Tarif Pesawat di Kepri Berpotensi Memicu Inflasi

Ilustrasi. Sejumlah pesawat komersil berada di sekitar Bandara Hang Nadim Batam – Foto Ant

BATAM – Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kepulauan Riau (Kepri) mengingatkan adanya potensi risiko inflasi, yang terpicu fluktuasi tarif angkutan udara, bahan makanan dan peningkatan harga emas.

Potensi dari komoditas tersebut perlu diwaspadai. “Terdapat beberapa potensi risiko inflasi yang perlu diwaspadai, antara lain tarif angkutan udara diperkirakan masih akan mengalami peningkatan secara gradual,” bunyi keterangan TPID Kepri, Minggu (6/9/2020).

Selain tarif angkutan udara, potensi kenaikan harga pada komoditas bahan makanan juga mesti diwaspadai, seiring peningkatan curah hujan. Lalu kenaikan harga beras seiring peningkatan nilai beras premium di tingkat penggilingan secara nasional dan berlanjutnya peningkatan harga emas.

TPID Kepri mencatat, Indeks Harga Konsumen (IHK) Kepri secara bulanan mengalami inflasi sebesar 0,04 persen (mtm) pada Agustus 2020. Kondisinya meningkat dibandingkan bulan sebelumnya, yang mengalami deflasi sebesar -0,11 persen (mtm). Komoditas utama penyumbang inflasi pada Agustus 2020 adalah emas perhiasan, biaya sekolah tingkat TK dan cabai merah. Secara tahunan, Kepri mengalami deflasi sebesar -0,30 persen (yoy). Kondisinya lebih rendah dibandingkan Juli 2020, yang mengalami deflasi sebesar -0,33 persen (yoy).

Dengan demikian, inflasi Kepri pada Agustus 2020 masih berada di bawah kisaran sasaran inflasi tahun 2020 sebesar3 ± 1 persen (yoy). TPID Kepri menyebut, inflasi di Kepri pada Agustus 2020 didorong peningkatan harga pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya serta kelompok pendidikan. Meskipun kondisinya masih tertahan oleh penurunan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya pada Agustus 2020 mengalami inflasi sebesar 2,46 persen (mtm) dengan andil terhadap inflasi sebesar 0,16 persen (mtm).

Komoditas utama penyumbang inflasi adalah emas perhiasan, yang mengalami inflasi 9,82 persen (mtm) dengan andil 0,15 persen (mtm). Hal itu sejalan dengan peningkatan harga emas dunia. Kelompok pendidikan juga tercatat mengalami inflasi sebesar 2,30 persen (mtm) dengan andil sebesar 0,14 persen (mtm). Hal itu terpicu oleh inflasi biaya pendidikan pada tahun ajaran baru, khususnya tingkat TK dan SMA, masing-masing sebesar 18,94 persen (mtm) dan 3,73 persen (mtm). Dengan andil masing-masing terhadap inflasi sebesar 0,08 persen (mtm) dan 0,03 persen (mtm).

Laju inflasi pada Agustus 2020 tertahan oleh deflasi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang tercatat sebesar -1,17 persen (mtm), dengan andil sebesar -0,33 persen (mtm). Utamanya bersumber dari penurunan harga komoditas daging ayam ras dan bayam. Daging ayam ras mengalami deflasi sebesar -4,99 persen (mtm) dengan andil -0,09 persen (mtm), seiring lancarnya pasokan di tengah permintaan yang masih rendah dari pelanggan hotel dan rumah makan. (Ant)

Lihat juga...