Cegah Klaster Baru, Pencoblosan Dilengkapi Sarung Tangan

Editor: Makmun Hidayat

SEMARANG — Mencegah munculnya klaster Covid-19 Pilwakot Semarang 2020, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Semarang memastikan ada tata cara baru dalam proses pencoblosan surat suara. Nantinya setiap pemilih akan diberi sarung tangan plastik.

“Dalam upaya mencegah munculnya klaster Covid-19, sekaligus memberikan rasa aman bagi para pemilih sehingga mereka tidak takut untuk datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS), ada beberapa aturan baru terkait mekanisme pencoblosan surat suara,” papar Ketua KPU Kota Semarang, Henry Casandra Gultom saat ditemui di kantornya, Semarang, Selasa (13/10/2020).

Dipaparkan, nantinya setiap pemilih saat datang ke TPS, akan diberi sarung tangan plastik. Sarung tangan plastik tersebut dipakai saat di dalam lokasi, termasuk ketika di bilik suara.

“Jadi, mekanisme pencoblosan surat suara tetap menggunakan alat bantu berupa paku. Agar tidak terjadi penularan, saat mencoblos ini pemilih diwajibkan mengenakan sarung tangan plastik yang sudah diberikan,” terangnya.

Setelah selesai memberikan pilihan suara, pemilih akan menuju ke PPS untuk diberikan tinta, sebagai bukti dirinya sudah mengikuti proses pencoblosan.

“Namun berbeda dengan biasanya, jika sebelumnya pemilih mencelupkan jarinya ke tinta, pada pelaksanaan Pilwakot 2020, petugas yang akan meneteskan tinta ke jari pemilih. Tetap menggunakan tinta, namun caranya yang diubah sebagai bentuk adaptasi pencegahan Covid-19,” lanjut Henry.

Jadi secara umum, urutanya pemilih akan datang ke TPS, sebelum masuk ke lokasi mereka akan dicek suhu badannya dan diminta cuci tangan. Setelah itu, diberikan sarung tangan plastik yang wajib dikenakan di lokasi.

Selanjutnya, pemilih akan dipanggil untuk mengambil surat suara dan masuk ke bilik suara, untuk memberikan pilihannya. Setelah itu, memasukkan surat suara ke kotak suara yang sudah disediakan, kemudian menuju ke PPS. Sarung tangan plastik dilepas dan dibuang, jari pemilih lalu ditetesi tinta oleh petugas, sebagai bukti telah mengikuti proses pencoblosan.

“Kami harapkan setelah memberikan suara, pemilih bisa kembali ke rumah masing-masing agar tidak terjadi kerumunan di lokasi TPS. Termasuk pada saat penghitungan suara, diharapkan masyarakat tidak turut berkerumun. Rekapitulasi penghitungan suara rencananya akan menggunakan aplikasi Sistem Informasi Rekapitulasi (Sirekap) di tingkat TPS, sehingga masyarakat juga bisa tetap mengikuti secara daring,” tandanya.

Sementara, Komisioner KPU Kota Semarang Novi Maria Ulfah menambahkan pihaknya juga menyediakan bilik khusus, di luar lokasi TPS, yang digunakan jika ada pemilih yang tidak lolos pengecekan suhu badan.

“Jadi ada persyaratan bahwa pemilih yang bisa memasuki lokasi TPS, hanya mereka yang bersuhu badan di bawah 37,3 derajat celcius. Jika nantinya saat pengecekan, petugas menemukan pemilih dengan suhu diatas ketentuan, pemilih tetap bisa menggunakan hak suara, namun akan diarahkan ke bilik khusus,”  tambahnya.

KPU Kota Semarang dengan beragam upaya tersebut, termasuk penerapan protokol kesehatan, dengan kewajiban memakai masker dan menjaga jarak bagi pemilih, dapat mencegah penyebaran covid-19.Pelaksanaan tahapan pencoblosan dalam Pilwakot Semarang 2020, akan dilaksanakan di 3.447 TPS yang tersebar di 16 kecamatan di Kota Semarang.

Lihat juga...