Angka Kemiskinan di NTB Masih Mencapai 13,9 Persen

MATARAM – Pemprov NTB mencatat, tingkat kemiskinan di daerah itu masih mencapai 13,9 persen, dengan jumlah penduduk lebih dari 5 juta jiwa.

“Dengan jumlah penduduk kami yang 5 juta lebih angka kemiskinan di NTB masih cukup tinggi yaitu 13,9 persen. Tahun lalu dari catatan BPS angka kemiskinan kami 13,8 persen, atau saat ini naik sedikit 0,09 persen,” ungkap Asisten II Sekretariat Daerah Pemerintah Provinsi Nusa Barat, Ridwansyah, Kamis (8/10/2020).

Meskipun hanya mengalami sedikit penambahan, namun dengan tambahan tersebut dapat menggambarkan, NTB masih cukup bisa bertahan dengan pertumbuhan ekonomi yang masih positif di masa pandemi ini. Tetapi pertumbuhan tersebut merupakan pertumbuhan ekonomi yang semu.

Asisten II Sekretariat Daerah Pemerintah Provinsi Nusa Barat (NTB), Ridwansyah – Foto Ant

“Meskipun kami masih cukup bisa bertahan dengan pertumbuhan ekonomi yang masih positif, tetapi sesungguhnya pertumbuhan ekonomi itu menurut kami merupakan pertumbuhan yang semu, tidak inklusif karena di dalamnya didominasi oleh ekspor tambah,” jelasnya.

Menurut Ridwansyah, perekonomian yang inklusif merupakan pertumbuhan ekonomi yang juga dapat merepresentasikan pertumbuhan nyata, pada berbagai sektor terutama sektor. Dalam hal ini pertanian dan sektor pariwisata.

Sementara industrialisasi, menjadi bagian penting untuk meningkatkan nilai tambah pengelolaan produk-produk hasil pertanian, perkebunan, maupun peternakan, untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. “Kami menghindari, membatasi mengirim barang-barang atau bahan mentah keluar daerah. Kami olah dulu disini, minimal menjadi barang setengah jadi, sehingga memberikan nilai tambah dan membuka lapangan pekerjaan. Harapannya dengan adanya lapangan pekerjaan meningkatkan kesejahteraan dan otomatis menurunkan angka kemiskinan,” jelas Ridwansyah.

Dalam upaya untuk menurunkan angka kemiskinan, peran investasi sangatlah penting. Sehingga menjadi sangat penting pula untuk memastikan, tata ruang untuk investasi, untuk mendorong munculnya berbagai investasi baru. “Oleh karena itu kami berharap dalam konteks itu bagaima rencana tata ruang kita bisa menjadi pendorong bagi investasi bukan sebaliknya. Bukan tata ruang yang akhirnya menjadi penghambat investasi, tetapi harusnya dibalik. Justru tata ruang mendorong munculnya investasi,” tandasnya. (Ant)

Lihat juga...