Tamu Penting

OLEH: HASANUDDIN

SERINGKALI kita di hadapkan pada suatu pilihan tentang mana yang penting, dan mana yang tidak penting. Dikisahkan bahwa suatu ketika Rasulullah Muhammad SAW sedang menerima tamu yang menurut beliau itu adalah tamu penting.

Ketika itu, beliau sedang menerima salah satu pimpinan penganut paganisme, yang datang menemui beliau untuk berdiskusi tentang ajaran Islam yang ditugaskan kepada beliau agar disampaikan kepada seluruh manusia.

Pada saat beliau sedang bercakap-cakap dengan tokoh yang beliau anggap penting itu, tiba-tiba tanpa “terjadwal” datang seorang buta bernama Abd Allah Ibn Suraih, yang telah memeluk agama Islam. Ibnu Suraih atau juga dikenal dengan Ibn Umm Maktum datang menemui Nabi SAW bermaksud meminta agar nabi mengulangi penjelasan beberapa ayat Al-Quran yang pernah beliau sampaikan, namun bagi Ibn Suraih dirasakannya belum jelas.

Karena merasa diinterupsi oleh Ibn Suraih ini, nabi lantas memperlihatkan muka masam. Seolah jengkel, karena sedang menerima tamu penting, yang dirasanya mengganggu pembicaraan penting mereka itu. Nabi bermuka masam dan berpaling dari Ibn Suraih, seolah Ibn Suraih ini “tidak penting” untuk diperhatikan.

Akibat sikap beliau itu, serta-merta Allah swt menegur beliau dengan menurunkan 10 ayat yang terdapat dalam surah Abasa. Surah ini di namai “Abasa” yang artinya “bermuka masam” untuk menjadi pelajaran bagi siapa pun pemimpin umat, pemimpin masyarakat agar berlaku adil dan bijaksana kepada siapapun dari kalangan umat atau warga yang dipimpinnya.

Sepuluh ayat pada surah Abasa ini sebagai berikut:

عَبَسَ وَتَوَلَّى (1) أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَى (2) وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّى (3) أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرَى (4) أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَى (5) فَأَنْتَ لَهُ تَصَدَّى (6) وَمَا عَلَيْكَ أَلَّا يَزَّكَّى (7) وَأَمَّا مَنْ جَاءَكَ يَسْعَى (8) وَهُوَ يَخْشَى (9) فَأَنْتَ عَنْهُ تَلَهَّى (10)

Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa) atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (alasan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran). sedangkan ia takut kepada (Allah), maka kamu mengabaikannya. Sekali-kali jangan (demikian)!

Tentu saja setelah ayat ini turun, nabi ber-istighfar kepada Allah swt, dan Allah swt  mengampuni beliau.

Pencantuman ayat ini tentu saja sekali lagi menunjukkan bahwa nabi sekaligus Rasulullah SAW tidak menyembunyikan sedikit pun dari ayat-ayat Allah. Dan menyampaikan apa adanya. Sekiranya beliau mengikuti hawa nafsunya, tentu teguran Allah ini beliau akan sembunyikan, agar dengan begitu “citra” nya tidak rusak di mata publik. Tapi tidak, beliau adalah Rasul Allah, yang menyampaikan wahyu Allah tanpa disertai hawa nafsu, sebagaimana dikemukakan dalam surah An-Najm (53) ayat 3.

Tidak menyertakan ego, atau hawa nafsu ini sangat penting dalam pengambilan keputusan. Apalagi dalam situasi di mana sedang banyak cobaan yang melanda negeri. Ketika berhadapan antara pertimbangan elite, dengan pertimbangan wong cilik, putuskan secara adil, tanpa menyertakan ego atau hawa nafsu. Masalah Covid-19, masalah resesi, masalah pilkada dan lain-lain, putuskanlah dengan tidak menyertakan hawa nafsu.

Pelajaran kedua, dari turunnya ayat ini adalah, agar kita umatnya, terlebih bagi seorang pemimpin di tengah masyarakat, agar mengambil pelajaran untuk tidak menyepelekan hal-hal yang menurut mereka “tidak penting”. Karena sungguh, Allah swt lebih mengetahui apa yang kita lakukan, sekalipun itu hanya berupa “muka masam”.

Semoga Allah swt senantiasa membimbing kita semua. ***

Depok, 25 September 2020

Lihat juga...