UB tak Bolehkan Interaksi Langsung ke Maba Cegah Kekerasan

Editor: Koko Triarko

MALANG – Melihat kondisi pandemi Covid-19 yang belum juga berakhir, banyak perguruan tinggi yang pada akhirnya terpaksa melaksanakan kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) secara online. 

Sayangnya, meskipun dilaksanakan secara daring, arogansi senior terhadap Mahasiswa Baru (Maba) masih saja terjadi. Seperti yang sempat terjadi di salah satu kampus di Surabaya.

Berkaca dari kejadian tersebut, Universitas Brawijaya (UB) yang hari ini melaksanakan kegiatan PKKMB secara daring, tidak memperbolehkan adanya interaksi verbal secara langsung oleh siapa pun kepada Maba.

“Di sistem kami interaksi antara maba dengan operator atau dengan tim kontrol itu tidak bisa dilaksanakan secara verbal langsung, jadi semua perintah dan pertanyaan disampaikan melalu chat,” jelas Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan UB, Prof. Dr. Drs. Abdul Hakim, M.Si., saat melakukan konferensi pers, di gedung rektorat, Sabtu (19/9/2020).

Kemudian untuk lebih meyakinkan agar tidak terjadi kekerasan secara verbal kepada maba, pihaknya juga telah menyiapkan 15 operator pengawas untuk mengontrol semua interaksi antara operator dengan maba. Operator pengawas ini berada persis di belakang operator utama.

“Belum lagi ada crisis center yang mengawasi semua jalannya PKKMB secara online,” tuturnya.

Selain itu, mereka yang ketahuan melakukan kekerasan verbal akan mendapat teguran langsung lewat sistem.

“Jadi, insyaallah tidak akan terjadi hal-hal seperti itu,” ucapnya.

Abdul Hakim juga menyampaikan, terkait pandemi Covid-19, panitia PKKMB tidak boleh memberikan tugas yang berdampak maba harus keluar ke ruang publik, misalnya ke pasar, mall atau tempat lain.

“Makanya tugasnya itu hanya berkisar pada membuat tulisan pendek, menjawab pertanyaan,” ungkapnya.

Sedangkan atribut yang diharuskan cuma pakaian seragam dan tanda peserta. Kemudian bagi mahasiswa difabel, agar bisa tetap mengikuti kegiatan PKKMB dengan baik, pihak panitia juga telah menyediakan penerjemah khusus yang menggunakan bahasa isyarat.

“Kami ada pemerjemah khusus untuk setiap kegiatan yang bisa dilihat oleh mahasiswa difabel di layar,” sebutnya.

Lebih lanjut disampaikan Abdul Hakim, kegiatan PKKMB daring yang melibatkan ribuan mahasiswa baru ini, diatur dengan membagi mereka ke dalam 64 kluster. Masing-masing kluster terdiri dari 250 mahasiswa baru yang tergabung dalam satu aplikasi Google Classroom (GC), dan dibimbing oleh seorang operator.

Koordinasi dan penugasan mahasiswa baru akan dikendalikan melalui GC. Selain GC, UB juga menggunakan aplikasi Zoom Meeting untuk setiap 1.000 peserta yang dipimpin seorang operator.

“Jadi, ada 64 operator GC dan 16 Operator Zoom untuk mengelola kegiatan agar informasi cepat tersampaikan, dan mahasiswa baru dapat merespons dengan baik,” ungkapnya.

Sementara itu terkait salah satu yang disampaikan tentang merdeka belajar dan kampus merdeka, Rektor UB, Prof. Dr. Ir. Nuhfil Hanani AR., MS., mengatakan, jika dulu perkuliahan hampir 100 persen dilakukan di kampus, sekarang dibuka yang namanya merdeka belajar. Minimal ada 20 SKS yang bisa dilakukan di luar kampus, seperti di perusahaan, pedesaan, maupun di industri.

“Diharapkan juga mahasiswa bisa mengambil mata kuliah di luar program studinya sekitar 20 SKS, sehingga mahasiswa bisa mempunyai bekal di dalam kampus dan di luar kampus,” pungkasnya.

Lihat juga...