Pupuk Urea Mulai Langka di Kabupaten Purbalingga

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

PURBALINGGA — Ketersediaan pupuk urea bersubsidi di wilayah Kabupaten Purbalingga mulai kritis dan sudah terjadi kelangkaan pada beberapa kecamatan. Padahal para petani masih membutuhkan pupuk tersebut untuk pemupukan kedua maupun untuk tanaman padi yang baru ditanam.

Kepala Dinas Pertanian (Dinpertan) Kabupaten Purbalingga, Mukodam di Purbalingga, Senin (28/9/2020). (FOTO : Hermiana E.Effendi)

Kepala Dinas Pertanian (Dinpertan) Kabupaten Purbalingga, Mukodam mengatakan, kelangkaan pupuk urea ini karena alokasi untuk 2020 ini menurun dibanding tahun sebelumnya. Tahun ini alokasi pupuk urea hanya 10.000 ton, sedangkan tahun lalu sampai 11.880 ton.

“Posisi saat ini serapan pupuk urea sudah hampir 100 persen, sehingga terjadi kelangkaan, padahal untuk masa tanam (MT) II ini petani masih membutuhkan pupuk,” jelasnya, Senin (28/9/2020).

Untuk mengatasi kelangkaan pupuk urea tersebut, Dinpertan Kabupaten Purbalingga mengupayakan dengan melakukan relokasi pupuk antarkencamatan. Dimana stok yang masih ada pada kecamatan tertentu, digeser ke kecamatan lain yang sangat membutuhkan urea. Namun, langkah tersebut juga hanya merupakan solusi sementara saja.

“Kita juga sudah mengusulkan penambahan alokasi pupuk bersubsidi kepada Dinas Pertanian dan Perkebunan (Dintanbun) Propinsi Jawa Tengah,” katanya.

Selain itu, guna memenuhi kebutuhan pupuk petani pada MT II ini, seluruh kios pupuk lengkap (KPL) juga diminta untuk menyediakan pupuk non subsidi, sebagai alternatif untuk memenuhi kebutuhan pupuk petani. Para petani juga diminta untuk menggunakan pupuk secara hemat, sesuai dengan anjuran dosis pemupukan, serta menggalakan penggunaan pupuk organik lokal dengan memanfaatkan kompos, jerami atau kotoran hewan ternak.

“Sebenarnya kita sudah lama menggalakkan pembuatan pupuk organik, para petani bisa memanfaatkan jerami bekas panen padi ataupun kotoran hewan. Saat ada pengurangan alokasi pupuk bersubsidi seperti sekarang ini, pupuk organik menjadi pilihan yang terbaik bagi petani,” tutur Mukodam.

Selain pupuk urea, pupuk bersubdisi lainnya juga sudah banyak terserap. Antara lain pupuk NPL yang tahun ini mendapat alokasi 5.820 ton, sudah terserap sebanyak4.468 ton atau sudah 76,7 persen. Untuk pupuk SP-36 dari alokasi 370 ton, sudah terserap 322,25 ton, pupuk ZA dari alokasi 457 ton, sudah disalurkan 355,7 ton dan untuk pupuk petroganik dari alokasi 725 ton, sudah disalurkan sebanyak 170,94 ton.

Sementara itu, salah satu petani di Purbalingga, Sarifudin mengatakan, ia memang kesulitan untuk mendapatkan pupuk urea saat ini. Sehingga terpaksa harus membeli pupuk non subsidi, karena tanaman padinya yang baru masuk usia dua bulan masih membutuhkan pupuk.

“Pupuk yang non subsidi stoknya ada, tetapi harganya lebih mahal, sehingga saya harus keluar lebih banyak biaya,” keluhnya.

Sarifudin berharap, alokasi pupuk bersubsidi untuk petani di Purbalingga ditambah, minimal bisa untuk mencukupi kebutuhan petani. Sebab, di tengah pandemi, untuk keluar biaya produksi lebih besar tentu sangat memberatkan petani.

Lihat juga...