Babel Kembangkan Lada Putih dan Porang Sistem Tumpang Sari

BANGKA TENGAH — Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengembangkan tanaman lada putih dan porang dengan sistem tumpang sari guna meningkatkan pendapatan petani daerah itu.

“Kami berharap dengan sistem tumpang sari ini dapat meningkatkan hasil dan ekspor komoditas lada putih dan porang ini,” kata Gubernur Kepulauan Babel, Erzaldi Rosman Djohan saat penanaman porang di sela-sela tanaman lada di Namang, Rabu (21/10/2020).

Ia mengatakan pada penanaman porang di sela-sela tanaman lada perdana ini, sengaja mengundang pegiat lingkungan, petani di Desa Namang Kabupaten Bangka Tengah untuk memotivasi masyarakat untuk mengembangkan komoditas ekspor ini.

“Porang yang ditumpang sari dengan tanaman lada serta junjung hidup kayu pelawan ini merupakan inovasi pengembangan yang nanti dapat memberikan nilai lebih kepada petani lada,” ujarnya.

Menurut dia porang ini merupakan komoditi baru yang saat ini sedang tren dan diminati oleh banyak negara. Oleh karena itu, pemerintah daerah terus mendorong para petani untuk mengembangkan komoditas ini.

“Dengan adanya penandatanganan kontrak antara 200 petani dengan pihak bank ini, tentunya akan menambah semangat petani mengembangkan lada dan porang ini,” katanya.

Dalam kegiatan penanaman dan penandatangan kontrak dengan perbankan tersebut juga telah dilakukan perjanjian jual beli harga dengan “offtaker” atau pihak pembeli hasil produksi porang untuk memberikan jaminan beli. Sehingga para petani yang akan menanam porang, tidak ragu akan kemana nanti hasil produksi porangnya akan dijual.

“Penanaman porang di sela-sela tanaman lada ataupun sawit sangat memungkinkan karena jenis tanaman ini adalah tanaman tumpang sari yang membutuhkan naungan sekitar 40 persen,” katanya.

Ia menambahkan menurut pendapat ahli, porang yang dihasilkan dari tanah bangka belitung ini lebih baik dan kadar glukomanannya akan lebih tinggi.

“Menurut peneliti jenis tanah di Bangka Belitung cocok untuk penanaman porang. Hasilnya akan lebih baik dan mempunyai kandungan glukomanan yang lebih tinggi. Porang diminati banyak orang karena, menjadi bahan olahan makanan yang sehat,” ungkapnya.

Sementara itu pemilik lahan, Zaiwan mengatakan saat ini pihaknya bersama para petani sekitar Hutan Pelawan mengembangkan tanaman tumpang sari porang dengan lada dan kayu Pelawan sekitar 10 hektare lahan miliknya.

“Kita berharap 8 bulan ke depan hasilnya sudah dapat dirasakan. Dengan kebun porang, tempat ini juga akan dijadikan wisata edukasi bersama dengan komoditas lainnya,” katanya. (Ant)

Lihat juga...