Tombak Leluhur

CERPEN KIKI SULISTYO

Ilustrasi Helmi Fuadi

DIA datang lagi. Sudah tiga kali di minggu ini. Mengenakan baju longgar dengan motif ikat celup, aksen rumbai-rumbai, juga ikat kepala. Pada pandangan pertama, Sirin langsung menduga, dia seorang hippies; kelompok pengembara yang berpindah-pindah permukiman.

“Bagaimana? Sudah memutuskan?” tanyanya. Sirin baru bangun. Hampir tengah hari, lalat-lalat musim panas berputar-putar. Sebagian terperangkap teralis di mana sinar matahari disaring dan menjadi lebih ringan ketika menyentuh benda-benda dalam ruangan.

Sirin masih mengenakan baju tidur pendek sehingga bagian bawah paha serta kakinya yang bertato terlihat mencolok. Si Hippies memperhatikan tato itu sebentar, seakan hendak mencari tanda yang bisa menghubungkannya lebih dekat dengan Sirin.

Sembari merapikan rambut, dengan acuh Sirin melangkah ke dapur, mengambil gelas, menuang air ke dalamnya, dan langsung meneguknya. “Kapan Anda akan pulang?” tanya Sirin.

Gelas masih di tangannya. “Mungkin sampai kamu bersedia melepas tombak itu,” jawab si Hippies. Ia menepuk-nepuk permukaan kursi sofa yang sudah koyak sebagiannya, lantas duduk di sana. Sirin kembali menuang air kemudian membawa air itu dan meletakkannya di meja persis di hadapan si Hippies.

Tamu itu mengucapkan terima kasih. Mereka kini duduk berhadapan. Sirin mengelus-elus betisnya seakan terganggu dengan tato yang ada di sana.

“Kalau aku tidak melepasnya, berarti Anda akan terus datang?”

“Sepertinya begitu. Saya tidak punya pilihan lain. Sudah banyak waktu yang saya buang untuk bisa sampai ke sini. Saya pikir barang itu juga tidak begitu berarti buat kamu.”

“Kenapa Anda berpikir begitu?”

“Sepertinya kamu bukan jenis orang yang punya perhatian terhadap barang-barang.”

Beberapa ekor lalat melayang-layang di sekitar kepala Sirin, seekor di antaranya hinggap di hidung. Sirin membiarkannya. Si Hippies melihat lalat itu lalu mengibaskan tangan ke wajahnya sendiri seakan ada lalat juga yang hinggap di sana. Lalat di hidung Sirin kembali terbang berputar-putar.

“Kamu bahkan tidak memperhatikan lalat,” ujar Si Hippies.

“Rupanya Anda sangat memperhatikan segala sesuatu. Ngomong-ngomong, Anda memilih berpakaian seperti itu karena apa?”

“Oh, kamu tidak menyukainya?”

“Bukan. Seperti yang Anda katakan, aku tidak punya perhatian terhadap barang-barang. Hanya saja, Anda mengingatkan saya pada seseorang.”

“Oh ya? Tetapi bukannya setiap orang mengingatkan seseorang pada seseorang lain?”

“Begitukah?”

“Ya. Kamu juga mengingatkan saya pada seseorang.”

“Siapa?”

“Namanya Eva. Dia orang pertama yang mengatakan bahwa leluhur saya adalah pemburu. Itu informasi yang menarik sekali, setidaknya saya jadi tahu apa yang harus saya lakukan dalam hidup saya.”

“Ajaib. Anda juga mengingatkanku pada Eva.”

“Siapa dia?”

“Seorang kawan.”

“Cuma seorang kawan?”

“Ya. Hmm, aku mungkin tidak akan melepas tombak itu.”

“Kamu tidak perlu terburu-buru. Apa kamu tidak mau mengetahui kenapa saya sangat menginginkan tombak itu?”

“Itu tidak penting. Toh, apa pun itu tidak akan berhubungan denganku.”

Seekor lalat kembali hinggap, kali ini di dekat mata Sirin. Lalu terdengar suara ribut-ribut dari luar rumah. Seorang lelaki muda tergopoh-gopoh masuk, muka dan lehernya mengilat oleh keringat. Tanpa basa-basi dia langsung berseru, “Mana tombak itu. Ada babi hutan mengamuk!”

“Di mana?” tanya Sirin. Lelaki itu menjawab sembari mengusap leher dan wajah dengan kaos kumalnya, “Di ladang. Sepertinya tersesat, sudah ada banyak luka di badannya, tapi ia masih kuat. Mungkin ia lolos dari pemburu. Di mana tombak itu? Biar aku ambil sendiri.”

“Tidak ada. Tombak itu sudah kujual,” ucap Sirin. Si Hippies menatap Sirin dengan tajam.

