Topaz Hasil Iradiasi BATAN Miliki Nilai Ekonomis Tinggi

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

JAKARTA — Topaz, merupakan salah satu batu mulia yang sering dipergunakan sebagai bagian dari perhiasan dan tentunya memiliki nilai yang mahal. Tapi tidak banyak yang tahu, kalau batu ini memiliki warna asli putih atau bening, yang dengan menggunakan teknologi nuklir diubah warnanya.

Peneliti Ahli Utama Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) Endiah Puji Hastuti saat diskusi online, Selasa (29/9/30) – Foto Ranny Supusepa

Di Indonesia, yaitu di Reaktor GA Siwabessy Serpong, radiasi neutron digunakan untuk menghasilkan batu Topaz berwarna biru yang memiliki nama komersial Swiss Blue dan London Blue, yang menyumbangkan nilai ekspor tinggi pada pendapatan non pajak Indonesia.

Peneliti Ahli Utama Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) Endiah Puji Hastuti menyampaikan, pemanfaatan neutron pada batu Topaz hanyalah satu dari berbagai kebermanfaatan nuklir.

“Dengan memanfaatkan neutron hasil dari reaksi di reaktor, akan terjadi peningkatan sifat optik dari batu mulia. Yaitu dengan menggunakan tingkat radiasi pengion yang tinggi, yang dapat mengubah struktur atom kisi kristal dan selanjutnya mengubah sifat optik di dalamnya,” kata Endiah saat acara diskusi nuklir, Selasa (29/9/2020).

Saat sifat optiknya berubah, lanjutnya, maka warnanya juga akan berubah sesuai dengan masa iradiasinya.

“Kalau di alam prosesnya membutuhkan waktu lama. Tapi dengan iradiasi, untuk menghasilkan Swiss Blue itu tiga jam dan untuk London Blue membutuhkan waktu 10 jam,” urainya.

Tidak hanya menggunakan neutron, merubah sifat optik batu permata bisa juga dilakukan dengan akselerator partikel untuk penembakan elektron dan fasilitas sinar gamma dengan menggunakan isotop radioaktif Cobalt-60.

“Proses iradiasi ini memang menyebabkan aktivasi pada batu permata tapi dengan proses pendinginan dan peluruhan akan menurunkan angka radiasi sesuai dengan angka yang diizinkan yaitu kurang dari 0,2 mikroSievert per jam per gram atau 1,752 miliSievert per tahun,” ucapnya.

plt. EVP Kualitas Teknik PT INUKI (Persero), Ira Arianti mengatakan batu Topaz asli yang berwarna putih atau bening, biasanya didapatkan dari proses ledakan.

“Dari batu Topaz asli ini, INUKI yang sudah memiliki izin pemanfaatan tenaga nuklir ekspor pengalihan peralatan yang mengandung zat radioaktif dan izin pemanfaatan tenaga nuklir produksi barang konsumen yang mengandung zat radioaktif serta didukung oleh peraturan Menteri Perdagangan tentang ketentuan eksport hasil pertambangan hasil pengolahan dan pemurnian, dilakukan iradiasi dengan sebelumnya dilakukan tahapan produksi sesuai regulasi,” kata Ira.

Proses iradiasi yang merubah warna dari batu Topaz ini, urainya, mampu memberikan tampilan yang terlihat lebih cantik dan juga memiliki nilai yang lebih mahal.

“Cantik dan aman. Karena pengeluaran batu Topaz, ke masyarakat atau dalam hal ini ke pihak yang melakukan pemesanan, setelah dilakukan pendinginan yang memastikan angka radiasi sudah sesuai dengan regulasi yang berlaku,” ucapnya.

Tingkat penjualan batu Topaz ini, lanjutnya, mengalami grafik kenaikan secara bertahap. Dari data, pada 2018 menunjukkan angka penjualan sekitar Rp504 juta, meningkat menjadi sekitar Rp699 juta dan hingga Agustus 2020 sudah mencatatkan angka Rp1,434 miliar.

“Dari angka ini terlihat, bahwa prospek nilai ekspor batu Topaz ini memang memberikan hasil cukup signifikan pada penerimaan negara non pajak. Produknya sudah pasti aman dan memenuhi persyaratan keselamatan yang berlaku,” ujarnya.

Terkait potensi pemanfaatan iradiasi pada batuan asli Indonesia, Ira menyatakan masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut.

“Penggunaan teknologi iradiasi pada batuan asli Indonesia tentunya masih membutuhkan kajian lebih lanjut. Secara teori bisa saja, tapi memang harus diuji dengan tepat penambahan nilai estetik dan juga nilai ekonominya,” pungkasnya.

Lihat juga...