YPI Berharap Upaya Konservasi Penyu Bisa Berkelanjutan

Editor: Koko Triarko

Pelepasliaran ratusan penyu hijau di perairan pantai Green Nirvana Resort Maratua,  Rabu (2/9/2020). –Foto: M Amin

MARATUA – Yayasan Penyu Indonesia (YPI), berharap upaya konservasi terus dilakukan secara struktural dan berkelanjutan. Antara pemerintah dengan masyarakat berjalan seiring,  sehingga, mimpi jangka panjangnya, Indonesia memiliki populasi penyu hijau terbesar di dunia bisa terwujud.

YPI mengapresiasi komitmen Menteri Kelautan dan Perikan, Edhy Prabowo, dalam mendukung kelestarian penyu hijau di tanah air.

Sebelumnya, Menteri Edhy Prabowo bersama YPI melepasliarkan 300 ekor tukik ke perairan pantai Green Nirvana Resort Maratua, sebagai bentuk komitmen Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dalam pelestarian biota laut yang terancam punah.

Ketua YPI, Bayu Sandi, menjelaskan, Kabupaten Berau merupakan habitat terbesar penyu hijau di tanah air. Populasinya berada di Pulau Sangalaki, Mataha, dan Bilang-Bilangan. Setiap tahun, kata Bayu, ada lebih dari 3.200 induk penyu bertelur di ketiga pulau itu.

“Tapi ada lagi yang lebih besar, yaitu di Pulau Sambit dan Blambangan,” sambung Bayu dalam rillis, diterima Cendana News, Rabu (2/8/2020).

Di dua pulau kecil terluar yang langsung berbatasan dengan Filipina tersbebut, induk-induk penyu bertelur dan menghasilkan 40 sarang dalam satu malam. Sehingga dalam satu bulan, Bayu memperkirakan ada 4.000 tukik yang dihasilkan dalam satu bulan dari kedua pulau ini.

Menteri Edhy, mewakili pemerintah pusat, mendorong semua pihak untuk ikut mendukung pelestarian penyu dan aneka hayati yang berada di perairan Indonesia.

“Tolong kami dikasih masukan. Kami siap menerima masukan dan terima kasih atas dedikasinya. Salam hormat, salut atas apa yang telah saudara-saudara lakukan. Maju terus dan kita selamatkan penyu Indonesia,” ujarnya.

Dikatakan, bahwa perlu keseimbangan antara konservasi dan kesejahteraan masyarakat, khususnya di pulau terluar Indonesia. Pelepasliaran tukik itu juga harus menjadi sarana edukasi pentingnya melestarikan penyu yang telah dilindungi secara nasional dan internasional.

“Jangan sampai untuk sekadar mengejar uang, kita melupakan konservasi. Tapi sebaliknya, selain kita mengejar konservasi kita juga jangan lupa untuk kasih makan anak-anak kita. Dua-duanya harus berjalan dengan baik,” imbuh Menteri Edhy.

Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut, Aryo Hanggono, menambahkan, bahwa pemberian status perlindungan saja jelas tidak cukup untuk memulihkan atau mempertahankan populasi penyu di Indonesia.

Menurut Aryo, pengelolaan konservasi yang komprehensif, sistematis dan terukur harus segera dilaksanakan, di antaranya dengan cara memberikan pengetahuan teknis tentang pengelolaan konservasi penyu bagi pihak-pihak terkait, khususnya pelaksana di lapangan.

“KKP telah menyusun Rencana Aksi Nasional (RAN) Konservasi Penyu sebagai acuan para pihak dalam upaya konservasi penyu di Indonesia,” terang Aryo.

Aryo juga mengungkapkan, keberadaan penyu di pulau Maratua, Berau bisa dikembangkan sebagai bagian dari ekowisata penyu yang dikelola secara swadaya oleh masyarakat setempat.

Sehingga, wisatawan yang datang ke Pulau Maratua tidak hanya menikmati keindahan Pulau Maratua, tetapi ikut serta menjadi bagian dari upaya pelestarian penyu di wilayah ini.

“Secara tidak langsung, masyarakat akan merasakan manfaat dari keberadaan penyu, sehingga akan lebih peduli dalam pelestariannya,” ungkapnya.

Lihat juga...