Begini Cara Agar Inseminasi Buatan pada Ternak, Berhasil

Editor: Koko Triarko

SEMARANG – Inseminasi Buatan (IB) atau kawin suntik, menjadi pilihan bagi peternak di Semarang untuk meningkatkan angka kelahiran ternak dengan cepat dan teratur. Namun di satu sisi, pemahaman peternak akan inseminasi yang relatif masih rendah menjadi kendala.

“IB merupakan suatu cara atau teknik untuk memasukkan semen beku sexing-sperm yang telah dicairkan dan telah diproses terlebih dahulu, yang berasal dari ternak jantan ke dalam saluran alat kelamin betina dengan menggunakan metode dan alat khusus yang disebut ‘insemination gun’. Ini yang kemudian muncul istilah kawin suntik pada ternak,” papar inseminator sekaligus dosen Fakultas Peternakan dan Pertanian (FPP) Undip, Daud Samsudewa, saat ditemui di Semarang, Senin (12/10/2020).

Inseminator sekaligus dosen Fakultas Peternakan dan Pertanian (FPP) Undip, Daud Samsudewa, saat ditemui di Semarang, Senin (12/10/2020). -Foto: Arixc Ardana

Dipaparkan, IB tersebut bertujuan untuk memperbaiki mutu genetika ternak dan meningkatkan angka kelahiran dengan cepat dan teratur.

“Selain itu, keuntungannya lebih mudah dan praktis, sebab tidak perlu membawa langsung ternak pejantan unggul. Kemudian juga mengoptimalkan penggunaan bibit pejantan unggul, secara lebih luas dalam jangka waktu yang lebih lama, karena berbentuk semen beku,” tambahnya.

Daud menjelaskan, agar IB tersebut berhasil, ada sejumlah faktor yang perlu diperhatikan.

“Keberhasilan IB salah satunya tergantung pada kondisi birahi sapi. Identifikasi birahi (estrus) dan waktu pelaksanaan IB yang tepat, akan berpengaruh pada kebuntingan ternak. Jika lewat waktunya, maka persentase keberhasilan akan berkurang,” tambahnya.

Ditegaskan, IB harus dilakukan saat sapi birahi, karena pada saat itu liang leher rahim (servix) pada posisi yang terbuka.

Kemungkinan terjadinya kebuntingan, bila diinseminasi pada saat puncak birahi juga tinggi. Berdasarkan penelitian, permulaan birahi persentase keberhasilan sekitar 44 persen, pertengahan birahi 82 persen, akhir birahi 75 persen.

Sementara, jika IB dilakukan 6 jam sesudah birahi keberhasilannya 62,5 persen, 12 jam sesudah birahi 32,5 persen,18 jam sesudah birahi 28 persen, sedangkan jika 24 jam sesudah birahi, persentasenya hanya 12 persen.

“Pemahaman tersebut yang terkadang kurang dipahami oleh peternak. Jadi peternak harus tahu, kapan ternak sapinya birahi. Tanda-tanda sapi birahi, misalnya gelisah, keluar lendir, hingga terjadi perubahan warna vulva menjadi merah, bengkak dan suhu meningkat. Jika peternak mendapati hal tersebut, tandanya sapi tersebut tengah birahi, bisa segera memberitahukan inseminator, agar bisa secepatnya dilakukan IB,” tandas Daud.

Tidak hanya itu, keberhasilan IB juga harus didukung dengan pemenuhan pakan ternak yang cukup dari segi konsentrat, mineral dan unsur hijauan, seperti rumput.

Secara umum, ada 4 faktor yang perlu diperhatikan untuk mendukung kesuksesan IB, yakni kualitas semen yang digunakan, kondisi sapi betina, dukungan dan pengetahuan peternak dalam IB, serta kemampuan atau integritas inseminator.

Terpisah, salah satu peternak sapi di kawasan Kelurahan Tembalang, Kota Semarang, Jayadi, mengaku IB menjadi pilihannya dalam memperbanyak kelahiran ternak.

“Pilihan ini karena lebih murah dibanding harus mendatangkan sapi pejantan, apalagi kondisi birahi datang setiap 21 hari sekali. Kemudian, tingkat keberhasilannya juga relatif lebih tinggi dibanding kawin langsung dengan pejantan,” jelasnya.

Sejauh ini, dari dua kali proses inseminasi buatan pada ternak yang dilakukannya, keduanya berhasil.

“Dua kali inseminasi dua kali berhasil. Hasilnya juga sudah saya jual, dua atau tiga pedet bisa dapat sapi dewasa satu, untuk penggemukan. Jadi, juga lebih menguntungkan,” pungkasnya.

Lihat juga...