Asupan Gizi tak Seimbang, Balita Rentan Penyakit

SURABAYA – Nutrition Officer UNICEF Field Office Java, Karina Widowati, menyatakan anak-anak usia di bawah lima tahun (balita) dengan asupan gizi tidak seimbang rentan terhadap penyakit pada saat pandemi Covid-19.

“Balita dengan gizi baik akan lebih tahan terhadap efek negatif perubahan iklim dan pandemi seperti Covid-19,” kata Karina Widowati, saat mengisi materi Makanan Sehat dan Bergizi untuk Balita di Masa Pandemi, pada acara Geliat Airlangga Webinar Series di Surabaya, Rabu (7/10/2020).

Menurut dia, preferensi makanan untuk balita seperti sekarang ini berpotensi membentuk pola makan yang tidak sehat bagi anak-anak di masa mendatang, karena saat ini kemungkinan banyak orang tua memiliki pilihan terbatas, lantaran kehilangan mata pencaharian.

Karina mengatakan, karena kehilangan mata pencaharian dan pendapatan tersebut, banyak orang tua yang sulit untuk memenuhi keberagaman minimal (hewani, nabati, biji-bijian atau umbi) makanan untuk anak-anak mereka.

Pemberian makanan yang sehat dan seimbang sejak awal kehidupan, lanjut dia, bisa mencegah timbulnya malnutrisi, seperti obesitas remaja dan anemia zat besi. Bahkan, hingga timbul penyakit degeneratif di masa depan, seperti diabetes, osteoporosis, hipertensi.

“Dalam kondisi normal saja atau bukan saat pandemi, keberagaman minimal makanan yang bisa dipenuhi untuk anak-anak masih tidak sampai 50 persen, bahkan tidak sampai 40 persen,” ujarnya.

Ia mengaku, untuk balita memang belum ada survei penelitiannya, sedangkan yang untuk remaja sudah ada dan hasilnya, memang ada perubahan preferensi makanan yang diasup.

Saat pandemi ini, remaja di Indonesia memang lebih banyak mengonsumsi makanan di rumah, namun makanan yang dikonsumsi lebih banyak berupa process food (sarden dan makanan kaleng), padahal seharusnya memperbanyak fresh food.

“Kalau yang remaja kan sudah bisa memilih sendiri, tetapi kalau yang balita ini jika berpedoman pada food security, akan mengikuti pilihan orang tuanya. Pilihan orang tua itu berkorelasi pada kemampuan daya beli. Karena tidak punya cukup uang, maka kemampuan daya beli berkurang saat pandemi ini, sehingga kemungkinan akan makin besar pula persentase berkurangnya keberagaman asupan makan balita,” katanya.

Data yang dimiliki UNICEF tahun 2017, secara global hanya 1 dari 3 anak usia 6-23 bulan yang mengonsumsi makanan yang memenuhi kriteria minimum untuk keberagaman makanan yang dikonsumsi, untuk tumbuh dan berkembang optimal. Sementara untuk bayi usia 6-11 bulan, hanya 18 persen saja yang mengonsumsi daging dan 11 persen mengonsumsi telur.

Sementara di Indonesia, menurut data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017, dari 23,8 juta balita, lebih dari 40 persen di antaranya diperkenalkan dengan makanan pendamping ASI sebelum usia 6 bulan.

“Ini berbahaya. Ini meningkatkan risiko alergi pada bayi tersebut. Ususnya belum siap. Sel-sel akan bereaksi ketika diberi asupan makanan selain ASI, karena menganggap itu benda asing. Sistem pencernaan pada bayi kurang dari 6 bulan sangat sensitif. Jika makanan padat diberikan sebelum 6 bulan, bayi akan terserang obesitas lebih tinggi di masa dewasa,” katanya.

Sebanyak 40 persen anak usia 6-24 bulan mempunyai pola makan dengan keberagaman makanan yang rendah, dan 28 persen tidak diberikan makanan dengan frekuensi dianjurkan.

“Bahkan, balita-balita dari keluarga kuintil atas, sering kali juga tidak mendapatkan variasi minimal makanan yang dianjurkan. Rendahnya kualitas pola makan pada balita di Indonesia ini merupakan ancaman besar bagi kemampuan anak untuk hidup, tumbuh dan berkembang secara optimal,” katanya.

Penanggulangan malnutrisi pada balita (anak dan remaja) melalui investasi pada pola makan sehat (keberagaman, porsi dan kualitas makanan), menurut Karina, adalah kunci bagi pencapaian tumbuh kembang anak-anak secara optimal sesuai dengan potensi yang dimilikinya, serta akan mengurangi bencana terjadinya penyakit degeneratif di masa depan. (Ant)

Lihat juga...