Tiga Pasar Tradisional di Banyumas Siap Layani Belanja ‘Online’

Editor: Koko Triarko

PURWOKERTO – Di tengah pembatasan sosial akibat pandemi Covid-19, transaksi online makin menjadi tuntutan. Tak kecuali, bagi para pedagang di pasar tradisional. Namun, tentu saja tak semua pedagang tradisional siap menghadapi perubahan itu.  

Dari 68 pasar tradisional yang ada di Kabupaten Banyumas, baru tiga pasar yang siap memberikan layanan belanja online, yaitu Pasar Wage, Pasar Manis dan Pasar Sokaraja. Itu pun belum semua pedagang, siap.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Dinperindag) Kabupaten Banyumas, Yunianto, mengatakan sebagian besar kendala yang dialami untuk belanja online adalah belum semua pedagang memiliki handphone android dan bagi yang sudah punya, sebagian juga masih belum bisa mengoperasikan untuk layanan belanja online.

”Jadi, kendalanya itu HP dan pedagang masih ada yang gaptek atau gagap teknologi. Tetapi kita terus memberikan edukasi secara bertahap, dan sekarang sudah tiga pasar yang siap memberikan layanan belanja online, hanya saja masih bertahap dalam pelaksanaannya,” kata Yunianto, Sabtu (12/9/2020).

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Dinperindag) Kabupaten Banyumas, Yunianto, di Purwokerto, Sabtu (12/9/2020). –Foto: Hermiana E. Effendi

Di Kabupaten Banyumas ada 68 pasar tradisional, yaitu 26 pasar yang dikelola Pemkab Banyumas, 2 pasar di bawah pengelolaan Perumda dan 40 pasar merupakan pasar desa. Tiga pasar yang sudah siap memberikan layanan belanja online merupakan pasar yang dikelola pemkab.

Lebih lanjut Yunianto menjelaskan, perkembangan pelayanan online mutlak dilakukan, karena tuntutan perkembangan zaman. Terlebih di tengah pandemi Covid-19, belanja online menjadi salah satu sarana untuk meminimalkan penyebaran Covid-19, karena adanya pembatasan interaksi di pasar tradisional.

Namun, lanjutnya, untuk menerapkan layanan online di kalangan pedagang pasar tradisional memang tidak mudah. Meskipun sebenarnya, beberapa aplikasi belanja online sudah ada, seperti aplikasi Becer di Pasar Manis, kemudian aplikasi Go-Shoop. Tetapi, masih sangat sedikit yang memanfaatkannya.

Selain aplikasi tersebut, baru-baru ini Bank Indonesia Purwokerto juga sudah me-lanunching Quick Responce Code Indonesia Standart (QRIS), yang merupakan layanan pembayaran nontunai.

Sementara itu, beberapa pedagang di Pasar Wage Purwokerto mengaku belum siap untuk layanan belanja online.

Salah satu pedagang, Warkim, mengaku HP yang dimilikinya masih jadul dan tidak bisa untuk aplikasi belanja online.

Selain itu, menurutnya, pasar tradisional selama ini identik dengan keraiaman, pembeli datang ke pasar dan ada tawar-menawar barang. Jika semua layanan menggunakan online, maka pasar akan sepi dan omzet pedagang dipastikan menurun.

“Kalau kita lebih mantap tetap berjualan di pasar dan pembeli datang ke sini, jadi bisa memilih barang sendiri, bisa tawar-menawar harga, pembeli lebih mantap dan pedagang juga lebih laris dagangannya,” tuturnya.

Warkim mengatakan, budaya di pasar tradisional adalah antara pembeli dan pedagang bertemu. Hal ini berbeda dengan pasar modern atau mal yang lebih memungkinkan untuk penerapan belanja online, karena harga dan produk sudah tercantum dengan jelas.

Lihat juga...