Purbalingga Turunkan Target PAD Pasar

Editor: Makmun Hidayat

PURBALINGGA — Pandemi Covid-19 yang berkepanjangan membuat Pemkab Purbalingga terpaksa menurunkan target Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari pasar tradisional. Dari sebesar Rp5 miliar diturunkan menjadi Rp3,6 miliar.

Bupati Purbalingga, Dyah Hayuning Pratiwi mengatakan, salah satu yang diturunkan adalah pendapatan dari retribusi pasar. Menurutnya, turunnya daya beli masyarakat, sudah pasti berdampak pada pendapatan pedagang, sehingga beban retribusi pasar diturunkan.

“Kita juga harus berempati kepada para pedagang di pasar tradisional yang penjualannya menurun akibat pandemi, karena itu target PAD pasar kita turunkan. Sebenarnya hal ini merupakan langkah realistis, karena untuk mencapai target awal sebesar Rp5 miliar dalam situasi sekarang sangat sulit,” jelasnya, Selasa (15/9/2020).

Terkait teknis pelonggaran restribusi tersebut, Kepala Bidang Pasar Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Dinperindag) Kabupaten Purbalingga, Supri Hastono mengatakan, selama dua bulan para pedagang pasar tradisional dibebaskan dari pembayaran restribusi, ditambah pada bulan ketiga, pedagang hanya dikenakan tarif separuh retribusi.

“Jadi untuk  bulan September ini, pedagang hanya dikenakan retribusi separuh dan untuk dua bulan ke depan, yaitu bulan Oktober-November, pedagang dibebaskan dari retribusi,” terangnya.

Dengan adanya penurunan target PAD pasar, Supri Hastono mengatakan, pihaknya optimis bisa mencapai target. Saat ini, pendapatan yang sudah masuk dari pasar sudah mencapai 60 persen dari target baru Rp 3,6 miliar.

“Sekarang masuk bulan 9, sudah 60 persen dari target PAD pasar, sehingga kita optimis bisa memenuhi target dalam tiga bulan ke depan,” tuturnya.

Di Kabupaten Purbalingga sendiri ada 21 pasar tradisional yang pengelolaannya di bawah Dinperindag. Menurut Supri Hastono, hampir seluruh pedagang pada 21 pasar tradisional tersebut mengeluhkan sepinya pembeli.

Sementara itu, salah satu pedagang di Pasar Segamas, Purbalingga, Siti Rohima mengatakan, dalam beberapa bulan terakhir jualannya sepi. Ia biasa berjualan makanan tradisional seperti getuk, lopis dan sejenisnya serta makanan tradisional kemasan, seperti keripik tempe, keripik pisang dan lain-lain.

Sebelum pandemi, Siti Rohima mengaku dalam satu hari ia bisa mengantongi penghasilan sampai Rp400.000 hingga Rp500.000. Namun, setelah pendemi penghasilannya menurun hingga 50 persen. Dagangnya seringkali tidak habis dan terpaksa dibawa pulang.

“Sekarang pasar sepi, biasanya pembeli berdatangan tidak hanya dari Purbalingga saja, tetapi ada juga yang dari Kabupaten Banyumas, Banjarnegara dan Kebumen, Tetapi sekarang rata-rata pembeli hanya dari warga sekitar saja, itupun tidak terlalu banyak,” katanya.

Lihat juga...