Tumpang Sari Pepaya Tambah Penghasilan Petani di Lamsel

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Sejumlah petani di Lampung Selatan, melakukan budi daya pepaya calina dengan sistem tumpang sari. Selain mudah dibudidayakan, permintaan pasar akan buah pepaya jenis lokal tersebut cukup besar.

Alfiyah, warga Desa Gandri, Kecamatan Penengahan, memilih budi daya pepaya calina (Carica Papaya L), yang kerap dikenal dengan sebutan pepaya california, dan yang merupakan varietas lokal yang bibitnya mudah diperoleh di toko pertanian.

Tumpang sari pepaya calina dilakukan dengan sayuran, pisang dan tanaman bumbu di pekarangan. Keunggulan menanam pepaya calina menurut Alfiyah, tidak membutuhkan penanganan khusus. Bibit yang telah disemai selanjutnya akan dipencarkan di media tanam dengan jarak 2 meter. Ketinggian tanaman mencapai 1,5 meter berbuah saat usia setengah tahun.

Alfiyah, salah satu pengepul buah dan sayuran memetik pepaya calina atau dikenal pepaya California untuk bahan pembuatan rujak dan buah segar di Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, Senin (7/9/2020). -Foto: Henk Widi

Budi daya pepaya calina, kata Alfiyah, seiring meningkatnya permintaan buah lokal. Buah pepaya calina digunakan oleh warga untuk kebutuhan buah segar, es buah, rujak, manisan, bahkan keripik.

Menanam puluhan pepaya calina di kebunnya, sejumlah tanaman telah berusia satu tahun. Pemanenan dilakukan setiap pekan, karena pepaya berbuah sepanjang musim.

“Pepaya tidak mengenal musim karena akan terus berbunga, berbuah dari bawah hingga pucuk, saat buah dipanen akan muncul bunga, demikian seterusnya hanya perlu perawatan pemberian pupuk dan pengairan secukupnya,” terang Alfiyah, saat ditemui Cendana News, Senin (7/9/2020).

Memiliki kandungan vitamin A dan C yang tinggi dan bagus untuk pencernaaan, membuat pepaya calina diminati. Alfiyah memamen pepaya calina dalam kondisi setengah matang atau mengkal hingga matang. Prospek permintaan berasal dari pedagang rujak, manisan dan es buah. Ia menjual pepaya langsung ke pedagang atau pengepul yang datang ke kebun miliknya.

Penjualan pepaya calina diakuinya cukup mudah, dengan harga jual Rp2.500 hingga Rp3.500 di tingkat petani. Sebagian pedagang menjualnya dengan sistem timbangan dengan harga Rp5.000 hingga Rp8.000 per kilogram.

Memanfaatkan kebun untuk tumpang sari, Alfiyah bisa memanen pisang, singkong dan berbagai jenis sayuran. Hasilnya, setiap dua pekan ia menghasilkan ratusan ribu dari penjualan hasil kebun.

“Memaksimalkan lahan untuk berbagai jenis budi daya pepaya calina, bisa jadi alternatif karena toleran pada tanah kurang subur,” bebernya.

Hasan, pembudidaya  pepaya calina memilih tumpang sari dengan tanaman jagung. Saat tanaman pepaya memasuki usia lima bulan, proses penanaman jagung bisa dilakukan. Saat pepaya calina siap berbuah, tanaman jagung memasuki proses pemupukan. Pemupukan jagung sekaligus memberi asupan nutrisi bagi tanaman pepaya calina.

Tanaman pepaya calina, sebutnya, memiliki daya tahan pada kondisi cuaca dan tanah yang kurang subur. Meski demikian, Hasan melakukan proses pengolahan lahan untuk budi daya pepaya calina. Kualitas buah yang dihasilkan akan makin manis, dan satu pohon bisa dipanen rata-rata dua hingga tiga buah saat pemetikan.

“Menanam ratusan pohon pepaya calina bisa mendapatkan omzet jutaan rupiah pe rbulan, karena buah tidak pernah berhenti,” cetusnya.

Selain dijual ke pengepul setiap pekan mencapai ratusan buah, pembeli kerap datang langsung ke kebunnya. Pembeli bisa memilih pepaya yang setengah matang hingga matang. Memasuki musim kemarau, permintaan buah pepaya meningkat sebagai buah segar dan berbagai olahan kuliner. Rasa manis buah pepaya calina menjadikan buah tersebut menjadi favorit.

Sementara itu penanaman pepaya calina dilakukan Sumardiono, dengan pepaya jenis genjah dan bulat. Jenis pepaya genjah dan bulat, menurutnya kerap digunakan untuk sayuran. Kebutuhan pepaya untuk sayuran digunakan untuk campuran pembuatan kuliner pecel dan sayuran lain. Jenis tanaman pepaya genjah juga bisa menghasilkan sayuran pada bagian daun.

Khusus untuk pepaya calina, Sumardiono hanya menjualnya untuk kebutuhan buah segar. Pembeli kerap datang membeli pepaya calina dari sejumlah petani yang melakukan sistem tumpang sari. Lahan budi daya tanaman pepaya calina masih bisa dimanfaatkan olehnya untuk penanaman jahe, cabai dan berbagai jenis tanaman bumbu. Penanaman pepaya calina, juga bisa dilakukan dengan budi daya tanaman pisang.

Nuramsah, pedagang buah di Bakauheni, menyebut pepaya calina banyak diminati. Buah yang memiliki warna kulit dan daging buah menarik dijual Rp6.000 hingga Rp8.000 sesuai ukuran. Penjualan pepaya calina di pasar tradisional masih cukup murah. Sebab, jenis pepaya calina yang dijual di pasar swalayan dijual dengan sistem timbangan.

“Harga pepaya calina di pasar swalayan lebih mahal, karena telah disortir untuk buah yang masuk grade A ukuran lebih besar, dijual per gram Rp800,”cetusnya.

Konsumen pepaya calina dominan ibu rumah tangga dan pedagang es buah dan rujak. Pasokan pepaya calina, menurutnya tidak pernah terkendala dari petani. Melimpahnya pasokan pepaya calina kerap berimbas buah membusuk sebelum habis terjual. Namun, pepaya yang nyaris membusuk masih dibeli oleh pembudidaya ikan gurami untuk pakan.

Lihat juga...