Aktivitas Warga Badui di Lebak tak Terhalang Pandemi

LEBAK — Aktivitas kegiatan ekonomi masyarakat adat Badui yang tinggal di pedalaman Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, hingga kini tak terhalang pada saat pandemi COVID-19 dan tetap bekerja di ladang dan menghasilkan aneka kerajinan.

“Semua warga Badui tetap bekerja dan tidak ada yang menganggur saat pandemi COVID-19,” kata Kepala Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak yang juga tetua adat Badui, Jaro Saija, Sabtu 93/10/2020).

Masyarakat Badui Dalam maupun Badui Luar dengan penduduk 11.620 jiwa dan terdiri dari 5.870 laki-laki dan 5.570 perempuan hingga kini tidak mengalami masalah ekonomi akibat pandemi corona yang banyak terjadi pada masyarakat di berbagai daerah di Indonesia.

Selain itu juga warganya tidak ditemukan kerawanan pangan maupun kelaparan, sebab mereka bekerja di ladang-ladang bercocok tanam padi huma, palawija, hortikultura dan tanaman keras.

Tanaman yang dikembangkan warga Badui itu bisa menopang ekonomi bulanan, seperti hortikultura jenis sayur-sayuran dan palawija jenis kacang tanah dan jagung sebagai penghasilan ekonomi bulanan.

Sedangkan, kata dia, tanaman keras di antaranya pohon albasia dan lame bisa menghasilkan ekonomi lima tahunan.

Disamping itu juga masyarakat Badui berkembang aneka kerajinan kain tenun, tas koja, souvenir dan minuman madu lebah serta golok.

Kerajinan masyarakat Badui itu hingga kini menopang ekonomi keluarga, meski merebaknya penyebaran pandemi COVID-19.

“Para perajin itu kini menjual produknya melalui jaringan internet secara online dan banyak pesanan dari luar daerah,” katanya menjelaskan.

Santa (50) seorang warga Badui mengaku bahwa dirinya hingga kini bisa menghasilkan pendapatan ekonomi di tengah pandemi Corona dengan menjual pisang dan sayuran dari hasil bercocok tanam di ladang.

Produksi pertanian di lahan ladang itu cukup terbantu pendapatan ekonomi keluarga dengan bercocok tanam padi huma, pisang, sayuran dan umbi-umbian.

“Kami bisa meghasilkan uang hasil penjualan becocok tanam sekitar Rp5 juta/bulan,” kata Santa yang memiliki lahan ladang seluas 1,5 hektare.

Amir (50) seorang perajin Badui mengaku dirinya kini memasarkan produk aneka kerajinan melalui jaringan internet atau daring secara online sehubungan sepinya wisatawan yang berkunjung ke kawasan masyarakat adat Badui.

Bahkan, saat ini kawasan perkampungan masyarakat adat Badui di Desa Kanekes Kecamatan Leuwidamar ditutup akibat adanya pemberlakuan pembatas sosial berskala besar (PSBB).

Karena itu, dirinya terpaksa mengandalkan pemasaran secara online untuk menghasilkan pendapatan ekonomi.

“Kami bisa menjual produk aneka kerajinan tenun, souvenir dan madu lebah hingga Rp10 juta/bulan melalui pemasaran secara online itu,” katanya menjelaskan.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Lebak Dedi Rahmat mengapresiasi perajin masyarakat Badui tidak terdampak COVID-19 karena mereka memasarkan produknya melalui media sosial, seperti istagram, twitter, facebook dan aplikasi market-place.

Saat ini, perajin masyarakat Badui sekitar 560 unit usaha dan mereka hingga kini masih memproduksi kerajinan.

“Kami berharap kerajinan warga Badui itu dapat menopang kehidupan mereka menjadi lebih baik dan sejahtera,” ujarnya. (Ant)

Lihat juga...