Bengkel Misi Keuskupan Maumere Ciptakan Alat Pemilah Cengkih

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Cengkih merupakan salah satu komoditi perkebunan yang banyak terdapat di beberapa kecamatan di Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur.  Namun, para petani di daerah ini masih menggunakan tenaga manusia untuk memisahkan biji cengkih dengan tangkainya, sehingga membutuhkan waktu lama dan banyak tenaga manusia.

Untuk memudahkan petani memisahkan biji cengkih dan daun serta batangnya, Bengkel Misi Keuskupan Maumere, melalui PT. Langit Laut Biru, memproduksi alat pemilah cengkih manual dengan sistem kerja sederhana.

“Kami baru menciptakan mesin ini  yang merupakan alat pemilah cengkih manual. Alat ini bisa memudahkan petani memilah batang cengkih, daun dan bijinya,” sebut A. Dian Setiati, GM PT. Langit Laut Biru, saat ditemui Cendana News di bengkel misi, Selasa (13/10/2020).

General Manager PT. Langit Laut Biru, Keuskupan Maumere, Kabupaten Sikka,  NTT, A. Dian Setiati, saat ditemui di kantornya, Selasa (13/10/2020). -Foto: Ebed de Rosary

Dian menjelaskan, inovasi menciptakan alat pemilah cengkih ini setelah melihat kesulitan petani untuk memisahkan biji cengkih dengan daun dan batangnya setelah selesai panen.

Proses ini, kata dia, membutuhkan waktu yang lama dan melibatkan banyak orang. Padahal, satu petani bisa mempunyai puluhan pohon, bahkan ratusan pohon cengkih di kebunnya yang harus dipisahkan bijinya setelah dipanen.

“Kalau menggunakan tenaga manusia butuh waktu lama. Sementara dengan alat pemilah cengkih, mudah terpisah antara bijinya, batang cengkih berukuran besar dan kecil serta daunnya,” ungkapnya.

Dian menyebutkan, alat pemilah cengkih ini memiliki dimensi 150 X 70 X 100 dengan berat 60 kilogram, yang memiliki kapasitas produksi 200 kilogram cengkih per jam.

Ia menambahkan, alat yang diproduksi ini terbuat dari besi siku dan stainlesssteel, dan hanya butuh satu orang untuk mengoperasikannya.

“Kami baru buat satu unit dan langsung dibeli, sehingga kami akan memproduksinya lagi bila ada pesanan dari petani. Inovasi yang kami lakukan untuk memudahkan petani dan harga jualnya pun terjangkau oleh petani,” ungkapnya.

Yanuaris Sani, salah seorang petani cengkih yang ditemui mengatakan, para petani cengkih selama ini kesulitan untuk mencari tenaga kerja saat panen cengkih. Sebab, harus memanjat dan memetiknya dengan membayar biaya minimal Rp5.000 per kilogramnya.

Setelah dipetik, kata Yanuaris, cengkih masih harus dipisahkan dari batangnya untuk mendapatkan biji cengkih, yang prosesnya harus dilakukan manual melibatkan banyak orang.

“Untuk memisahkan biji cengkih dari batangnya, kami harus membayar lagi tenaga kerja sebesar Rp1.000 per kilogramnya. Kalau sedang panen bersamaan, kami kesulitan mencari tenaga kerja untuk memetik dan memilah biji cengkih,” tuturnya.

Lihat juga...