Tanaman Sayur Topang Ekonomi Petani Kala Musim Gadu

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Pemanfaatan lahan untuk menanam sayuran jadi pilihan petani Lampung Selatan kala musim kemarau untuk menambah pemasukan. Tanaman yang menjadi pilihan di antaranya genjer, kacang panjang, sawi, terong dan bayam.

Sipon, petani di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan menyebutkan, dengan genjer di lahan cekungan yang selalu digenangi air, berpotensi menghasilkan uang jika dimanfaatkan. Proses penanaman cukup mudah, ditanam sekali bisa dipanen berkali kali. Sayuran yang dijual seharga Rp1.000 per ikat bahkan dapat memberinya omzet ratusan ribu per pekan.

Selain genjer jenis sayuran yang ditanam dengan sistem tumpang sari berupa kacang panjang, sawi, terong dan bayam.

“Selama musim kemarau lebih dari empat petak sawah di lokasi cekungan yang memiliki mata air tidak pernah kering, selain lokasi budidaya genjer airnya bisa untuk menyiram sayuran lain,” terang Sipon saat ditemui Cendana News, Senin (28/9/2020).

Menanam sayuran tambah Sipon bisa menjadi penghasilan penyelang. Sebab sebelum panen padi usia 120 hari varietas Ciherang, ia masih bisa mendapatkan penghasilan.

“Berbagai jenis sayuran juga kerap diambil oleh pedagang keliling sehingga saya tidak perlu repot menjual ke warung,” ujarnya.

Tanaman sayuran yang digunakan sebagai penopang ekonomi petani juga dilakukan Wiyono. Petani asal Desa Kelaten itu memanfaatkan tegalan atau lahan di dekat sawah untuk berbagai jenis sayuran.

“Daripada tidak dimanfaatkan atau justru mengundang ternak masuk dan merusak tanaman padi, di tepi lahan sawah di tanam sayuran,” tegas Wiyono.

Pemanfaatan lahan untuk sayuran saat kemarau diakuinya memiliki kualitas yang lebih bagus. Berbeda dengan musim penghujan tanaman sayuran kerap lebih cepat busuk. Pasokan air diperoleh dengan cara membendung aliran sungai kecil di dekat lahan sawah.

Berbagai jenis sayuran sawi, kangkung, kacang panjang, terong dipasok ke pasar tradisional. Peluang ekonomi memasok sayuran ke pasar sebutnya sangat membantu penghasilan. Kebutuhan usaha kuliner warung makan, usaha mi ayam menjadi penyerap hasil pertanian miliknya.

Pemanfaatan lahan kala kemarau atau gadu bilang Wiyono tepat dilakukan kala pandemi. Sebab meski ekonomi sedang sulit petani memiliki usaha ketahanan pangan untuk pemenuhan kebutuhan. Sistem pengelolaan lahan yang baik dan pemupukan teratur membuatnya bisa panen setiap dua hari. Hasilnya omzet ratusan ribu diperoleh sebelum padi dipanen.

Lihat juga...