Airlangga Klaim Program PEN Mulai Hasilkan Perbaikan

Editor: Koko Triarko

Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto, menjadi narasumber pada acara diskusi bertajuk, Strategi Indonesia Keluar dari Pandemi secara virtual, Senin (26/10/2020). –Foto: Amar Faizal Haidar

JAKARTA – Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengklaim program pemulihan ekonomi nasional (PEN) yang dimulai sejak Juni 2020 dengan anggaran Rp695 triliun, kini mulai menunjukkan berbagai perbaikan terhadap sejumlah instrumen perekonomian Indonesia.

Menurut Menko Perekonomian, setidaknya ada enam indikator yang terus menunjukkan tren membaik, mulai dari realisasi penanaman modal, neraca perdagangan, inflasi, kinerja pasal modal, stabilitas sektor jasa keuangan, hingga ketahanan sektor eksternal.

“Kinerja Perdagangan Luar Negeri hingga September 2020 mencatat surplus. Hal ini terjadi seiring penurunan impor lebih dalam dibanding ekspor, sehingga neraca perdagangan Januari sampai September 2020 surplus USD 13,51 milliar. Angka ini lebih baik dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yaitu defisit USD 2,24 miliar dengan total defisit 2019 sebesar USD 3,59 miliar,” terang Airlangga, dalam diskusi bertajuk, Strategi Indonesia Keluar dari Pandemi secara virtual, Senin (26/10/2020).

Sementara itu, perkembangan inflasi di tengah pandemi dipengaruhi oleh kestabilan harga yang terjaga dan kondisi permintaan yang masih membutuhkan dorongan.

“Dukungan stimulus perlindungan sosial terus kami berikan, agar dapat mendorong naiknya permintaan melalui peningkatan daya beli masyarakat,” tandasnya.

Kemudian, di tengah kondisi ketidakpastian ekonomi global, stabilitas sektor eksternal Indonesia masih terjaga. Cadangan devisa tetap memadai untuk pembayaran utang luar negeri dan stabilisasi nilai tukar.

Ada pun kinerja pasar modal juga mulai menunjukkan pemulihan sejak penurunan tajam pada 24 Maret 2020. Dari saham sektoral, sektor industri dasar dan pertanian telah meningkat di atas 40 persen sejak titik terendahnya.

“Kalau kita lihat pasar modal, kita sudah kembali ke jalur 5000, dari titik terendah di bulan Maret 2020 kemarin. Kita tetap punya daya tahan,” imbuh Airlangga.

Menurutnya, stabilitas sektor jasa keuangan pun masih terjaga. Ke depan, dengan terus bergulirnya program seperti Penempatan Dana PEN di perbankan, diharapkan stabilitas dan pertumbuhan sektor jasa keuangan terus menguat.

Lebih lanjut, terkait realisasi Penanaman Modal, kata Airlangga, hingga September 2020 sebesar Rp611,6 triliun atau tumbuh 1,7 persen year on year (yoy). Capaian tersebut merupakan 74,8 persen dari target Penanaman Modal di 2020 sebesar Rp817,1 triliun.

“Secara kumulatif, penyerapan tenaga kerja dari penanaman modal tersebut hingga September 2020 mencapai 861.581 tenaga kerja, naik 22,50 persen (yoy) dibanding tahun lalu,” ujar Airlangga.

Di forum yang sama, Sekretaris Kemenko Perekonomian, Susiwijono, mengakui pandemi Covid-19 telah menyebabkan bertambahnya jumlah pengangguran. Sebelum pandemi, terdapat 6,9 juta pengangguran, belum termasuk 3,5 juta pekerja yang di-PHK atau dirumahkan, dan 3 juta angkatan kerja baru yang setiap tahun membutuhkan pekerjaan. Sehingga, total kebutuhan lapangan kerja baru mencapai sekitar 13,4 juta.

“Salah satu program pemerintah untuk mengatasi masalah pengangguran adalah dengan Kartu Prakerja,” kata Susiwijono.

Kartu Prakerja, kata Susiwijono, telah diakses oleh lebih dari 35,1 juta pendaftar dan yang menerima manfaat mencapai lebih dari 5,59 juta peserta. Dari jumlah tersebut, peserta yang telah menyelesaikan pelatihan sebanyak 4,6 juta dan yang menerima insentif 3,8 juta peserta.

“Selain itu, UU Cipta Kerja juga menjadi instrumen utama dalam mengatasi berbagai tantangan nasional, mulai dari penyediaan lapangan kerja, pemberdayaan UMKM, hingga Reformasi Regulasi. Ini semua untuk mendorong transformasi ekonomi dan pemulihan ekonomi nasional,” pungkasnya.

Lihat juga...