“Kau jual?” Lelaki itu menghentikan ucapannya ketika disadarinya Sirin tidak sendirian. Cahaya matahari yang masuk dari berbagai lubang membias di lantai dan benda-benda yang tidak ditata rapi. Di sudut-sudut dinding, jaring laba-laba bergelantungan.

Laba-laba kaki panjang menggerakkan badannya turun naik seperti sedang senam. Bangkai capung, lalat, dan lebah mengering terbungkus jaring mereka.

“Dia yang beli?” tanya si lelaki sambil mendelik ke arah si Hippies.

“Bukan.”

“Kalau begitu kau berbohong,” lelaki itu segera bergerak hendak masuk ke kamar tidur Sirin. Dengan sigap Sirin mencegahnya; ia berdiri dan merentangkan tangan kanannya untuk menahan si lelaki. Tangan itu melintang di perut si lelaki, sementara jari-jarinya mencengkeram bagian pinggang dengan kuat.

“Ada apa? Kenapa aku tidak boleh memakai tombak itu? Itu bukan milikmu saja, kau tidak berhak menjualnya, dan selama tombak itu masih ada, aku juga berhak memakainya.”

Si lelaki berusaha melepaskan diri, tubuh mereka bertegangan, lantas dengan satu sentakan keras, lelaki itu berhasil lepas dari Sirin. Tubuh Sirin sempoyongan ke kiri, tangannya tak sengaja mengayun, mengenai gelas.

Air tumpah, menggenang di meja, bergerak melebar, lalu jatuh lewat tepi meja, seperti air terjun. Si Hippies hendak meraih gelas, tapi segera diurungkan. Ia malah melompat dan menyambar lengan si lelaki.

“Tombak itu sudah jadi milik saya!” seru si Hippies. Lelaki itu menoleh ke arah Sirin.

“Benar begitu?” tanyanya. Sirin terdiam. Si Hippies melanjutkan, “Itu milik leluhur saya. Dia pemburu. Mata tombak itu terbuat dari tulang binatang terakhir yang diburunya. Seorang perompak lalu merampasnya. Saya datang dari jauh untuk mengambilnya kembali.”

“Omong kosong. Leluhur kami yang membuat sendiri tombak itu. Dia juga pemburu, dan mata tombak itu memang terbuat dari tulang binatang terakhir yang diburunya. Anda pasti sudah mendengar cerita lalu mengaku-ngaku. Sekarang lepaskan tangan Anda atau saya akan berlaku kasar.” Si Hippies bertahan.

“Berarti perompak itu leluhurmu,” serunya. Tak sampai berapa lama lelaki itu lalu menyentakkan lengannya. Jemari si Hippies masih bisa mencengkeram ujung kaus si lelaki, tapi si lelaki segera mendorongnya ke belakang.

Lelaki itu segera masuk kamar. Ketika keluar kembali, di tangannya sudah ada tombak besi sepanjang dua meter. Melihat Sirin dan tamunya berdiri seperti hendak menghalangi, diacungkannya tombak itu. Mata tombak tampak putih mengilat seperti baru dipasang, berbeda dengan batangnya yang sudah berkarat.

“Jangan menghalangi. Kalian mau mati duluan sebelum kubunuh babi hutan itu?” seru si lelaki.

Sirin menimpali, “Oh, kau mau membunuhku sebagaimana kau bunuh Eva.”

“Jangan ungkit soal itu. Aku tidak membunuh Eva. Dia tidak mati. Aku biarkan ia pergi bersama rombongan sirkus yang tampang orang-orangnya mirip seperti temanmu ini! Dan Anda.” Lelaki itu berpindah tatapan ke si Hippies, “Anda bisa bahasa kami. Anda pasti dari rombongan sirkus juga.”

“Jangan bodoh, Adam. Aku tahu Ayah tak memintamu melakukan ini. Serahkan tombak itu sekarang.”

“Minggir! Aku mau bunuh babi hutan!” Adam maju setindak. Dengung lalat berputar-putar di udara. Debu mengapung dalam panel cahaya matahari. Seekor lebah terperangkap jaring laba-laba, mengepak-ngepakkan sayapnya berusaha lepas.

Otot tangan Adam mengeras menampakkan akar-akar urat. Ketika ujung kausnya tertarik ke atas, si Hippies melihat sebuah tato di lengan Adam. Si Hippies teringat sesuatu.

Mendadak dari arah luar terdengar keributan. Semua melihat ke arah pintu yang terbuka persis ketika seekor babi hutan masuk menghambur.

