Rawan Kebakaran, Pemerintah NTT Diminta Ketat Awasi Hutan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Nusa Bunga yang meliputi wilayah Pulau Flores, Adonara, Solor dan Lembata meminta agar pemerintah memperketat pengawasan terhadap hutan agar kebakaran tidak menjalar ke perkampungan.

Kasus kebakaran yang terjadi di Kabupaten Lembata membuat rumah-rumah adat yang berada di dekat kawawasan hutan ikut terbakar dan banyak rumah adat lainnya yang ikut terancam.

“Banyak kawasan perkampungan adat berbatasan dengan kawasan hutan. Kami meminta agar kontrol pemerintah terhadap hutan harus lebih ketat terutama saat musim kemarau,” kata Ketua AMAN Nusa Bunga, NTT, Philipus Kami, Rabu (9/9/2020).

Lipus sapaannya mengatakan, banyak perkampungan adat yang berbatasan dengan kawasan hutan terdapat rumah-rumah adat yang terbuat dari bahan-bahan alam sehingga rentan terbakar.

Dia berharap agar polisi hutan rutin melakukan patroli untuk mengontrol kawasan hutan guna mencegah terjadinya kebakaran di hutan yang banyak sekali terjadi saat musim kemarau.

“Saat musim kemarau banyak rumput kering apalagi dedaunan banyak berguguran sehingga kebakaran cepat meluas. Selain itu sering terjadi angin kencang sehingga bisa menghanguskan rumah di perkampungan di sekitarnya,” ujarnya.

Lipus berharap agar Pemerintah Kabupaten Lembata bisa membantu dana membangun rumah-rumah adat yang terbakar karena proses pembuatannya membutuhkan biaya besar.

Apalagi sebutnya bahan alam seperti bambu dan ilalang sulit diperoleh di sebuah wilayah sehingga harus didatangkan dari luar wilayah atau kampung tersebut sehingga membutuhkan biaya untuk membeli dan membayar transportasi.

“Membangun kembali rumah adat juga membutuhkan biaya besar untuk membuat seremonial adat yang mana wajib menyembelih hewan saat pagelaran ritual adat. Pemerintah bisa membantu dana agar masyarakat adat tidak kesulitan membangun rumah adat kembali,” harapnya.

Direktur Wahana Tani Mandiri Kabupaten Sikka, Carolus Winfridus Keupung menyebutkan, terkadang masyarakat saat mendekati musim hujan akan menyediakan lahan pertaniannya dengan cara tebas bakar.

Direktur Wahana Tani Mandiri (WTM) Kabupaten Sikka, NTT, Carolus Winfridus Keupung saat ditemui di kantornya, Rabu (9/9/2020). Foto: Ebed de Rosary

Wim menjelaskan, biasanya ranting-ranting pohon dan rumput yang dikumpulkan hingga kering di ladang lalu dibakar sehingga saat terjadi angin kencang kebakaran bisa meluas hingga ke wilayah hutan yang berada di sekitarnya.

“Kami selalu mengajarkan agar petani tidak membakar lahan tetapi mengumpulkan dedauan dan ranting serta membiarkannya hancur dan menjadi pupuk. Batang pohon pun bisa dipakai sebagai pematang atau penahan erosi di teraserig,” ucapnya.

Di Kabupaten Sikka kata Wim, pihaknya telah bekerja selama 20 tahun untuk menyadarkan masyarakat agar meninggalkan kebiasaan tebas bakar ini mengingat akan rentan menyebabkan kebakaran hutan.

Banyak petani di wilayah bagian barat Kabupaten Sikka yang merupakan dampingan WTM sudah mulai meninggalkan kebiasaan tebas bakar ini dan perlahan kebakaran hutan pun tidak terjadi lagi.

“Membakar lahan kebun akan membuat tanah menjadi tidak subur. Membakar akan membuat unsur hara yang terkandung di dalam tanah akan hilang dan mikroorganisme yang membuat tanah menjadi subur akan mati,” jelasnya.

Lihat juga...