Temperatur Udara Meningkat, Waspadai Gejala Dehidrasi

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

Kepala Seksi Data dan Informasi, BMKG Stasiun Klimatologi Kelas I Semarang, Iis Widya Harmoko di Semarang, Senin (21/9/2020). Foto Arixc Ardana

SEMARANG — Dalam beberapa hari terakhir, cuaca di Kota Semarang cukup terik. Saat siang hari, suhu udara bisa mencapai 35 derajat celcius. Tidak mengherankan, jika kondisi tersebut menjadi keluh kesah warga.

“Panasnya luar biasa, meski saya lahir dan besar di Kota Semarang, paham kalau cuacanya cukup terik, namun biasanya tidak sampai sepanas ini,” papar Heri Kumoro, warga Tembalang Semarang, saat ditemui Senin (21/9/2020).

Dirinya bahkan harus menitipkan kendaraan roda empat miliknya, karena khawatir cat kendaraan tersebut ‘mletek’ atau pecah akibat terik matahari.

“Mobil saya titipkan ke rumah kakak, yang garasinya luas. Kalau di rumah, belum ada garasi, jadi parkir di luar, di depan rumah, tapi karena cuaca panas sekali, takut kalau catnya ‘pecah’ kepanasan,” tandasnya.

Hal senada juga disampaikan Budiyono. Meski sudah mengenakan jaket dan bercelana jeans, hawa udara yang panas masih tetap terasa saat berkendara motor. “Apalagi kalau pas berhenti di traffic light. Meski tidak lama, hanya sekitar 30 – 40 detik, tapi panas matahari sampai tembus celana, padahal pakai bahan yang tebal,” terangnya.

Terpisah, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Kelas I Semarang, yang diwakili Kepala Seksi Data dan Informasi, Iis Widya Harmoko, menjelaskan naiknya temperatur udara di wilayah Jateng, termasuk di Kota Semarang, akibat pengaruh adanya gerak semu matahari.

“Memang benar, dalam beberapa hari terakhir ini sejumlah wilayah di Jateng, termasuk di Kota Semarang, mengalami kenaikan temperatur udara,” paparnya.

Berdasarkan data suhu udara maksimum di BMKG Ahmad Yani Semarang hingga 21 September 2020, suhu tercatat berkisar 34 – 36 derajat Celcius.

“Pada bulan September 2020 ini, posisi matahari berada di bumi belahan utara dan bergerak ke bumi belahan selatan melewati khatulistiwa. sehingga mengakibatkan kenaikan suhu. Saat nanti matahari, berada tepat berada di garis khatulistiwa, muncul yang namanya fenomena kulminasi utama,” terangnya.

Dengan posisi gerak semu matahari yang saat ini berada di sekitar garis khatulistiwa, lanjutnya, suhu udara dalam beberapa hari kedepan bakal bertambah tinggi.

“Kita perkirakan temperatur udara akan semakin meningkat dan mencapai maksimum tertinggi di bulan Oktober – November, ketika matahari tepat di atas Jateng,” tambahnya.

Iis menjelaskan, fenomena kulminasi utama terjadi dua kali, yakni pada bulan Februari dan bulan Oktober. “Rata-rata suhu maksimum tertinggi terjadi pada periode kedua pada kulminasi utama, yang diperkirakan terjadi pada 9 Oktober 2020 mendatang,” lanjutnya.

Sejumlah wilayah di Jateng, yang akan masuk kulminasi utama di antaranya Kabupaten Rembang, Pati, Kudus, Jepara, Demak, Kendal, Batang, Pekalongan, Pemalang, Tegal, dan Brebes.

Sejauh ini, dampak dari suhu udara yang panas di Jateng, khususnya di Kota Semarang, relatif tidak berbahaya. Hanya saja, pihaknya mengimbau kepada masyarakat untuk mewaspadai gangguan dehidrasi.

“Tetap jaga kesehatan, perbanyak minum air putih dan vitamin, agar tubuh tidak mengalami dehidrasi, terutama bagi masyarakat yang banyak beraktivitas di luar rumah,” pungkasnya.

Lihat juga...