Selendang Ningratri

CERPEN TANTRINI ANDANG

Ilustrasi Helmi Fuadi

AKU tidak tahu sudah berapa lama memandangi lukisan setinggi hampir satu meter itu. Seluruh diriku seakan tersedot oleh pesona perempuan dalam lukisan itu.

Wajahnya ayu khas perempuan Jawa yang alami dan lembut. Kebaya warna kuning gading dengan selendang hijaunya menambah pesona yang dimilikinya. Selendang itu seolah benar-benar berkibar dan melayang karena sebuah gerakan seblak.

Ah, kurasa bukan hanya selendangnya. Seluruh lukisan itu memang terlihat hidup. Bahkan mata bening penari itu juga seolah sedang menatapku, membuatku ingin terus memandangnya.

Tanpa sadar aku melangkah lebih dekat lagi dengan lukisan itu. Kuraba bagian wajah penari itu hanya untuk meyakinkan diriku sendiri bahwa perempuan ayu itu sekedar sebuah lukisan, bukan perempuan sungguhan.

Sialan! Kuakui pembuat lukisan ini sangat piawai memainkan kuasnya hingga lukisan di depanku ini benar-benar tampak nyata.

Kata Om Seno, konon perempuan penari dalam lukisan ini dulu memang pernah ada. Pelukisnya masih terhitung sebagai salah satu kakek buyutku sendiri. Tepatnya adik kandung dari eyang buyut putri yang melahirkan eyang putriku. Hanya sedikit anggota keluarga besarku yang memiliki bakat melukis. Aku adalah salah satunya. Namun lukisan kakek buyut ini memang sangat luar biasa.

Perempuan dalam lukisan itu sedang menari di tengah sebuah pelataran terbuka. Cahaya bulan menyinari pelataran dan memantulkan kilaunya di wajah mulusnya. Ada kerumunan penonton yang berdiri di belakang dan sisi kirinya.

Di sebelah kanan tampak seperangkat gamelan dengan para penabuhnya yang bertelanjang dada. Semua dilukiskan secara detil. Di bagian bawah, tepatnya di dekat tanda tangan kakek buyut, terdapat tulisan dengan ukuran kecil: Ningratri.

Aku menghela napas. Lukisan ini sangat luar biasa. Sayang ada beberapa bagian yang agak rusak karena dimakan usia. Lukisan ini tersimpan lama di dalam gudang yang lembab. Ada jamur yang tumbuh di sana-sini. Om Seno yang menemukan lukisan ini di rumah eyang putri. Adik bungsu ibuku itu lalu memintaku untuk memperbaiki bagian-bagian yang rusak. Itulah sebabnya kini aku berdiri di depan lukisan itu.

Untuk sesaat aku masih memandangi wajah Ningratri hampir tak berkedip. Kunikmati setiap detil goresan kuas kakek buyutku itu. Beliau mampu menghadirkan sosok Ningratri hingga terlihat begitu hidup. Semakin lama memandanginya, aku semakin terhanyut dengan suasana yang digambarkan dalam lukisan itu.

Aku seakan mendengar bunyi gamelannya, melihat jelas gerakan tarian Ningratri, dan menikmati setiap detil senyumnya yang menawan. Aku merasa seperti benar-benar menjadi salah satu penonton yang berdiri di pelataran itu.

“Memamg cantik ya, ha ha.” Suara tawa Om Seno membuyarkan seluruh bayangan yang ada di pikiranku. Entah sejak kapan lelaki itu masuk ke kamarku lalu berdiri di belakangku. Wajahku terasa panas. Malu rasanya saat ketahuan sedang terpana dengan kecantikan perempuan dalam lukisan.

“Eh…iya Om…” ucapku agak salah tingkah.

“Kamu boleh terpesona dengan kecantikan perempuan itu. Tapi jangan sampai lupa dengan tugasmu ya.” Om Seno lalu tertawa lagi. Aku tersenyum kikuk.

“Namanya Ningratri Om,” kataku sambil menunjuk pada tulisan kecil di bagian bawah lukisan. Om Seno menganggukkan kepalanya.

“Benar itu memang namanya. Nama yang cantik ya, sesuai dengan pemiliknya,” kata Om Seno lagi yang akhirnya ikut memandangi wajah Ningratri.

“Sebenarnya apa hubungan kakek buyut dan Ningratri ini, Om? Sepertinya mereka punya kedekatan khusus,” tanyaku penasaran. Om Seno tertawa lagi.

“Benar sekali dugaanmu. Ningratri adalah kekasih kakek buyutmu. Sayang kisah cinta mereka tidak seindah yang mereka inginkan.” Wajah Om Seno kini terlihat serius.

“Maksudnya gimana Om?” Aku makin penasaran.

“Terlalu banyak lelaki yang memuja penari ayu itu. Salah satunya adalah seorang bangsawan kaya raya yang telah banyak memberi bantuan pada ayah Ningratri. Kakek buyutmu hanya seniman miskin. Beliau tak ada apa-apanya dibanding bangsawan kaya itu.”

“Kenapa Ningratri bersedia?” tanyaku ikut merasa geram. Aku membayangkan betapa patah hatinya kakek buyutku ditinggal kekasihnya menikah dengan lelaki lain.

Baca Juga

Jarik Januari

Singensumonar

Gumincuk

“Keadaan yang membuatnya begitu. Meskipun cinta Ningratri hanya untuk kakek buyutmu, namun ayah Ningratri tak mampu melunasi utang-utangnya pada lelaki bangsawan itu. Kamu bisa bayangkan bagaimana perasaan seorang anak jika ayahnya diancam akan dibunuh kalau tidak melunasi utang-utangnya? Ningratri tidak punya pilihan selain menerima pinangan lelaki bangsawan itu.”

