Semarang Kembangkan Potensi Wisata Mata Air Mantan Tinjomoyo

Editor: Koko Triarko

SEMARANG – Potensi Hutan Wisata Tinjomoyo Kota Semarang, terus dikembangkan. Salah satunya dengan mengoptimalkan mata air Mantan sebagai obyek wisata pendukung di hutan kota tersebut.

“Saat pandemi Covid-19 merebak, Hutan Wisata Tinjomoyo kita tutup, dan baru dibuka kembali pada Sabtu (5/9/2020) kemarin. Selama kurang lebih 6 bulan tutup tersebut, kita manfaatkan untuk pengembangan dan perbaikan obyek wisata yang ada di lokasi tersebut,” papar Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang, Indriyasari, di Semarang, Selasa (8/9/2020).

Termasuk, lanjutnya, pembangunan jalur trek menuju mata air Mantan. “Trek ini dikembangkan, untuk menambah daya tarik, sekaligus memperkenalkan cerita mengenai seluk beluk Hutan Tinjomoyo,” jelasnya.

Plt Kepala UPTD Hutan Wisata Tinjomoyo, Hariadi Dwi Prasetyo, saat ditemui di Semarang, Selasa (8/9/2020). –Foto: Arixc Ardana

Nantinya, dengan berjalan kaki, pengunjung akan diajak menyusuri hutan menuju mata air yang dahulu pernah dipakai untuk memenuhi kebutuhan kebun binatang (Bonbin) Tinjomoyo.

“Jadi dahulu, lokasi kebun binatang Semarang terletak di hutan wisata Tinjomoyo ini. Namun karena kondisi tanahnya cukup labil, kemudian direlokasi di wilayah Mangkang, yang hingga sekarang dikenal sebagai Semarang Zoo,” jelasnya.

Kini, jalur tersebut dan mata airnya dinamai Air Mata Mantan. Mantan diartikan sebagai petugas pengairan, saat masih ada bonbin Tinjomoyo era lalu.

“Jadi, dulu jalur yang dilalui para petugas pengairan cukup berat, disebut membuat air mata yang menetes begitu saja tanpa terasa. Jadi, ini untuk mengenang perjuangan mereka,” jelasnya.

Sementara, Plt Kepala UPTD Hutan Wisata Tinjomoyo, Hariadi Dwi Prasetyo, menjelaskan, nantinya trek Air Mata Mantan akan diaplikasikan sebagai sebuah jalur ekowisata menyusuri lebatnya Hutan Tinjomoyo.

Melalui titik awal di pohon beringin ‘cinta’ yang berada di pintu masuk hutan wisata, dan berakhir di titik top swafoto Air Mata Mantan. Dalam perjalanan menyusuri hutan tersebut, pengunjung juga akan ditemani pemandu wisata.

Pemandu ini akan menjelaskan, beberapa fenomena alam yang terjadi, seperti pergerakan tanah yang terjadi, hingga keanekaragaman hayati yang ada.

“Termasuk bagaimana hutan menjadi sumber resapan air, untuk sumber kehidupan. Dengan luas mencapai 75 hektare, Hutan Wisata Tinjomoyo ini juga menjadi paru-paru kota,” terangnya.

Sementara, terkait pembangunan trek menuju mata air Mantan, saat ini terus dikebut. “Kita perkirakan sebelum Desember 2020 sudah selesai, sehingga bisa segera dimanfaatkan secara optimal,” pungkasnya.

Lihat juga...