Budi Daya Nila Lebih Ekonomis, DCML Argomulyo Dorong Pemanfaatan Aerator

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

YOGYAKARTA – Koperasi Sahabat Damandiri Sejahtera, Argomulyo, yang merupakan koperasi binaan Yayasan Damandiri mendorong warga Desa Cerdas Mandiri Lestari, Argomulyo, Sedayu, Bantul, untuk membudidayakan ikan nila dengan sistem teknologi aerator.

Lewat unit pelatihan yang tengah dibentuk, masyarakat  diajarkan membudidayakan ikan nila secara efektif dengan penerapan teknologi terbaru sehingga bisa memberikan keuntungan lebih besar, yang pada akhirnya mampu meningkatkan kesejahteraan mereka.

Pelaksana program budi daya ikan nila sistem aerator Koperasi Sahabat Damandiri Sejahtera Argomulyo, Supriyadi, mengklaim, sistem budi daya ikan nila dengan teknologi aerator lebih ekonomis jika dibandingkan dengan sistem kincir.

Jika biaya kebutuhan pembuatan sistem kincir mencapai Rp5 juta, maka sistem aerator hanya membutuhkan biaya sekitar Rp3-4 juta saja.

“Teknologi kincir maupun aerator sebenarnya memiliki prinsip kerja yang sama. Yakni memperbaiki dan mempertahankan kualitas air. Serta sebagai penyuplai kadar oksigen dalam air yang sangat dibutuhkan ikan,” katanya, belum lama ini.

Dengan kualitas air dan kandungan oksigen yang selalu terjaga, maka ikan nila dapat tumbuh dengan sehat di dalam kolam. Sehingga akan mampu mempercepat proses pertumbuhan dan perkembangan ikan nila itu sendiri. Yang pada akhirnya bisa mempersingkat masa panen.

“Budi daya ikan nilai biasanya membutuhkan waktu 3-4 bulan hingga masa panen. Namun dengan penerapan teknologi aerator ini, masa panen bisa lebih singkat. Yakni sekitar 2 bulan atau 70 hari saja,” katanya.

Tak hanya itu, penerapan sistem aerator ini juga diklaim Supriyadi bisa lebih menghemat biaya operasional yang harus dikeluarkan petani. Pasalnya, jika teknologi atau sistem kincir menghabiskan biaya Rp1,5 juta per bulan, maka sistem aerator hanya membutuhkan biaya sekitar Rp200 ribu per bulan untuk tagihan listrik saja.

Alat berupa aerator atau pompa udara itu sendiri juga bisa dibuat secara mandiri oleh warga dengan memanfaatkan pipa paralon serta pompa bertenaga listrik AC. Alat ini juga telah didesain sedemikian rupa sehingga bisa menyala dan mati secara otomatis pada waktu yang telah ditentukan.

“Dengan teknologi aerator ini, petani juga bisa memelihara nila dengan tingkat kepadatan jumlah ikan lebih banyak dari biasanya. Untuk kolam berukuran 5×8 bisa ditabur sekitar 4000 ekor benih,” ungkapnya.

Sebagaimana diketahui, Koperasi Sahabat Damandiri Sejahtera Argomulyo tengah berupaya mewujudkan kemandirian pangan desa, lewat sejumlah program di sektor pertanian, peternakan serta perikanan. Salah satu program unggulan adalah budi daya pertanian, perikanan, dan peternakan terpadu dengan memanfaatkan magot.

Nantinya warga didorong untuk membudidayakan magot dengan memanfaatkan sampah organik limbah rumah tangga. Sehingga hasil panen magot bisa digunakan sebagai pakan budi daya lain baik itu nila, lele, maupun ayam joper. Dengan begitu, warga bisa menekan kebutuhan pakan pabrikan, dan membuat keuntungan petani bisa meningkat.

Lihat juga...