Sekolah di Mimika Belum Kondusif Belajar Tatap Muka

TIMIKA – Tim Gugus Tugas Percepatan Pengendalian (TGTPP) COVID-19 Kabupaten Mimika Provinsi Papua hingga kini belum merekomendasikan agar sekolah-sekolah di wilayah itu untuk menggelar kembali pembelajaran tatap muka.

“Dengan kondisi dimana kasus COVID-19 dalam satu bulan terakhir meningkat cukup signifikan di Mimika, maka kami menilai sekolah-sekolah jangan dibuka dulu jika mereka tidak bisa bertanggung jawab terhadap apa yang terjadi pada anak atau orang tua,” kata Juru Bicara TGTPP COVID-19 Mimika, Reynold Ubra, di Timika, Rabu.

Di Mimika terdapat empat distrik (kecamatan) sebagai zona merah penularan COVID-19 yaitu Mimika Baru (Kelurahan Kwamki), Tembagapura (Kelurahan Tembagapura), Wania dan Mimika Timur Jauh (Kampung / Desa Amamapare).

Sementara distrik zona kuning penularan COVID-19 yaitu Kuala Kencana.

Adapun 13 distrik lain masih berstatus zona hijau.

Reynold menyebut jajarannya sudah menerima laporan dari hampir sebagian besar sekolah di Kota Timika bahwa mereka tidak siap untuk menyelenggarakan sekolah tatap muka di era pandemi COVID-19 sekarang ini.

Ketidaksiapan itu mencakup sanitasi yang layak sesuai standar, ketersediaan sarana air bersih, termasuk tempat sampah menstruasi yang harus disiapkan oleh sekolah.

“Itu baru dari aspek sanitasi, kami belum melihat aspek yang lain. Dengan kondisi seperti ini, saya kira kita harus bersabar dulu untuk menggelar kembali pembelajaran tatap muka di sekolah-sekolah,” ujar Reynold yang juga menjabat Kepala Dinas Kesehatan Mimika itu.

Berdasarkan data pada TGTPP COVID-19 khususnya bidang kesehatan, temuan kasus baru COVID-19 dalam kurun waktu satu bulan terakhir meningkat signifikan dua kali lipat dibanding bulan Mei yang hanya mencapai 205 kasus positif.

“Berdasarkan analisis kami, bulan September ini kasus masih tetap akan naik, meski dalam kurun waktu satu hingga dua pekan ke depan bisa turun lagi. Tapi itu tidak akan lama karena bisa saja di bulan Desember terutama menjelang Natal bisa saja terjadi kenaikan atau puncak kasus baru bertambah banyak,” jelasnya.

Menurut Reynold, kecepatan pemeriksaan usap atau swab di Mimika kini masih terbatas meskipun di wilayah itu sudah tersedia dua mesin PCR.

“Persoalannya belum semua orang datang melakukan testing, artinya masih ada kesenjangan test PCR di Mimika sekarang diprioritaskan untuk karyawan dan untuk kontak erat. Mestinya kalau reagen tersedia dalam jumlah yang cukup ditambah dengan mesin PCR yang cukup dan sumber daya petugas yang memadai maka semua orang bisa melakukan pemeriksaan massal menggunakan mesin PCR di Mimika,” jelasnya.

TGTPP Mimika menyadari pembelajaran jarak jauh yang dilakukan oleh sekolah-sekolah setempat selama beberapa bulan sejak Maret memang sama sekali tidak bisa menjawab kebutuhan siswa untuk mendapatkan materi pembelajaran yang memadai.

Namun melihat situasi dan kondisi perkembangan kasus COVID-19 yang kian mengkhawatirkan, maka pembelajaran tatap muka hingga kini belum bisa diperbolehkan, terutama di wilayah zona merah.

Hingga Selasa (8/9), jumlah kumulatif warga Mimika yang telah terpapar virus corona jenis baru itu sudah mencapai 875 orang.

Sejauh ini sudah 726 orang pasien dinyatakan sembuh, 138 pasien masih menjalani perawatan dan isolasi di rumah sakit, empat pasien dirujuk ke luar daerah dan tujuh pasien meninggal dunia. (Ant)

Lihat juga...