Soeharto Dikenal Kalem Kala Pimpin Sidang Kabinet

PERJUMPAAN seorang pegawai muda Biro Pusat Statistik (BPS) yang saat itu masih berusia  di bawah 30-an tahun dengan Soeharto pada sebuah sidang kabinet —yang kala itu sebagai Pejabat Presiden— meninggalkan kesan mendalam dan membuatnya kagum.

Pegawai muda yang tiada lain bernama Haryono Suyono itu, menceritakan perjumpaannya dengan Soeharto tersebut, bermula saat dirinya diajak oleh Menteri Sekretaris Negara untuk ikut dalam sidang kabinet. Haryono pun kebagian kursi duduk yang paling belakang. Meski duduk di belakang, dalam pengakuannya, ia bisa saling tatap atau beradu pandang mata dengan Pak Harto.

“Dalam peristiwa-peristiwa itu (sidang-sidang kabinet yang diikuti – Red.), saya tetap duduk di belakang. Beliau itu pasti lihat saya, saya lihat beliau. Tetapi saling tidak kenal. Karena beliau Presiden, saya sekadar utusan dari Biro Pusat Statistik, membawa data statistik sembilan bahan pokok. Itulah perkenalan pertama saya dengan Pak Harto,” kata Haryono Suyono.

Keikutsertaan Haryono sendiri dalam sidang-sidang kabinet memang bukan sekadar pelengkap. Ada tugas mulia yang diembannya. Dikatakan Haryono, kalau ada situasi di mana sang menteri yang mengajaknya itu mengalami “macet” saat berbicara di sidang kabinet, Haryono pun dipanggil ke depan untuk ikut membantu menerangkan.

“Jadi saya sejak tahun 66 sudah melihat dan kagum pada tokoh yang namanya Haji Muhammad Soeharto. Karena saya tahu, kalau beliau memimpin sidang itu kalem, tenang, dan tidak pernah gebrak meja. Tidak pernah memarahi menterinya. Dan, pada akhir sidang dengan lancar beliau membacakan keputusan sidang,” tutur Haryono Suyono.

Prof. Dr. Haryono Suyono (1): Awal Mula Memasuki Sistem Orde Baru

Ia pun mengisahkan bagaimana awal mula dirinya memasuki pemerintahan Orde Baru. Haryono Suyono, yang lahir di Pacitan, Jawa Timur, 6 Mei 1938, begitu lulus dari Akademi  Ilmu Statistik (AIS) —suatu Akademi Kedinasan di bawah naungan Biro Pusat Statistik di Jakarta, di mana diselesaikan dalam waktu tiga tahun dengan baik— terus menikah pada usia sekira 25 tahun di tahun 1963.

Pada usia satu tahun pernikahan tepatnya di tahun 1964, Haryono Suyono dikaruniai anak pertama. Disusul dengan anak yang kedua pada tahun 1965. Ia membangun mahligai rumah tangga beriringan dengan awal perjalanan meniti karier.

Sebagai anak muda, tak pelak ia sering mendapat penugasan dari Biro Pusat Statistik ke luar kota. Meski acap ke luar kota, Haryono Suyono tentu tetap ingat selalu dengan sang istrinya, sehingga kala bersua selepas dari perjalanan tugas luar kota, kerinduannya pun dapat terobati.

Kala studi di Akademi Ilmu Statistik, Haryono Suyono sempat menjadi wakil ketua senat hingga kemudian menjadi senat mahasiswa, tak ayal pengalamannya di dunia organisasi kemahasiswaan ini menambah poin baginya. Oleh pihak kantor, Haryono Suyono, dianggap sebagai sosok potensial sehingga pada tahun 1964-an ia diperbantukan sebagai tenaga ahli untuk suatu sensus industri mencakup seluruh perusahaan di Indonesia.

Pekerjaan Haryono Suyono dalam membantu sensus industri pada tahun 1964-1965, itu dinilai berhasil. Ia lantas ditugaskan di Kanwil (Muda) DKI Jakarta, dan dengan sendirinya pekerjaannya mendekatkannya dengan Pak Harto yang saat sudah mulai aktif menjadi Pejabat Presiden setelah terjadi peristiwa G30S/PKI.

“Pada waktu itu saya tidak lama menjadi Kanwil, kembali ke BPS. Pada tahun 66 saya menjadi pegawai BPS yang tugas saya mengantar statistik paling baru untuk sidang kabinet,” cerita Haryono Suyono yang juga pernah ditunjuk menjadi menteri di masa Presiden Soeharto ini. ***

Penulis: Makmun Hidayat, diolah dari Bincang-bincang Kependudukan Bersama Prof. Dr. Haryono Suyono di CENDANA TV bertajuk “Prof. Dr. Haryono Suyono (1): Awal Mula Memasuki Sistem Orde Baru”.

Lihat juga...