1.768 Kasus Demam Berdarah Terjadi di Sikka

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Sejak Januari 2020 hingga Senin 12 Oktober 2020, jumlah kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur mencapai 1.768 kasus, dengan jumlah korban meninggal dunia mencapai 16 orang anak.

Namun selama tiga minggu terakhir sejak akhir Sepetember hingga 12 Oktober 2020 belum ditemukan kasus DBD, meskipun Kabupaten Sikka sudah memasuki musim penghujan dan beberapa kali terjadi hujan.

“Untuk mengantisipasi kasus DBD, kami sudah bergerak cepat dengan membentuk Tim Gerak Cepat di 21 kecamatan di Kabupaten Sikka,” sebut Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, Petrus Herlemus, saat ditemui Cendana News di kantornya, Senin (12/10/2020).

Menurut Petrus, tim gerak cepat di setiap kecamatan ini akan berkoordinasi dengan pemerintah desa dan kelurahan agar bisa secara rutin melaksanakan gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) di wilayah kerja mereka masing-masing.

Sementara itu, lanjutnya, staf Dinas Kesehatan akan melakukan gerakan pemantauan angka bebas jentik dengan mendatangi setiap rumah, agar bisa diketahui mana wilayah yang rawan DBD dan bisa segera ditanggulangi.

“Saat ini, angka bebas jentik masih 65 persen. Kita harapkan angka bebas jentik di atas 95 persen agar bisa menekan jumlah kasus DBD, termasuk mencegah adanya korban jiwa karena terserang DBD,” ujarnya.

Petrus menambahkan, Dinas Kesehatan fokus menangani jentik dan berkoordinasi dengan badan dan dinas lintas sektor serta pihak kecamatan, desa dan kelurahan untuk gencar melaksanakan aksi bersih, guna memberantas sarang nyamuk.

Ia menyebutkan, Bupati Sikka juga sudah menginstruksikan kepada Dinas Lingkungan Hidup (DLH), agar segera mengerahkan armadanya untuk melakukan pembersihan saluran air dan lingkungan di wilayah Kota Maumere dan sekitarnya,” terangnya.

Dengan begitu, kata Petrus, diharapkan saat terjadi hujan air tidak tergenang di got atau saluran, sehingga menjadi sarang jentik, mengingat kasus DBD di Kota Maumere juga tergolong tinggi, termasuk wilayah Kecamatan Alok, Alok Barat, Alok Timur serta Bola dan Magepanda.

Menurutnya, 16 pasien yang meninggal dunia akibat DBD terjadi karena pihak keluarga terlambat membawa anak mereka ke fasilitas kesehatan, agar bisa segera ditangani tim medis dan sembuh.

“Saya sudah menginstruksikan kepada seriap Puskesmas, bila menemukan adanya pasien yang mengalami demam, maka harus ditangani sesuai protokol penanganan DBD. Ini mencegah terlambatnya penanganan medis sambil menunggu hasil cek darah, guna memastikan apakah pasien tersebut mengalami DBD atau tidak,” terangnya.

Petrus memaparkan, Tim Gerak Cepat (TGC) di kantor Dinas Kesehatan ada5 dan masing-masing membawahi 5 Puskesmas sementara TGC di kecamatan membawahi desa dan kelurahan yang ada di bawahnya.

Sementara itu, dr. Mario B. Nara, SpA., mengatakan, RS TC Hillers Maumere khususnya ruangan anak sejak dua hari terakhir sedang melakukan perawatan terhadap 3 orang anak yang terserang DBB, dan kondisi trombositnya masih jauh di bawah angka normal.

Ketiga pasien DBD ini, kata Mario, yakni  Maria Yuliana asal Desa Koting A berumur 7 tahun, Anastasia Yasinta AB Diaz berumur setahun dan Zionatan berumur 7 bulan, keduanya asal Desa Lepolima.

“Tenaga medis sedang berupaya meningkatkan angka trombosit para pasien, karena jumlahnya masih jauh di bawah normal. Orang tua harus memantau anaknya. Bila ditemukan demam, maka segera dibawa berobat ke fasilitas kesehatan,” imbaunya.

Lihat juga...