Api Abadi Mrapen Padam, Diduga karena Pengeboran Air Tanah

Editor: Koko Triarko

SEMARANG – Padamnya api abadi Mrapen di Desa Manggarmas, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan, menjadi tanda tanya masyarakat. Terlebih, sumber api itu diketahui tidak pernah padam, meski wilayah tersebut diterpa hujan angin.

Kejadian tersebut memunculkan dugaan gas alam yang menjadi sumber bahan bakar api tersebut habis, hingga pertanda mistis terkait hal tersebut.

“Kalau soal pertanda mistis, saya tidak bisa komentar. Namun kalau kandungan gas habis, saya lebih cenderung menduga padamnya api Mrapen, karena maraknya aktivitas pengeboran air tanah di sekitar wilayah tersebut,” papar pakar Geologi Undip, Thomas Triadi Putranto, saat dihubungi, Senin (5/10/2020).

Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, -Dok: CDN

Dipaparkan, adanya pengeboran air membuat sumbatan gas di wilayah tersebut makin lebar. Apalagi, beberapa hari sebelum api abadi Mrapen tersebut padam, ada aktivitas pengeboran air tanah oleh warga, yang diikuti keluarnya air bercampur gas.

“Harus dipahami, pengaruh dari aktivitas pengeboran di sekitar lokasi api tersebut dapat berpotensi mengurangi tekanan hingga volume gas ke Api Abadi Mrapen. Hal tersebut karena pengeboran air tanah terlalu dalam dan tepat di titik gas,” tandas Sekretaris Program Studi Teknik Geologi, Fakultas Teknik Undip tersebut.

Terpisah, Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, juga menyampaikan keterangan serupa. Pihaknya menduga, aksi pengeboran menjadi menyebabkan padamnya api abadi Mrapen.

“Kita sudah menerjunkan tim dari Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk melakukan pengecekan. Selama ini, ada dua indikasi yang menyebabkan padamnya api abadi Mrapen, yakni karena memang gasnya habis atau karena adanya aktivitas pengeboran di sekitarnya,” paparnya.

Jika ternyata hal tersebut karena aktivitas pengeboran, pihaknya akan melakukan penindakan di sekitar wilayah tersebut. Hal itu ditegaskan, sebab hingga saat ini pihaknya tidak mengeluarkan izin resmi tentang pengeboran di sekitar api abadi Mrapen.

“Kalau ada pengeboran ilegal, akan ditindak. Sekarang ini tim ESDM sedang bekerja, apakah betul-betul karena cadangan habis, atau karena dibor di sekitarnya, kemudian gasnya bocor, hingga gas di titik pi Mrapen habis, akibatnya api padam,” tegasnya.

Pihaknya juga membuka opsi penyelamatan, agar bisa hidup kembali. Terlebih api abadi Mrapen selama ini sudah dikenal sebagai salah satu obyek wisata, sekaligus ikon Jateng.

Sebelumnya, api tersebut juga menjadi sumber nyala api obor beberapa kegiatan penting, seperti olah raga tingkat nasional – internasional, misalnya Pekan Olah Raga Nasional (PON), hingga untuk menyalakan obor dalam upacara Hari Raya Waisak bagi umat Budha di Jateng.

“Saya sudah minta ke tim yang diterjunkan untuk mencari kemungkinan penyelamatan. Jika memang terjadi kebocoran gas, sumber kebocoran itu bisa ditutup, agar api abadi Mrapen bisa hidup kembali. Kalau tidak bisa, ya mungkin ada rekayasa engineering yang bisa dilakukan, sehingga api bisa menyala kembali,” tegasnya.

Lihat juga...