Bibit Berkualitas Maksimalkan Produktivitas Buah Petani Lamsel

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Pemilihan bibit berkualitas jadi cara meningkatkan produktivitas tanaman buah. Seperti bibit tanaman varietas cepat berbuah, berbatang pendek dan produktivitas banyak jadi pilihan dari masyarakat yang memiliki lahan terbatas.

Nining Purwanti, salah satu warga Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan menyebutkan, jenis tanaman buah yang ditanam cukup beragam. Nangkadak atau nangka mini, alpukat miki, pisang tanduk, pepaya calina dan tanaman buah lainnya.

“Buah nangkadak memiliki keistimewaan berbuah sepanjang musim karena ada tahap berbunga, babal hingga matang, pemanenan secara bertahap akan mendorong produksi buah lanjutan sehingga bisa terus menghasilkan,” terang Nining Purwanti saat ditemui di kebunnya, Senin (12/10/2020).

Ciri khas nangkadak sebut Nining Purwanti berbentuk bulat dan oval. Aroma wangi saat matang persis dengan cempedak sehingga digemari. Peminat nangkadak matang dominan merupakan penjual minuman segar sebagai pengharum aroma. Dalam kondisi matang bisa dijual Rp25.000 per buah.

Selain nangkadak,buah hasil bibit berkualitas yang ditanam jenis alpukat miki. Jenis tersebut merupakan varietas yang cepat berbuah.

“Buah sebagian untuk konsumsi keluarga daripada harus membeli bisa diperoleh dari hasil kebun,” cetusnya.

Sebagian tanaman buah dijual dengan sistem borongan atau tebas. Satu pohon alpukat dengan estimasi hasil mencapai tiga kuintal kerap ditebas dengan harga Rp2,5 juta. Sebab sesuai estimasi hasil produksi buah yang dijual dengan harga Rp10.000 perkilogram bisa mencapai 3 kuintal dengan hasil kotor mencapai Rp3 juta bagi pedagang.

Petani lain, Sahbana memilih menanam buah berkualitas jenis alpukat sipit asia, mentega dan miki. Tahap selanjutnya ia melakukan penanaman buah alpukat jenis aligator. Sistem sambung pucuk atau grafting sebutnya jadi cara untuk mendapatkan buah melimpah pada tanaman yang dihasilkan.

“Saya pilih tanaman alpukat lokal yang memiliki ketahanan pada kondisi cuaca wilayah Bakauheni yang dekat pantai,” cetusnya.

Petani di Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni itu menambahkan ia memiliki sekitar seribu tanaman. Total tanaman milik petani di wilayah tersebut mencapai lebih dari 7.000 tanaman tersebar di sejumlah kebun.

Satu kali musim panen alpukat Sahbana menyebut mendapat permintaan sebanyak 2 ton. Permintaan dari sejumlah pasar di Banten, Tangerang dipenuhinya dengan membeli dari kebun warga. Pada level petani ia membeli alpukat seharga Rp8.000 hingga Rp10.000 sesuai ukuran. Pada level pe ngecer harga bisa mencapai Rp15.000 perkilogram.

“Menanam bibit berkualitas kerap mahal pada tahap pembelian namun saat panen modal akan kembali,” cetusnya.

Dukung pemanfaatan pekarangan, Sahbana menyebut menyiapkan bibit alpukat sistem grafting. Bibit buah berkualitas tersebut sebagian sudah mulai berbuah pada lahan petani. Memudahkan para petani dalam distribusi hasil pertanian ia memilih menjadi petani sekaligus pengepul. Sebab prospek bisnis pertanian sangat menjanjikan dengan permintaan terus meningkat di pasar tradisional.

Lihat juga...