Prokes di Pelabuhan Bakauheni dan Kapal Angkutan, Diperketat

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG — Captain Solikin, General Manager PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Utama Bakauheni, Lampung Selatan menyebut memberlakukan pengetatan protokol kesehatan (Prokes). Mengacu surat edaran Gugus Tugas Nomor 7 Tahun 2020 tentang kriteria persyaratan perjalanan orang dalam masa adaptasi kebiasaan baru.

Sebelumnya kewajiban rapid test diberlakukan bagi setiap penumpang kapal. Namun dalam masa adaptasi kebiasaan baru kewajiban rapid test diperlonggar. Keputusan terkait kebijakan kesehatan disebut Captain Solikin mengikuti petunjuk Dinas Kesehatan Provinsi Lampung. Meski tidak mewajibkan rapid test, prokes diperketat saat di pelabuhan dan kapal.

Pengetatan prokes sebut Captain Solikin diterapkan dengan kewajiban memakai masker, jaga jarak, cuci tangan, membawa sabun. Pengguna jasa yang akan menyeberang tanpa memakai masker akan ditolak dan wajib bermasker. Fasilitas wastafel cuci tangan telah disiapkan pada dermaga reguler dan terminal eksekutif.

“Koordinasi dengan unsur kepolisian, Dinas Kesehatan, Balai Pengelola Transportasi Darat dilakukan untuk memperketat prokes pada wilayah kerja masing-masing mulai dari pintu masuk hingga di atas kapal,” cetus Captain Solikin saat dikonfirmasi Cendana News, Jumat (25/9/2020).

Captain Solikin, General Manager PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Bakauheni saat dikonfirmasi, Jumat (25/9/20200). -Foto Henk Widi

Pencegahan cluster Covid-19 pada lingkungan kapal dan pelabuhan, ujarnya telah diperketat. Hal tersebut menyusul adanya kru kapal Portlink yang dinyatakan reaktif Covid-19. Kapal sementara dihentikan operasinya dan kru diminta melakukan isolasi mandiri hingga batas waktu yang ditentukan. Pengetatan prokes kapal diberlakukan pada kapal ASDP dan kapal swasta.

Sejumlah kapal, ujarnya, wajib menyediakan alat cuci tangan, hand sanitizer. Tempat duduk bagi penumpang wajib diberi tanda pemisah dan proses disinfeksi rutin dilakukan sebelum penumpang naik kapal. Rencana DKI Jakarta yang akan memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar tahap dua membuat pengetatan prokes ditingkatkan.

“Kami menerapkan aturan Kementerian Perhubungan terkait batasan penumpang hanya diisi 50 persen dari kapasitas angkut kapal,” cetusnya.

Suwoyo, koordinator Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas II Panjang wilayah kerja Bakauheni menyebut penumpang tidak wajib rapid test. Namun bagi penumpang yang akan menyeberang diwajibkan menerapkan prokes yang telah ditentukan. Meski kewajiban penumpang mengunduh aplikasi Kartu Kewaspadaan Kesehatan Elektronik (e-HAC) dijumpai banyak yang tidak memiliki.

“Penumpang yang memiliki smartphone sudah disosialisasikan agar memiliki kartu kewaspadaan kesehatan terutama yang memiliki mobilitas tinggi,” cetusnya.

Setiap penumpang yang berasal dari zona merah penyebaran Covid-19 akan lebih mudah di-tracing terkait perjalanan yang dilakukan. Meski memperketat prokes, Suwoyo menyebut penumpang tak lagi diwajibkan melakukan rapid test. Pasalnya pelaksanaan rapid test dikeluhkan penumpang karena harus mengeluarkan biaya ratusan ribu.

Aminah, pelaku perjalanan asal Lampung Timur tujuan Merak mengaku menerapkan prokes. Ia memakai masker dan membawa hand sanitizer. Meski memiliki balita perjalanan terpaksa dilakukan olehnya untuk pengurusan dokumen. Ia menyebut berusaha menghindari perjalanan dalam suasana pandemi Covid-19. Menjaga kesehatan dilakukan olehnya dengan menjaga jarak dengan orang lain.

“Usai melakukan perjalanan saya langsung mandi dan berganti pakaian termasuk balita saya,” cetusnya.

Pelayanan kapal sebutnya cukup baik sebab bagi wanita yang membawa serta anak dan balita diberi ruang khusus. Ruangan khusus tersebut memiliki fasilitas memadai yang nyaman. Penyiapan hand sanitizer dilakukan oleh pengelola kapal sehingga penumpang tetap bisa menjaga kesehatan.

Lihat juga...