“Itukah yang membuat kakek buyut memutuskan untuk tidak menikah selamanya?” tanyaku. Om Seno mengangguk.

“Namun jangan salah. Meskipun tidak bisa meminang Ningratri, konon kakek buyutmu diam-diam sering mengadakan pertemuan dengan kekasih hatinya itu lewat lukisan ini,” ujar Om Seno lagi. Aku mengerutkan keningku.

“Maksud Om gimana?” Aku semakin penasaran. Om Seno menghela napas sebentar sebelum melanjutkan lagi ceritanya.

“Kakek buyutmu menjalani puasa yang sangat berat selama melukis lukisan ini. Lukisan ini dipoles berulang-ulang setiap hari sampai hampir enam bulan lamanya. Orang bilang kakek buyutmu itu membuat semacam pintu bagi jiwa Ningratri untuk hadir melalui lukisan ini. Namun tak ada yang tahu di bagian mana pintu itu dibuat. Yang jelas kakek buyutmu dan kekasihnya itu bisa saling bertemu setiap saat melalui lukisan ini. Itulah sebabnya lukisan ini terlihat sangat hidup.”

“Ah, bagaimana mungkin?” Tiba-tiba tengkukku merinding mendengar cerita itu. Membuat pintu untuk menghadirkan jiwa? Secara refleks mataku nyalang mencari-cari bagian mana kira-kira yang menjadi pintu bagi jiwa Ningratri dalam lukisan itu.

Mungkinkah di bagian sudut atas lukisan, tepat pada bulan yang bersinar itu? Atau disembunyikan di antara kerumunan para penonton? Atau mungkin di bagian mata bening Ningratri yang selalu tampak berkilau itu? Om Seno tertawa lagi melihat tingkahku.

“Itu hanya katanya lho. Kamu nggak perlu terlalu memikirkannya. Tugasmu hanya memperbaiki bagian lukisan yang rusak. Itu saja.” Om Seno mengakhiri ceritanya.
***
SUDAH lewat dua jam aku berkutat di kamar untuk memperbaiki lukisan kakek buyutku. Kupoles ulang bagian-bagian lukisan yang rusak. Tidak mudah untuk mengikuti gaya lukis kakek buyutku itu. Tampak sekali bahwa beliau memoles lukisan itu berlapis-lapis. Aku harus berusaha keras agar lukisan itu kembali semirip aslinya.

Hingga menjelang petang, aku memutuskan untuk beristirahat sebentar. Tinggal beberapa bagian lagi yang perlu kubereskan. Kubaringkan tubuhku di lantai yang dingin lalu mulai memejamkan mata. Seluruh tubuhku mulai merasa rileks setelah beberapa saat dalam posisi seperti itu.

Sepertinya baru saja aku tertidur saat tiba-tiba terdengar suara sesuatu yang jatuh. Aku segera terbangun dari posisi berbaring lalu duduk di lantai. Kupandangi sekeliling. Tak ada benda apa pun yang berubah. Semua masih pada tempatnya semula.

Lalu kuarahkan pandanganku pada lukisan kakek buyut yang kusandarkan di dinding. Aku mengerutkan keningku. Mengapa cahaya bulan di lukisan itu tidak lagi bersinar? Lalu mengapa mata bening Ningratri tidak lagi berkilau? Warna-warna dalam lukisan itu seakan meredup. Tak ada lagi aura yang hidup saat memandangnya.

Perlahan aku berdiri. Kudekati lukisan itu lagi. Wajah Ningratri memang masih terlihat ayu, namun aku tak lagi merasakan sesuatu yang menarikku pada pesonanya. Lukisan kakek buyutku itu kini terlihat biasa saja. Benar-benar datar. Tak ada yang istimewa.

Oh… apakah aku telah melakukan kesalahan saat memoles ulang lukisan ini? Seketika aku dirambati rasa bersalah. Bagaimana kalau Om Seno kecewa dengan hasil kerjaku ini? Untuk beberapa saat aku masih memandangi lukisan itu sambil menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal.

Belum selesai aku terheran-heran, sebuah suara kembali terdengar keras. Itu seperti suara pegangan pintu yang dibuka. Asalnya dari ruang depan. Aku segera melangkah keluar kamar.

Sesaat sebelum pintu ruang depan itu tertutup kembali, sayup-sayup aku mendengar suara gamelan dari arah luar. Siapa yang menyetel gamelan petang hari begini?

Lalu…

Deg!

Dadaku berdetak kencang. Sekelebat kain selendang berwarna hijau sempat berkibar sebelum pintu itu benar-benar tertutup.

Aku berlari ke arah pintu itu dan segera membukanya kembali. Tak kulihat apa-apa di luar. Hanya cahaya bulan yang berkilau di langit serta suara gamelan yang perlahan mulai menjauh. ***

Tantrini Andang, lahir di Solo, 10 November 1972. Beberapa cerpennya dimuat di Harian Joglosemar, Majalah Hidup, dan Majalah Story. Selain beberapa antologi, penulis juga telah menulis novel anak, cerita rakyat, dan buku kesehatan yang diterbitkan Penerbit Andi. Karya lainnya adalah sebuah kumpulan flash fiction Cincin Merah Delima. Novelanya Cinta dalam Secangkir Coklat menjadi salah satu karya terpilih dalam lomba novela yang diadakan Bentang Pustaka. Kini masih aktif menulis novel premium di platform Storial.

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Cerpen yang dikirim orisinal, hanya dikirim ke Cendana News, belum pernah tayang di media lain baik cetak, online atau buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Karya yang akan ditayangkan dikonfirmasi terlebih dahulu. Jika lebih dari sebulan sejak pengiriman tak ada kabar, dipersilakan dikirim ke media lain. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.

Lihat juga...