Tukang Kayu di Lamsel Gunakan Alat Modern Agar Tetap Laku

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Penggunaan alat modern menjadi solusi bagi sejumlah tukang kayu dan bangunan, agar bisa tetap bertahan di zaman modern.

Sarmino, tukang kayu pembuat mebel, mengaku semula hanya memakai peralatan sederhana. Namun, kini peralatan seperti gergaji, sugu, pasah, tatah, gerinda, bor, pengukur dan alat profil, kini telah beralih ke peralatan elektrik dengan listrik.

Peralihan alat kerja yang semula mengandalkan tenaga manusia ke tenaga listrik memudahkan pekerjaan. Modernisasi alat dilakukan oleh pemilik usaha mebeler tempatnya bekeja. Sang pemilik, Sarifudin, mempergunakan alat elektrik mempercepat pembuatan mebel kayu. Peralihan alat modern tersebut sekaligus meningkatkan skill pekerja.

Mujiono, tukang kayu asal Desa Gandri, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, Selasa (1/9/2020). -Foto: Henk Widi

Sarmino menyebut, butuh proses belajar selama dua pekan menggunakan sejumlah alat. Pengoperasian alat tukang elektrik harus tepat untuk menghasilkan mebel yang rapi. Peralihan alat tukang dari jenis sederhana ke modern membuat pekerjaan lebih cepat dan hasilnya disukai konsumen. Usaha furniture di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan tempat kerjanya kerap menjadi rujukan.

“Perbandingan waktu pembuatan satu lemari dengan alat sederhana berupa gergaji dan sugu biasa dengan alat modern bisa mencapai selisih waktu empat hari, artinya modernisasi alat membantu efesiensi waktu,” terang Sarmino, Selasa (1/8/2020).

Penggunaan alat modern, menurut Sarmino sekaligus menjadi metode pemasaran. Sebab, hasil pekerjaan sejumlah produk mebel kerap harus diselesaikan dengan target waktu yang telah ditentukan. Pengerjaan sejumlah proyek sekolah, kantor pemerintah dan swasta yang telah ditentukan waktunya menuntut ketepatan waktu.

Penggunaan alat tukang modern sekaligus membantu efesiensi tenaga kerja. Selama ini, sejumlah pekerjaan dilakukan dengan melibatkan sekitar belasan orang dengan alat sederhana. Kini dengan alat modern, pekerjaan bisa diselesaikan dengan cepat hanya kurang dari lima orang. Alat tukang elektrik yang digunakan membantu kualitas mebel yang dibuat.

“Alat spryer atau penyemprot listrik memakai kompresor mempercepat pengecatan dan lebih halus,” terang Sumino.

Migrasi alat pertukangan sederhana ke modern juga dilakukan oleh Mujiono. Tukang kayu asal Desa Gandri, Kecamatan Penengahan itu telah beralih ke alat elektrik sejak 2000. Gergaji, sugu, alat profil, pengukur, bor dan gerinda sederhana diganti alat modern.

Ia butuh modal sekitar Rp5juta untuk melengkapi semua peralatan yang dimilikinya tersebut.

“Modal terbatas membuat saya membeli alat pertukangan elektrik kualitas nomor dua, tapi sangat membantu pekerjaan,” cetusnya.

Sejumlah alat tukang, sebut Mujiono, kerap dibeli mulai harga ratusan ribu hingga jutaan. Circular saw atau penggergaji listrik dibeli seharga Rp300.000, alat profil Rp550.000, alat bor Rp300.000. Sejumlah peralatan lain dibeli dengan kisaran harga yang bisa dijangkau olehnya. Pembelian peralatan elektrik menjadi modal awal modernisasi alat untuk meningkatkan kualitas pekerjaan.

Modal pembelian alat, menurutnya berasal dari hasil menabung upah jasa tukang. Memiliki sejumlah peralatan tukang modern yang lengkap, membuat ia selalu mendapat order pembuatan peralatan rumah tangga. Kusen pintu, jendela, meja, kursi, lemari dan peralatan rumah tangga lainnya dikerjakan dengan rapi dan cepat. Omzet per pekan sekitar Rp2juta bisa dikantongi.

“Modernisasi alat skala kecil bagi tukang kayu sederhana seperti saya cukup membantu, sehingga pekerjaan lebih rapi dan cepat,” terang Mujiono.

Selain bagi tukang kayu, modernisasi alat dan sistem pekerjaan dijalankan oleh Sumantri. Sebagai tukang kayu dan memiliki spesifikasi desain interior, ia menerima pemesanan pemasangan plafon. Semula jenis plafon yang dipasang merupakan kayu, triplek dan gypsum. Seiring perkembangan zaman, konsumen beralih ke plafon grc (glass fibre reinforced concrete) dan pvc (polivinil clorida).

“Minat konsumen yang berubah memaksa saya untuk meningkatkan skill dan memodernisasi alat,” beber Sumantri.

Semula, ia hanya menggunakan palu, gergaji dan bor manual. Namun, kini ia harus memakai bor elektrik, alat pengukur laser dan alat modern lainnya. Presisi dalam pemasangan plafon grc, pvc dikombinasikan dengan rangka baja. Modernisasi alat dilakukan untuk mempercepat pekerjaan, sehingga konsumen akan puas dengan hasil karyanya sebagai tukang.

Ketepatan dan kerapian pekerjaan pembuatan plafon membuat ia bisa bekerja cepat. Kerap dibayar harian rata-rata Rp100.000,  ia bisa mengantongi upah jutaan rupiah per bulan. Modernisasi alat sangat membantunya bekerja cepat, sehingga bisa pindah ke order lain. Makin banyak konsumen memakai jasanya, menjadikan ia selalu meningkatkan kualitas pekerjaan dan alat.

Lihat juga...