Sebagian Royalti Buku ‘Banjir Darah’, Diwakafkan

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Buku ‘Banjir Darah’ menjadi dakwah bagi kemaslahatan ekonomi umat di Indonesia karena sebagian royalti dari penjualan buku ini akan diserahkan ke Lembaga Wakaf Majelis Ulama Indonesia (LW MUI).

Direktur Harian Lembaga Wakaf MUI Pusat, Muhammad Rofiq Thoyyib Lubis, mengatakan penulis buku Banjir Darah, Thowaf Zuharon, dan penerbit Istabul, masing-masing akan menyerahkan 1 persen dari harga penjualan buku Banjir Darah.

“Jadi, 2 persen dari penjualan buku Banjir Darah ini akan dimasukkan dan dicatatkan sebagai Wakaf Abadi di MUI Pusat,” kata Rofiq pada webinar Bedah Buku Banjir Darah: Wakaf Mulia vs Komunis Bengis’ di Jakarta, Rabu (30/9/2020).

Menurutnya, wakaf royalti buku ini akan terus digaungkan dan dikampanyekan ke seluruh umat hingga akhir zaman. Dan, selama buku Banjir Darah masih terus dibeli oleh masyarakat Indonesia dan dunia, sebagian royaltinya akan terus mengalir sebagai dana fundrising di Lembaga Wakaf MUI Pusat.

Penulis buku Banjir Darah, Thowaf Zuharon (kiri) dan Direktur Harian Lembaga Wakaf MUI Pusat, Muhammad Rofiq Thoyyib Lubis, pada webinar Bedah Buku Banjir Darah: Wakaf Mulia VS Komunis Bengis’ di Jakarta, Rabu (30/9/2020). -Ist

“Apalagi, buku Banjir Darah telah menjadi buku terlaris 2020 dan telah dicetak berkali-kali dalam sebulan,” ujarnya.

Dia berharap, hal ini bisa menjadi contoh yang baik bagi berbagai penulis buku, jika ingin menyerahkan sebagian royaltinya sebagai dana wakaf abadi di MUI Pusat.

“Keberkahan dan ridho Allah SWT, semoga selalu tercurah kepada penulis dan penerbit buku Banjir Darah yang telah berkenan menyerahkan sebagian royaltinya kepada Lembaga Wakaf MUI Pusat,” imbuhnya.

Menurut Rofiq, banyak sekali ustadz dan ulama yang mengajak masyarakat untuk beramai-ramai membeli dan membagi-bagikan informasi dalam buku ini. Di antaranya, Ustadz Abdul Somad, Ustadz Haikal Hasan, Ustadz Taufiq Hartono, Kiai Hasan Sahal, pengasuh Pesantren Gontor Ponorogo, Ustadz Teuku dari Solo, dan masih banyak lagi.

“Buku ini telah menjadi dakwah kami di Lembaga Wakaf MUI,” ujarnya.

Hal ini dakwah, karena menurut Rofiq sistem ekonomi yang ditawarkan oleh komunisme hanyalah utopia dan isapan jempol belaka. Sehingga, bagi umat Islam sistem ekonomi komunis hanya menghasilkan kebengisan dan kekejaman.

“Sedangkan sistem ekonomi wakaf yang diajarkan oleh Rasulullah jauh lebih menawarkan kesejahteraan dan kemaslahatan bagi seluruh umat Islam di dunia. Sayangnya, masih sedikit umat Islam, khususnya para orang kaya yang berwakaf dengan konsep wakaf produktif,” tegas Rofiq.

Lebih lanjut dia menyampaikan, bahwa sistem ekonomi syariah yang mengakui kepemilikan sosial dan kepemilikan pribadi yang notabene sistem syariah ini telah berjaya selama 1.300 tahun, dan terbukti telah menyejahterakan umat, maka sistem ekonomi wakaf atau syariah ini harus bisa terkomunikasikan dengan baik kepada generasi penerus bangsa Indonesia.

Direktur fundrising Lembaga Wakaf MUI, Sofyan Munawwar, menambahkan, aktivitas Sahabat Wakaf MUI juga telah banyak yang pembelian buku Banjir Darah, dan sebagian uang pembeliannya juga telah dicatatkan sebagai wakaf di MUI.

“Lembaga Wakaf MUI ikut menjadi distributor penjualan buku ini dengan harga Rp149.000, dan sebagian dari nilai itu sudah masuk menjadi dana Wakaf MUI,” ujarnya.

Lembaga Wakaf MUI berkenan membedah buku Banjir Darah ini, karena menurut Rafiq, G30 S/PKI merupakan peristiwa sejarah yang sangat menyakitkan bagi umat manusia, khususnya bangsa Indonesia.

Penghasutan yang dilakukan PKI terhadap bangsa Indonesia untuk mengganti Pancasila menjadi ideologi komunis, berakhir dengan pertumpahan darah.

“Pengkhianatan ini menjadi catatan sejarah kelam bagi bangsa Indonesia. Bangsa ini harus belajar dari pengalaman untuk tidak kembali menerima komunis sebagai bagian dari Indonesia,” tegasnya.

Sementara saat ini, menurutnya, para pengusung paham komunisme masih getol melakukan kampanye, utamanya di kalangan milenial, bahwa sistem komunisme yang hanya mengakui kepemilikan sosial (sosialisme) ini sebagai solusi masa depan untuk sebuah sistem kehidupan.

Padahal, pendiri Gerwani PKI bernama SK Trimurti saja malah keluar dari PKI pada awal 1965, karena sudah melihat negara-negara komunis dunia, rakyatnya malah kelaparan dan para pemimpinnya hidup bermewah-mewah.

“Di sisi lain,  sistem ekonomi syariah yang mengakui kepemilikan sosial dan kepemilikan pribadi yang notabene sistem syariah ini telah berjaya selama 1.300 tahun, dan terbukti telah menyejahterakan, harus bisa terkomunikasikan dengan baik kepada generasi penerus bangsa ini.

Lihat juga...