutnya, ada banyak cara yang bisa dilakukan dalam memberikan edukasi kepada mahasiswa atau pun masyarakat, termasuk langkah Prof. Sriyana dengan memanfaatkan lagu dalam penyampaian pendidikan konservasi.

“Ini menjadi terobosan yang unik dan menarik, bisa disampaikan bahwa pendidikan juga bisa diberikan melalui seni budaya, termasuk lagu. Harapannya, tentu pesan yang disampaikan bisa lebih mengena kepada audiens, termasuk mahasiswa dan masyarakat, sehingga mereka melakukan langkah-langkah konservasi lingkungan, seperti pesan lagu tersebut,” tandasnya.

Lihat juga...