Babi itu berlari ke sana ke mari. Menyeruduk kursi, meja, dinding, dan membuat benda-benda berjatuhan. Si Hippies terpekik ketakutan, mencoba mencari tempat untuk menghindar dari serudukan babi. Sementara Sirin berdiri tenang seakan itu bukan kejadian istimewa.

Adam bergerak menerjang babi hutan ketika babi itu berlari ke arahnya. Mata tombak menancap di perut, babi itu menguik keras. Tubuh Adam nyaris terseret sebab tombak itu masih dipegangnya dengan kuat. Ditariknya tombak itu, lalu ditancapkannya lagi berkali-kali.

Si babi nampaknya masih bertahan, bahkan nampak makin ganas, meski tubuhnya sudah koyak dan darah berceceran di lantai. Sambil terus menerus menguik binatang itu berlari ke arah pintu, seakan ia telah melihat jalan untuk selamat, meski larinya sudah sempoyongan.

Baru saja ia sampai di ambang pintu, dengan kekuatan penuh Adam melontarkan tombaknya. Babi itu menguik panjang sebelum rebah dan tak bergerak lagi, mata tombak menembus tubuhnya.

Berbarengan dengan itu beberapa orang berdatangan. Mereka berkumpul di ambang luar pintu. Salah seorang dari mereka menyeruak kerumunan dan melangkah masuk. Dia berdiri tepat di atas babi hutan itu, memegang batang tombak dan lalu menariknya.

Si Hippies yang tadi bersembunyi di pojok dekat lemari sudah keluar. Sementara Adam membuka kausnya, Sirin berdiri tenang menatap orang yang baru datang. Sekarang Si Hippies bisa melihat tato di lengan Adam dengan lebih jelas. Ia ingat tato yang sama ada di kaki Sirin.

Orang yang baru masuk itu berambut kelabu. Tulang pipinya menonjol, matanya sipit seperti dibuat hanya dari satu garis. Tubuhnya kurus namun tampak keras. Dia berdiri mengamati tombak di tangannya.

“Aku yang menombaknya, Ayah,” kata Adam tiba-tiba. Lelaki itu menoleh ke luar, lalu memberi tanda. Beberapa orang masuk, mengangkat babi, dan membawanya keluar. Lalat-lalat kian banyak beterbangan, sebagian hinggap di bekas darah babi. Orang berambut kelabu menghampiri Adam.

“Kita akan adakan upacara. Aku dengar ada wabah yang sudah menyebar. Babi tadi memberi tanda. Kita harus sucikan kawasan ini,” ucapnya sambil menyodorkan tombak pada Adam. Lelaki itu tahu, mensucikan artinya ada yang harus dikorbankan.

“Sebentar,” ujar si Hippies menyambar. “Tombak itu milik leluhur saya. Biarkan saya membawanya kembali. Saya bersedia menyerahkan sejumlah uang sebagai gantinya.”

Orang berambut kelabu tak jadi menyerahkan tombak itu. “Anda bisa bahasa kami. Dari mana?” tanyanya.

“Islandi,” jawab si Hippies. Orang berambut kelabu menggoyang-goyangkan tombak di tangannya, seperti hendak menimbang-nimbang berat benda itu.

“Rupanya bukan pertama kali Anda ke rumah ini, saya pernah melihat Anda sebelumnya. Tombak ini adalah tujuan Anda. Bagaimana kalau Anda datang ke rumah saya dan kita bicara di sana?” Si Hippies melirik ke arah Sirin, perempuan itu mematung, tetap tak menghiraukan lalat-lalat yang terus hinggap di wajahnya. Lalu Si Hippies berpaling ke Adam. Lelaki ini juga diam, tak tampak ada tanda apa pun di wajahnya.

“Bagaimana? Sudah memutuskan?” tanya si rambut kelabu. Si Hippies diam. Lebah yang terperangkap di jaring laba-laba itu sudah mati. Dengung lalat musim panas terus berputar-putar di udara.

Kini lalat-lalat biru turut masuk, mereka telah mencium amis darah di tempat itu. Salah satu di antaranya hinggap di hidung si Hippies. Tapi perempuan itu tak menghiraukannya. ***

Kiki Sulistyo, meraih penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 untuk kumpulan puisi Di Ampenan, Apalagi yang Kau Cari? (Basabasi, 2017) dan buku puisi terbaik TEMPO 2018 untuk Rawi Tanah Bakarti (Diva Press, 2018). Ia mengelola Komunitas Akarpohon, di Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Cerpen yang dikirim orisinal, hanya dikirim ke Cendana News, belum pernah tayang di media lain baik cetak, online atau buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Karya yang akan ditayangkan dikonfirmasi terlebih dahulu. Jika lebih dari sebulan sejak pengiriman tak ada kabar, dipersilakan dikirim ke media lain. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.

Lihat juga...