Belajar Mengaji di Musala, Cara Anak Pedesaan Isi Waktu Luang

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Berhentinya sementara waktu dari aktivitas di sekolah selama masa pandemi Covid-19 tidak menghalangi kesempatan untuk belajar anak-anak.

Ustaz Nairul Fahmi, pengajar mengaji anak-anak di Dusun Kayu Tabu, Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni, Lampung Selatan menyebut, kegiatan belajar agama masih rutin dilakukan.

Ustaz Nairul Fahmi, guru mengaji di Musala Nurul Huda menerima bantuan buku dari Ardy Yanto, pegiat pustaka di Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni, Lampung Selatan, Jumat sore (23/10/2020) – Foto: Henk Widi

Isi waktu luang selama masa pandemi Covid-19 kegiatan menimba ilmu agama sangat penting. Sebab selama masa pembelajaran jarak jauh (PJJ) anak-anak dominan menggunakan smartphone.

Masih dalam suasana hari santri, Nairul Fahmi menekankan pada anak-anak, nyantri merupakan kegiatan belajar nilai nilai keagamaan. Meski tidak dalam bangunan fisik pesantren, mengaji di musala jadi bagian kegiatan nyantri.

Memanfaatkan teras musala dan bagian dalam musala Nurul Huda, Nairul Fahmi mengajar sejumlah materi. Materi yang diajarkan sebutnya meliputi pengenalan huruf hijaiyah, juz amma, katam Alquran dan sejumlah materi sejarah. Sesuai dengan usia anak yang belajar materi diberikan bertujuan mengajak anak belajar agama.

“Saat sore hari anak-anak yang sebelumnya hanya bermain kini memiliki waktu yang lebih bermanfaat untuk belajar agama dengan sejumlah pelajaran yang bisa meningkatkan akhlak, mendalami Alquran dan juga nilai-nilai pergaulan Islami,”  terang Nairul Fahmi saat ditemui Cendana News, Jumat sore (23/10/2020).

Orang tua yang anaknya belajar di musala Nurul Huda ikut mendukung kegiatan belajar. Sebanyak 50 anak yang belajar sebutnya dibagi dalam beberapa tingkatan. Dibantu oleh anak-anak yang lain yang lebih dewasa, kegiatan mengenal huruf hijaiyah. Anak-anak yang lebih dewasa  mendapat materi bacaan salawat, tajwid, sejarah nabi hingga kataman Alquran.

Kecintaan akan pendidikan generasi muda sebut Nairul Fahmi, membuat ia tetap setia mengajar. Kegiatan mendalami ilmu agama sebutnya, menjadi bagian dari mendirikan Tempat Pendidikan Quran (TPQ). Sebab dalam zaman modern kecenderungan anak bermain gawai berpotensi mengakibatkan anak-anak melihat hiburan tidak sehat.

“Orang tua yang menitipkan anak untuk belajar di musala juga sangat mendukung sehingga anak lebih fokus belajar agama,” cetus Nairul Fahmi.

Dukungan pada kegiatan belajar agama di musala Nurul Huda diberikan oleh Ardy Yanto, pegiat literasi perpustakaan bergerak. Sebagai pegiat literasi Motor Perahu Pustaka, ia menyalurkan sejumlah bantuan buku keagamaan. Cerita dongeng para nabi, dongeng tentang kisah inspiratif tokoh suci, wali di Indonesia jadi bahan bacaan untuk anak-anak mengaji.

“Donatur yang memberikan puluhan buku juz amma dan Alquran saya salurkan ke sejumlah musala salah satunya di Nurul Huda,” cetusnya.

Selama masa pandemi corona, Ardy Yanto menyebut, kegiatan belajar agama sangat diperlukan. Sebab berkurangnya aktivitas belajar tatap muka berganti dengan sistem dalam jaringan berimbas pada kecenderungan anak bermain gawai.

Membaca buku fisik berkaitan dengan ilmu keagamaan kerap kurang diminati. Terlebih momen hari santri jadi kesempatan mengajak anak mendalami ilmu agama.

Lihat juga...