Bedah Bangkai Paus Pilot Kenakan APD, Ini Alasannya

Editor: Makmun Hidayat

MAUMERE — Aksi dokter hewan melakukan pembedahan pada bangkai paus pilot yang mati di Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu (3/10/2020) lalu dengan kenakan alat pelindung diri (APD) lengkap, dianggap warga berlebihan.  Padahal itu bagian dari safety first dalam menangani satwa liar.

Warga menganggap aksi dokter hewan ini berlebihan dan mengaitkan  pemakaian APD dengan penyakit Covid-19 yang sedang merebak belakangan ini di seluruh dunia termasuk di Indonesia.

“Untuk melakukan nekropsi pada bangkai  hewan, kami harus menggunakan APD lengkap apalagi hewan berukuran besar,” sebut Kepala Bidang Kesehatan Hewan, Dinas Pertanian Kabupaten Sikka, drh. Maria Margaretha Siko, MSc, saat ditemui Cendana News, di kantornya, Rabu (14/10/2020).

Metha sapaannya menjelaskan, nekropsi merupakan tindakan melakukan pembedahan dan pemeriksaan bangkai hewan untuk mengidentifikasi penyebab kematian pada hewan tersebut.

drh. Maria Margaretha Siko, MSc saat ditemui di kantornya, Rabu (14/10/2020). -Foto: Ebed de Rosary

Ia mengatakan, masyarakat kita belum  banyak yang mengetahui bahwa 60 sampai 70 persen penyakit menular pada manusia berasal dari hewan sehingga dokter hewan dididik untuk  safety first apalagi dalam menangani satwa liar.

“Tidak banyak masyarakat yang mengetahui kenapa dalam melakukan nekropsi dokter hewan selalu menggunakan APD. Saya yakin tidak banyak yang tahu kalau penyakit HIV dan AIDS awalnya dari hewan,” ungkapnya.

Metha menegaskan, nekrospsi sama dengan otopsi pada manusia di mana petugasnya pun harus mengenakan APD saat melakukan kegiatan tersebut guna mencegah agar tertular virus dan bakteri.

Dirinya menyebutkan, pada penanganan paus pilot yang mati tersebut, bangkainya sudah mengeluarkan bau dan ada gas karbondioksida, metana dan nitrogen di dalam tubuhnya dan bisa meledak.

“Kami harus menusuk bangkainya untuk mengeluarkan gas di dalam tubuhnya dan gas tersebut beracun. Belum lagi sudah terdapat bakteri yang berkembang biak yang juga dapat menyebabkan penyakit sehingga dokter hewan yang melakukan nekropsi harus steril,” ungkapnya.

Metha mengaku memaklumi ketika masyarakat melihat dokter hewan menggunakan APD dalam penanganan bangkai paus dianggap berlebihan seolah paus tersebut terserang Covid-19.

Untuk itu ia berharap agar media bisa memberikan penyadaran kepada masyarakat mengenai pentingnya menggunakan APD saat nekropsi  sama seperti penanganan pasien Covid-19 agar dokter dan petugas medis tidak tertular penyakit ini.

“Jadi ketika melihat penggunaan APD saat petugas melakukan nekropsi bukan berarti hewan tersebut tertular Covid-19 tetapi memang prosedurnya seperti itu agar petugas yang melakukan nekprosi tidak tertular penyakit dari hewan tersebut,” terangnya.

Kepala Kantor Seksi Konvervasi Wilayah IV Maumere, BKSDA NTT, Pieter R.E. Didok menyebutkan, prosedur penanganan ikan dan mamalia laut yang dilindungi dan mati memang harus dilakukan nekropsi untuk mengetahui penyebab kematiannya.

Hal ini kata Pieter berlaku juga saat penanganan bangkai paus pilot di mana pihaknya tidak memiliki dokter hewan sehingga meminta bantuan dokter hewan dari Dinas Pertanian Kabupaten Sikka untuk melakukan nekropsi.

“Terkadang masyarakat tidak memahami dan memang sebelum dikuburkan harus dilakukan nekropsi karena paus merupakan mamalia laut yang dilindungi sehingga harus diketahui penyebab kematiannya,” ungkapnya.

Lihat juga...