Target 5.000 Tes ‘PCR’ Per Hari di Jateng Terkendala ‘Reagen’

Editor: Makmun Hidayat

SEMARANG — Target 5.000 tes polymerase chain reaction (PCR) atau swab per hari, hingga sekarang belum bisa dipenuhi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Hal tersebut diakibatkan, keterbatasan ketersediaan reagen sebagai uji spesimen Covid-19 di laboratorium.

“Sejauh ini, upaya kita untuk  mencapai target tes PCR massal sebanyak 5.000 per hari, masih terkendala. Ini karena ada kendala di sejumlah laboratorium PCR yang ada di Jateng, mereka menyampaikan ketersediaan barang habis pakai, seperti reagen yang tidak cukup,” papar Kepala Dinas Kesehatan Jateng, Yulianto Prabowo di Semarang, Senin (7/92020).

Diterangkan, reagen atau pereaksi kimia memiliki peranan penting dalam mendeteksi Covid-19 lewat metode pengujian real time PCR. Jika tanpa reagen, bisa membutuhkan waktu hingga 2-3 hari, namun dengan reagen, hasil dapat diketahui dalam hitungan jam

Selain itu, dari 17 laboratorium PCR yang ada di Jateng, pihaknya masih memerlukan tambahan tenaga ahli dan sarana yang lain, untuk peningkatan kemampuan pemeriksaan laboratorium PCR.

“Sebelumnya, kita juga sudah melakukan penambahan sebanyak 20 SDM ahli laboratorium dan sarana lainnya. Namun sejauh ini memang masih belum mencukupi. Sehingga, ini menjadi problem laboratorium untuk melaksanakan tugas pengecekan sesuai target yang ditetapkan,” jelasnya.

Sementara, menyikapi persoalan tersebut, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menjelaskan, jika pemerintah kesulitan dalam pemenuhan reagen, pihaknya membuka kerja sama dengan laboratorium swasta, guna percepatan proses pengetesan massal.

“Sudah ketemu permasalahannya, kenapa tes PCR sulit didorong. Ternyata, ada beberapa problem di laboratorium. Kebanyakan mengeluhkan barang habis pakai, seperti reagen dan sebagainya yang ternyata belum terpenuhi seluruhnya,” jelasnya.

Dirinya pun memastikan, jika laboratorium pemerintah tidak mampu, untuk menyelesaikan target 5.000 test PCR, pihaknya bersiap menggandeng swasta.

“Kalau memang lab pemerintah tidak mampu, karena kita memang sulit mendapatkan reagen dan barang habis pakai lainnya. Ya kita ajak swasta saja. Kalau sama-sama satu pemeriksaan swab, misalnya nominalnya Rp1 juta atau Rp1,5 juta, ya sudah, kerjasama dengan swasta juga. Nanti sistemnya reimburse,” tandas Ganjar.

Menurutnya, dengan pola selama ini, pemerintah akan sulit mengejar target percepatan pengecekan spesimen. Padahal, kecepatan pengecekan itu akan berdampak pada berbagai hal, termasuk penanganan pasien covid-19 dan manajemen rumah sakit.

“Selama ini, Dinkes kami mengadakan sendiri repot, tidak ada barangnya. Kalau tetap seperti ini, nanti tidak selesai-selesai,” ucapnya.

Dengan menggandeng laboratorium swasta, maka percepatan itu lanjut Ganjar bisa dilakukan. Apalagi jika biaya yang dikeluarkan juga tidak jauh berbeda, antara menggunakan laboratorium pemerintah atau swasta.

“Ini menjadi solusi yang tercepat, karena kita tidak repot kulakan (membeli sendiri-red), kita tinggal bayar. Target tes PCR atau swab per hari pun bisa kita penuhi,” pungkasnya.

Lihat juga...