Akademisi: Industri Halal Magnet Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

Dosen Pascasarjana ITB Ahmad Dahlan Jakarta, Arief Safari, pada diskusi virtual di Jakarta, Sabtu (24/10/2020). Foto: Sri Sugiarti.

JAKARTA — Dosen Pascasarjana ITB Ahmad Dahlan Jakarta, Arief Safari mengatakan, industri halal dapat menjadi magnet untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Namun sayangnya, kata dia, Indonesia masih berkutat di masalah sertifikasi halal dan standarlisasi halal. Padahal kalau dilihat dari tantangan ekosistem halal kedepan berdasarkan data State of Global Islamic Economy Report 2019/20, kondisi industri halal di Indonesia dari enam sektor yakni, keuangan Islam, makanan halal, travel halal, fesyen muslim, obat-obatan dan kosmetik serta media dan rekreasi halal.

“Itu halal travel Indonesia menempati posisi ke 4 secara persaingan di dunia, kemudian keuangan syariah di posisi 5, farmasi dan kosmetika halal posisi ke 8,” ujar Arief, pada diskusi virtual di Jakarta, Sabtu (24/10/2020).

Sedangkan makanan halal, fesyem muslim serta media dan rekreasi muslim, tidak masuk dalam rangking 10 besar dunia. Padahal menurutnya, Indonesia penduduk muslim terbesar di dunia. Inilah yang menjadi tantangan kedepan dalam pengembangan industri halal di Indonesia.

Karena berdasarkan laporan State of Global Islamic Economy Report 2019/20, beberapa faktor yang menjadi pendorong ekonomi syariah adalah populasi muslim yang diperkirakan tumbuh hingga 2,2 miliar jiwa pada 2030.

“Kedepan luar biasa, penduduk muslim bisa menjadi 2,2 miliar jiwa di tahun 2030, sangat besar,” tukasnya.

Kemudian lanjut dia, meningkatnya Produk Domestik Bruto (PDB) atau pendapatan per kapita negara muslim anggota Organization of Islamic Cooperation (OIC) atau Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) yang berjumlah 57 negara, dengan asumsi 4,3 persen per tahun juga menjadi faktor pendorong.

Selain itu, meningkatnya ketertarikan terhadap agama yang ditandai dengan hasil survei, bahwa 76 persen muslim menganggap agama sangat penting bagi kehidupan juga membawa pengaruh pada ekonomi syariah.

“Ini artinya, mereka tidak care sebelumnya apakah produk ini halal atau tidak, sekarang sudah 76 persen mereka sudah lebih konsen baha ingin betul-betul menjalankan hidup sesuai dengan ajaran agama, termasuk salah satunya mengkonsumsi produk halal,” ungkapnya.

Koneksi digital yang semakin baik dan tingginya impor makanan dan minuman yang dilakukan negara OKI mencapai US$184 miliar, potensinya sangat luar biasa.

“Saat ini, impor produk halal negara OKI US$184 miliar. Namun di internal OKI sendiri perdagangannya hanya capai US$ 34 miliar, US$ 150 miliar itu datang dari negara non IKO,” ujar Arief Safari yang merupakan Komisioner Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN).

Inilah menurutnya, peluang bagi Indonesia untuk menumbuh kembangkan potensi produk halal kedepan, di antaranya di sektor makanan dan minuman halal, fesyen muslim, travel muslim, farmasi dan kosmetik halal, serta media dan rekreasi muslim.

“Sektor yang berpotensi inilah yang perlu dioptimalkan,” tukasnya.

Sehingga menurutnya, tantangannya adalah bagaimana Indonesia bisa bergeser dan fokus bukan hanya bicara masalah sertifikasi halal dan standarisasi halal.

“Coba kita bicara dengan ekosistem yang lebih luas, karena peluangnya bahwa kita menggunakan halal ini sebagai magnet untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia, ini sangat luar biasa,” ujarnya.

Indonesia menurutnya, bisa mengembangkan dari infrastuktur, dalam hal ini misalnya halal industri park, dan reliability sistem. Sedangkan dari sisi servis atau layanan harus terus ditingkatkan, seperti logistik, bank syariah, asuransi syariah, farmasi halal, makanan halal dan wisata halal.

Terpenting dalam pengembangan industri halal ini, adalah menurutnya dukungan dari pemerintah.

“Halal, mari kita sama-sama berpikir, bahwa halal ini bisa menjadi satu magnet pendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia kedepan. Apakah bisa, ya kita harus bisa,” pungkasnya.

Lihat juga...