Budidaya Sorgum Cocok Dikembangkan di NTT

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

MAUMERE — Sorgum merupakan salah satu pangan lokal selain jewawut yang sejak dahulu selalu ditanam para petani di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), terutama di lahan kering yang wilayahnya kurang subur dan biasanya untuk dikonsumsi sendiri.

Direktur Wahana Tani Mandiri (WTM) Kabupaten Sikka, NTT, Carolus Winfridus Keupung saat ditemui di kantornya, Senin (12/10/2020). Foto : Ebed de Rosary

Adanya program nasional dengan mengembangkan lahan padi dan jagung secara besar-besaran membuat lahan pertanian sorgum pun mulai berkurang, bahkan tanaman pangan lokal ini pun mulai hilang.

“Sorgum cocok dikembangkan di beberapa wilayah di Provinsi NTT yang tergolong gersang dan tandus,” tegas Direktur Wahana Tani Mandiri (WTM), Kabupaten Sikka, NTT, Carolus Winfridus Keupung saat ditemui Cendana News di kantornya, Senin (12/10/2020).

Menurut Win sapaannya, harusnya pemerintah mendorong agar lahan gersang yang tidak bisa ditanami padi dan jagung lebih baik ditanami sorgum saja, tetapi pemerintah harus menyediakan mesin perontok dan penyosoh.

“Kami juga selalu menganjurkan petani untuk mengumpulkan benih pangan lokal di wilayah dampingan kami agar bisa ditanami lagi. Kami juga mengajarkan petani melakukan kawin silang dan pemuliaahan benih lokal,” ungkapnya.

Peneliti pada Balai Penelitian Tanaman Serelia, Balitbangtan Kementan RI, Dr. Marcia Bunga Pabendon, MP saat ditanyai mengaku, dimana-mana ada tantangan pengembangan suatu komoditas sebelum melakukan budidaya.

Marcia menyebutkan, petani pasti bertanya kalau ditanam mau dijual kemana, siapa yang akan beli, harganya berapa, apakah akan terus dibeli kalau ditanam oleh petani.

“ Pertanyaan tersebut memang sangat wajar, siapa pun itu dan tidak ada yang mau rugi dengan menanam sia-sia. Namun khusus untuk NTT yang didominasi wilayah kering, namun sangat bangga mengkonsumsi beras padi beras bantuan seperti Rastra,” ungkapnya.

Marcia katakan, mungkin perlu melakukan introspeksi diri, sebab sorgum dari jaman nenek moyang mereka sebenarnya menjadi salah satu sumber pangan utama yang masih jelas terlihat di dalam setiap acara adat.

Menurutnya, di NTT sorgum selalu dihadirkan sebagai sumber pangan dan ini membuktikan bahwa mengkonsumsi sorgum sebagai pangan sangatlah wajar dan tidak aneh.

“Salah satu kunci untuk bisa kembali mengkonsumsi sorgum adalah mengikuti jejak petinggi di wilayah bersangkutan. Kalau Bupati dan petinggi lainnya mau mengkonsumsi sorgum sebagai makanan sehat, maka rakyatnya pasti mengikuti jejaknya,” ungkapnya.

Marcia tegaskan, sorgum seharusnya menjadi tanaman pangan utama di NTT terutama di wilayah lahan kering yang sulit ditanami padi dan jagung karena hasil produksinya tidak maksimal dan sering gagal panen.

Lihat juga...